Jumat, 11 Januari 2013
Rabu, 09 Januari 2013
Vagina Wanita Cantik Dalam Satu Malam
tapi malahan cerita seks pesta seks
rame-rame sama 1 keluarga. Jadi gini awal mula cerita seks tersebut. Pada bulan
Mei tersebut aku pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, tapi memang kata
orang ini berawal dari kepergianku ke jakarta untuk cari kerja. Bukannya
pekerjaan yang aku dapatkan bahwa mencari pekerjaan itu tidak semudah yang kita
duga, apalagi di kota metropolis. Pada suatu malam minggu aku tersesat pulang
dan tiba-tiba saja ada mobil sedan mewah menghampiriku. Terus dia berkata,
“Hey.. kok.. melamun?” katanya.
Aku sangat kaget sekali ternyata yang menyapaku itu adalah seorang wanita cantik dan aku sempat terdiam beberapa detik.
“Eee.. Ditanya kko masih diam sih?” wanita itu bertanya lagi. Lalu aku jawab,
“Ii.. nii.. Tante aku tersesat pulang nih?”
“Ooohh.. Mendingan kamu ikut Tante saja yah?”
“Kemana Tante?” tanyaku.
“Gimana kalau ke rumah Tante aja yah?” karena aku dalam keadaan bingung sekali dan tanpa berpikir apa-apa aku langsung mengiyakannya.
Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta.
Walaupun aku baru pertama kenal, tapi aku sama bidadari-bidadari yang pada cantik ini rasanya sudah seperti seseorang yang telah lama berpisah. Lalu kami berlima menonton acara TV yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama Tante Mey, rasanya Tante ini enggak tenang dan merasa gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku disampingnya, namun Tante rupanya malu sama anak-anaknya. Tiba-tiba Tante berkata,
“Hanny, Sherly, Poppy cepat tidur sudah malam?” yang memang pada waktu itu menunjukkan jam 10.30.
“Memangnya kenapa Mami, filmnya kan belum selesai”, kata Mbak Hanny.
Memang dia kelihatannya sudah matang betul dan apa yang akan dilakukan Maminya terhadap aku? Lalu mereka bertiga masuk ke kamarnya masing tapi Sherly dan Poppy tidur satu kamar. Dan kejadian kurang lebih tiga bulan yang lalu terulang lagi dan sungguh diluar dugaan aku.
“Nah dewa sekarang tinggal kita berdua”, katanya.
“Mrmangnya ada apa tuh Tante?” kataku heran.
“Dewa sayang, Tante enggak bisa berbuat bebas terhadap kamu karena Tante malu sama anak-anak,” begitu timbalnya.
“Dewa mendingan kita ke kamar Tante aja yah, please.. temanin Tante malam ini sayang, Tante sudah lama sekali enggak dijamah sama laki-laki”, sambil memeluk aku dan memohon,
“Yah sayang? Mau kan?” katanya lagi
“Ii.. Yaa, mau.. Tante?” jawabku gugup. Karena Tante sudah mau menolongku.
Tiba di kamar Tante rupanya enggak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku, lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah. Hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD saja dan tante Mey tinggal BH dan CDnya. Tante sempat menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku supaya semakin nafsu. “Wahh..!! Gile benar nih Tante, kok kayak masih umur 23 tahun saja yah?” gumamku dalam hati. Itu tuh.. Kayak Mbak Hanny anaknya yang pertama. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi vaginanya masih bagus dan bersih. Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Tante menari-nari.
Tante langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang, juga kedua payudaranya ke dadaku. “Ooohh.. terus.. Tante, gesek.. dan.. Goyang.. yang kerass.. aahh.. oohh..” desahku.
“Dewa sayang itu penismu sudah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaginaku cinta,” kata Tante Mey.
Lalu kami berdua tanpa ba.. bi.. bu.. langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Tante Mey yang merah merekah dan sudah sangat basah sekali, mungkin sudah terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Lalu aku menjilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan kritorisnya. Tante mengerang.
“Ooohh.. Eennaakk.. Dewaa.. sayang.. terus.. makan vagina Tante yahh..?”
Begitu juga dengan aku, penis rasanya sudah enggak tahan banget ingin masuk ke lobang vagina kenikmatannya.
“Ooohh.. yahh.. eenaakk terus.. Tante.. yang cepet kocokkannya..?”
Cclluup.. Ccluupp.. Suara penisku didalam mulutnya.
“Dewa, vagina Tante sudah enggak tahan lagi sudah cepet lepasin, cepet masukin saja penis kamu cinta?” Tante Mey meringis memohon.
Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..
“Awww.. Yeeahh.. Ssaakiitt.. De.. Waa?”
“Kenapa Tante?”
“Pelan-pelan sayang, vaginaku kan sudah lama enggak dientot?”
“Ooohh..?” jawabku.
“Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis,” katanya.
Selang beberapa menit,
“Nah Dewa, sekarang kamu boleh masukin dan entot vagina Tante sampai puas yah?”
“Ssiipp.. Siap..!! Tante Mey?”
Memang benar vagina Tante rupanya sudah lama enggak dimasukin penis lagi, terbukti aku sampai 3 kali hentakan. Bleess.. Bless.. Bblleess.. Akhir aku masukin semuanya penisku ke vaginanya. Tiga kali juga tente Mey menjerit.
“Dewa genjot dan kocok vaginaku sayang?” lalu aku mulai memasuk keluarkan penisku dari lambat sampai keras dan cepat sekali. Tante Mey mengerang dan mendesah.
“Ooohh.. ahh.. enak.. sekalii.. penis kamu Dewaa.., akhirnya vagina Tante ngerasain lagi penis.. terus.. Entot vagina Taann.. tee.. Dewaa.. Sayaanngg..?” ceracaunya.
“Uuuhh.. Oohh.. Aaahh.. Yeess.. Ennaakk.. vagina Tante seret sekalii.. Kaya vaginanya perawan?” timbalku.
Tiba-tiba, “Dewaa.. Aku mau keluar nih? penis kamu hebatt..?”
“Tunggu Tante sayang, aku juga mau keluar nih..?”
Akhirnya Tante Mey orgasme duluan. Crott.. Ccroott.. Crroott.. Banyak sekali cairan yang ada dalam vaginanya, rasanya penisku hangat sekali.
“Tante aku mau keluar nih..?” kataku, “Dimana nih keluarinnya..?”
“Didalam vagina Tante saja Dewaa.. Please.. ingin air mani kamu yang hangat..?”
Ccrett.. Ccroott.. Ccrroott..
“Aaarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Mmhh.. Nikmat vagina Tantee..?” erangku.
Lalu aku dan tente tidur pulas, karena kecapaian akibat pertempuran yang sengit tadi. Sekitar jam 12 malam rasanya penisku ada yang mengulum dan mengocoknya. Ternyata Mbak Hanny,
“Ada apa Mbak?” tanyaku.
Wah gila dia, sambil mengocok penisku didalam mulutnya, tangan kirinya menusuk-nusuk vaginanya sendiri. Dia berkata,
“Dewa aku ingin dong dientot kaya mami tadi, yah.. please..”
Dia mempertegas, “Dewa tolong Mbak yah sayang, vagina Mbak juga sudah kangen enggak ngent*t lagi, Mbak baru putus sama pacar habis enggak muasin vagina Mbak,” sambil membimbing tangan kananku untuk mengelus-elus vaginanya.
“Iyah deh Mbak, aku akan berusaha dengan berbagai cara untuk dapat membuat vagina Mbak jadi ketagihan sama penis aku,” jawabku vulgar.
“Kita entotannya dilantai karpet aja yah?” kata Mbak Hanny. Tapi masih di kamar tersebut, “Aku takut mengganggu Mami yang habis kamu entotin vaginanya, entar Mami bangun lagi kalau ngent*tnya diranjang,” dia mempertegas.
Mbak Hanny langsung telanjang bulat. Kami pun bercumbu, saling menjilat, mencium, menghisap seperti biasa, dengan gairah yang sangat menggelora sekali. Dan sekarang aku mulai memasukkan penisku ke lubang vaginanya, karena dia sudah gatel banget lihat tadi aku ngent*tin Maminya. Maka aku langsung aja, masukkan penisku. Bleess.. Bless.. Bleess..
“Aw.. Oohh.. Aahh.. Yyeess..?” erangnya.
“Sakit Mbak?” tanyaku.
“Enggak cinta, terusin saja enak banget kok?”
Aku langsung mengkocoknya, plak.. plakk.. plokk.. plookk..? suara paha kami berdua beradu..?
“Vagina Mbak enaakk.. Sekali sih..?” sambil aku menggoyangkan pinggulku, terus dia juga mengimbangi goyanganku dengan arah yang berlawanan sehigga benar-benar tenggelam seluruh penisku ke dalam vagina surga kenikmatannya.
“Oohh.. ennak.. Dee.. waa.. terus.. entot.. mee.. meekk.. Mmbaakk.. sayyaanngg..?”
Akhirnya akupun ngent*t lagi sama vaginanya Mbak Hanny, tapi Maminya enggak sedikitpun bangun mungkin capek main sama aku, habis aku bikin tubuhnya dan vaginanya melayang-layang. Lagi asyik-asyiknya ngent*tin vaginanya Kak Hanny, tiba-tiba terdengar suara.
“Iiihh.. Kakak lagi ngapain?” mendengar suara tersebut, aku terkejut. Rupanya Shelly dan Poppy sedang asyik dan santainya melihat aku ngent*t sama kakaknya.
Aku langsung aja berhenti dan seketika itu juga Mbak Hanny berkata,
“Dewa kenapa, kok berhenti sayang, terus dong entot vagina Mbak, sampai enak dan nikmat sekalii..?”
“Ii.. ittuu.. ada..?”
“Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara,
“Eehh.. adik-adikku ini bandel sekali yah..!!”
Setelah dia tahu bahwa aku berhenti karena ada adik-adiknya yang sama sudah telanjang bulat. “Heyy.. kenapa kalian ikut-ikutan telanjang?” kata Mbak Hanny.
“Kak aku ingin ngerasain dientot yah?” tanya Shelly sama kakaknya.
“Iyah nih Kakak kok pelit sih.. aku juga sama Kak Shelly ingin juga ngerasain penisnya Mas Dewa,” timbal poppy.
“Iyah kan Kak?” tanya poppy pada Shelly.
“Iyah nih.. Gimana sih..?” timbal Shelly.
“Please dong Kak? Rengek kedua anak tersebut?” terus mungkin sudah terlanjur mereka berdua melihat kakaknya ngent*t dan sudah pada bugil semuanya, maka Kak Hanny membolehkannya.
“Iyah deh kamu berdua sudah telanjur bugil dan lihat kakak lagi dientot vaginanya sama penis Dewa?”
“Sini jangan ribut..” kata Kakaknya lagi, “Tunggu kakak keluar, yah.. entar kamu juga bakal kebagian adikku manis” Tanya kakaknya.
“Dewa cepetan kocokannya yang lebih keras lagi.. Kasihan vagina kedua adikku ini sudah pada basah.. tuhh..”
Akhirnya aku dan Mbak Hanny pun mempercepat ngent*tnya kayak dikejar-kejar hantu. Dan akhirnya orgasme secara bersamaan.
“Aaarrgh.. Oohh.. Mmhh.. Aarrgghh.. Enak.. Sekalii.. cintaa? Aku sudah keluar Dewa..?” erangan Mbak Hanny.
“Aku juga sama Mbakk.. Rasanya penisku hangat sekali”
Setelah berhenti beberapa menit, lalu kedua anak abg ini mulai membangkitkan lagi gairahku, Shelly kakaknya lagi asyik mengocok penisku dalam mulut dan bibirnya yang sexy sedangkan Poppy mencium bibirku habis-habisan sampai kedua lidah kami saling bertautan dan aku pun tak tinggal diam, aku mulai meremas-remas toketnya yang sedang seger-segernya seperti buah yang baru matang.
Akhirnya kembali lagi aku ngent*tin vagina adiknya yang masih perawan. Yang pertama kuentot vaginanya sherly yang kelas 1 SMU. Aku sangat kesulitan memasukan penisku karena vaginanya masih sempit dan perawan lagi.
“Benar nih, vagina kamu mau aku masukin?” tanyaku dengan penuh kelembutan, perhatian dan kasih sayang.
“Mau sekali Kak..?” jawabnya.
“Aku dari tadi sudah kepengen banget, ingin ngerasain gimana sih kalau vagina aku dimasukin penis Mas dewa? Kelihatannya Kak Hanny enak dan nikmat banget, waktu Kakak lagi ngent*tin dia?” jawab polosnya.
Lalu aku suruh dia diatas aku dibawah dan akhirnya dia memasukan juga. Bles.. Bless.. Bbleess..
“Aw.. Aahh.. Ohh.. Kak.. sudah.. Masuk belumm..?” sambil dia mengedangah ke atas, bibir bawahnya digigit lalu kedua payudaranya dia remas-remas sendiri sambil dia menekan pantatnya kebawah.
“Tekan lagi cinta masih kepalanya yang masuk?”
Akhirnya dengan dibantu aku memegang pantatnya kebawah, akhirnya masuklah semuanya.
“Aahh.. oohh.. yeeahh.. masuk semuanya yah kak?” katanya.
“Iyah Shelly sayang, gimana enak kan?” tanyaku sambil aku mencoba menggenjotnya.
“Enak.. sekali.. Kak Dewa..”
“Ini belum seberapa Selly. Ntar kamu akan lebih nikmat lagi?” lalu aku kocok vaginanya dan akhirnya dia orgasme duluan. Creett.. Creett.. Ccroott..
“Aakk.. saayyaanngg.. aa.. kuu.. mau.. keluar nihh..” eranganya.
Sambil memelukku erat-erat dan pantatnya ditahan ke belakang karena dia ada diatas, lalu aku pun sama menghentakkan pantatku ke depan, arah yang berlawanan supaya dia benar-benar menikmatinya, penisku tertekan lebih dalam lagi ke lubang vaginanya. Dia langsung lemes sementara aku belum orgasme dan kulihat Poppy sedang dioral vaginanya sama kakaknya, Mbak Hanny.
“Sudah dong kak..?” kataku pada Mbak Hanny.
“Kasihan tuhh.. vagina Poppy sudah ingin banget ngerasain di tusuk sama penisku ini?” kataku lagi
“Iyah Kak Hanny, sudah dong kak?” kata Poppy.
“Aku sudah enggak tahan sekali dari tadi lihat Kak Shelly dientot sama penisnya Dewa, sepertinya nikmat dan enak sekali?” katanya memohon agar Kak Hanny melepaskan oralnya di dalam vaginanya.
Akhirnya kami berempat mulai perang lagi, aku mau masukin penisku ke vaginanya Poppy sambil nungging (doggy style) kemudian Poppy menjilat vaginanya Mbak Hanny dan Mbak Hanny menjilat vaginanya Shelly yang sudah seger lagi.
“Wah.. seretnya bukan main nih vaginanya Poppy, dia masih kelas 1 SMP jadi lebih sempit dibanding kakak-kakaknya dan cengkramannya pun sangat kuat sekali.”
“Bleess.. Bless.. Bleess..”
“Awww.. Awww.. Ooohh.. Ooohh..” Poppy menjerit lagi setiap aku mau memasukkan lagi penisku.
“Sakit yah?” tanyaku sambil aku meremas-remas payudaranya.
“Ii.. Iyah.. kak.., Tapi kok enak banget sih? terusin aja Kak Dewa.. Vagina poppy rasanya ada yang mengganjal dan rasanya hangat dan berdenyut-denyut,” katanya.
Sambil merem melek karena aku mulai menggenjot vaginanya.
“Oohh.. terruuss.. aakk.. saayyaang.. p.. vaginanya Poppy yah..” ceracaunya.
Dan rasanya dia mulai juga menggoyangkan pinggulnya.
“Tenang cinta.. aku.. akan.. berusaha.. muasin vaginanya dik.. Poppy.. Yah..”
Dan akhirnya aku ngent*t vagina keempatnya. Lalu aku dengar dia berkata,
“Aku mau keluar nih?”
“Sabar taahann.. duu.. Luu.. Yah..”
Namun baru sekali ini vaginanya dientot dia tak bisa nahan dan..
Crott.. Croott..
“Aarhhgg, eemmhh.. oohh.. yeeaass..nikmat banget aakh..?” eranganya.
“Makasih.. Yah kak..?” sambil dia tersenyum.
“Aku.. pipisnya kok.. enggak biasanya, tapi enak banget sih.”
“Aku mau keluar nih, dimana sayang?” tanyaku.
“Aakkh.. didalam vaginaku aja yah.. Aku ingin ngerasain.. Gimana di siram air mani penis..”
Ccrroott.. Crroott.. Crott..
Akhirnya aku tumpahkan ke dalam lobang vaginanya dan sebagian lagi kuberikan sama Kak Hanny dan Shelly.
Gile.. Benerr.. sekali ngent*t dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante.
“Hey.. kok.. melamun?” katanya.
Aku sangat kaget sekali ternyata yang menyapaku itu adalah seorang wanita cantik dan aku sempat terdiam beberapa detik.
“Eee.. Ditanya kko masih diam sih?” wanita itu bertanya lagi. Lalu aku jawab,
“Ii.. nii.. Tante aku tersesat pulang nih?”
“Ooohh.. Mendingan kamu ikut Tante saja yah?”
“Kemana Tante?” tanyaku.
“Gimana kalau ke rumah Tante aja yah?” karena aku dalam keadaan bingung sekali dan tanpa berpikir apa-apa aku langsung mengiyakannya.
Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta.
Walaupun aku baru pertama kenal, tapi aku sama bidadari-bidadari yang pada cantik ini rasanya sudah seperti seseorang yang telah lama berpisah. Lalu kami berlima menonton acara TV yang pas pada waktu itu ada adegan panasnya, dan aku curi pandang sama Tante Mey, rasanya Tante ini enggak tenang dan merasa gelisah sepertinya dia sudah terangsang akan adegan itu, ditambah ada aku disampingnya, namun Tante rupanya malu sama anak-anaknya. Tiba-tiba Tante berkata,
“Hanny, Sherly, Poppy cepat tidur sudah malam?” yang memang pada waktu itu menunjukkan jam 10.30.
“Memangnya kenapa Mami, filmnya kan belum selesai”, kata Mbak Hanny.
Memang dia kelihatannya sudah matang betul dan apa yang akan dilakukan Maminya terhadap aku? Lalu mereka bertiga masuk ke kamarnya masing tapi Sherly dan Poppy tidur satu kamar. Dan kejadian kurang lebih tiga bulan yang lalu terulang lagi dan sungguh diluar dugaan aku.
“Nah dewa sekarang tinggal kita berdua”, katanya.
“Mrmangnya ada apa tuh Tante?” kataku heran.
“Dewa sayang, Tante enggak bisa berbuat bebas terhadap kamu karena Tante malu sama anak-anak,” begitu timbalnya.
“Dewa mendingan kita ke kamar Tante aja yah, please.. temanin Tante malam ini sayang, Tante sudah lama sekali enggak dijamah sama laki-laki”, sambil memeluk aku dan memohon,
“Yah sayang? Mau kan?” katanya lagi
“Ii.. Yaa, mau.. Tante?” jawabku gugup. Karena Tante sudah mau menolongku.
Tiba di kamar Tante rupanya enggak bisa nahan lagi nafsunya dia langsung mencium seluruh tubuhku, lalu kami berdua tanpa terasa sudah seperti sepasang kekasih yang sudah lama pisah. Hingga kami berdua sudah setengah bugil, aku tinggal CD saja dan tante Mey tinggal BH dan CDnya. Tante sempat menari-nari di depanku untuk membangkitkan gairahku supaya semakin nafsu. “Wahh..!! Gile benar nih Tante, kok kayak masih umur 23 tahun saja yah?” gumamku dalam hati. Itu tuh.. Kayak Mbak Hanny anaknya yang pertama. Sungguh indah tubuhnya, payudara yang besar, kencang dan sekel sekali, pinggulnya yang sexy dengan pantat yang runcing ke atas, enak kalau dientot dari belakang? Terus yang paling menggiurkan lagi vaginanya masih bagus dan bersih. Itu gerutuku dalam hati sambil melihat Tante menari-nari.
Tante langsung menindihku lalu mencium bibirku dengan ganasnya lalu aku juga membalasnya, Tante menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku yang mulai tegang, juga kedua payudaranya ke dadaku. “Ooohh.. terus.. Tante, gesek.. dan.. Goyang.. yang kerass.. aahh.. oohh..” desahku.
“Dewa sayang itu penismu sudah bangun yah, rasanya ada yang menganjal di vaginaku cinta,” kata Tante Mey.
Lalu kami berdua tanpa ba.. bi.. bu.. langsung melakukan 69, dengan jelas terlihat vagina Tante Mey yang merah merekah dan sudah sangat basah sekali, mungkin sudah terangsang banget karena tadi habis menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku. Lalu aku menjilat, mencium dan menghisapnya habis-habisan, kupermainan kritorisnya. Tante mengerang.
“Ooohh.. Eennaakk.. Dewaa.. sayang.. terus.. makan vagina Tante yahh..?”
Begitu juga dengan aku, penis rasanya sudah enggak tahan banget ingin masuk ke lobang vagina kenikmatannya.
“Ooohh.. yahh.. eenaakk terus.. Tante.. yang cepet kocokkannya..?”
Cclluup.. Ccluupp.. Suara penisku didalam mulutnya.
“Dewa, vagina Tante sudah enggak tahan lagi sudah cepet lepasin, cepet masukin saja penis kamu cinta?” Tante Mey meringis memohon.
Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..
“Awww.. Yeeahh.. Ssaakiitt.. De.. Waa?”
“Kenapa Tante?”
“Pelan-pelan sayang, vaginaku kan sudah lama enggak dientot?”
“Ooohh..?” jawabku.
“Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis,” katanya.
Selang beberapa menit,
“Nah Dewa, sekarang kamu boleh masukin dan entot vagina Tante sampai puas yah?”
“Ssiipp.. Siap..!! Tante Mey?”
Memang benar vagina Tante rupanya sudah lama enggak dimasukin penis lagi, terbukti aku sampai 3 kali hentakan. Bleess.. Bless.. Bblleess.. Akhir aku masukin semuanya penisku ke vaginanya. Tiga kali juga tente Mey menjerit.
“Dewa genjot dan kocok vaginaku sayang?” lalu aku mulai memasuk keluarkan penisku dari lambat sampai keras dan cepat sekali. Tante Mey mengerang dan mendesah.
“Ooohh.. ahh.. enak.. sekalii.. penis kamu Dewaa.., akhirnya vagina Tante ngerasain lagi penis.. terus.. Entot vagina Taann.. tee.. Dewaa.. Sayaanngg..?” ceracaunya.
“Uuuhh.. Oohh.. Aaahh.. Yeess.. Ennaakk.. vagina Tante seret sekalii.. Kaya vaginanya perawan?” timbalku.
Tiba-tiba, “Dewaa.. Aku mau keluar nih? penis kamu hebatt..?”
“Tunggu Tante sayang, aku juga mau keluar nih..?”
Akhirnya Tante Mey orgasme duluan. Crott.. Ccroott.. Crroott.. Banyak sekali cairan yang ada dalam vaginanya, rasanya penisku hangat sekali.
“Tante aku mau keluar nih..?” kataku, “Dimana nih keluarinnya..?”
“Didalam vagina Tante saja Dewaa.. Please.. ingin air mani kamu yang hangat..?”
Ccrett.. Ccroott.. Ccrroott..
“Aaarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.. Mmhh.. Nikmat vagina Tantee..?” erangku.
Lalu aku dan tente tidur pulas, karena kecapaian akibat pertempuran yang sengit tadi. Sekitar jam 12 malam rasanya penisku ada yang mengulum dan mengocoknya. Ternyata Mbak Hanny,
“Ada apa Mbak?” tanyaku.
Wah gila dia, sambil mengocok penisku didalam mulutnya, tangan kirinya menusuk-nusuk vaginanya sendiri. Dia berkata,
“Dewa aku ingin dong dientot kaya mami tadi, yah.. please..”
Dia mempertegas, “Dewa tolong Mbak yah sayang, vagina Mbak juga sudah kangen enggak ngent*t lagi, Mbak baru putus sama pacar habis enggak muasin vagina Mbak,” sambil membimbing tangan kananku untuk mengelus-elus vaginanya.
“Iyah deh Mbak, aku akan berusaha dengan berbagai cara untuk dapat membuat vagina Mbak jadi ketagihan sama penis aku,” jawabku vulgar.
“Kita entotannya dilantai karpet aja yah?” kata Mbak Hanny. Tapi masih di kamar tersebut, “Aku takut mengganggu Mami yang habis kamu entotin vaginanya, entar Mami bangun lagi kalau ngent*tnya diranjang,” dia mempertegas.
Mbak Hanny langsung telanjang bulat. Kami pun bercumbu, saling menjilat, mencium, menghisap seperti biasa, dengan gairah yang sangat menggelora sekali. Dan sekarang aku mulai memasukkan penisku ke lubang vaginanya, karena dia sudah gatel banget lihat tadi aku ngent*tin Maminya. Maka aku langsung aja, masukkan penisku. Bleess.. Bless.. Bleess..
“Aw.. Oohh.. Aahh.. Yyeess..?” erangnya.
“Sakit Mbak?” tanyaku.
“Enggak cinta, terusin saja enak banget kok?”
Aku langsung mengkocoknya, plak.. plakk.. plokk.. plookk..? suara paha kami berdua beradu..?
“Vagina Mbak enaakk.. Sekali sih..?” sambil aku menggoyangkan pinggulku, terus dia juga mengimbangi goyanganku dengan arah yang berlawanan sehigga benar-benar tenggelam seluruh penisku ke dalam vagina surga kenikmatannya.
“Oohh.. ennak.. Dee.. waa.. terus.. entot.. mee.. meekk.. Mmbaakk.. sayyaanngg..?”
Akhirnya akupun ngent*t lagi sama vaginanya Mbak Hanny, tapi Maminya enggak sedikitpun bangun mungkin capek main sama aku, habis aku bikin tubuhnya dan vaginanya melayang-layang. Lagi asyik-asyiknya ngent*tin vaginanya Kak Hanny, tiba-tiba terdengar suara.
“Iiihh.. Kakak lagi ngapain?” mendengar suara tersebut, aku terkejut. Rupanya Shelly dan Poppy sedang asyik dan santainya melihat aku ngent*t sama kakaknya.
Aku langsung aja berhenti dan seketika itu juga Mbak Hanny berkata,
“Dewa kenapa, kok berhenti sayang, terus dong entot vagina Mbak, sampai enak dan nikmat sekalii..?”
“Ii.. ittuu.. ada..?”
“Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara,
“Eehh.. adik-adikku ini bandel sekali yah..!!”
Setelah dia tahu bahwa aku berhenti karena ada adik-adiknya yang sama sudah telanjang bulat. “Heyy.. kenapa kalian ikut-ikutan telanjang?” kata Mbak Hanny.
“Kak aku ingin ngerasain dientot yah?” tanya Shelly sama kakaknya.
“Iyah nih Kakak kok pelit sih.. aku juga sama Kak Shelly ingin juga ngerasain penisnya Mas Dewa,” timbal poppy.
“Iyah kan Kak?” tanya poppy pada Shelly.
“Iyah nih.. Gimana sih..?” timbal Shelly.
“Please dong Kak? Rengek kedua anak tersebut?” terus mungkin sudah terlanjur mereka berdua melihat kakaknya ngent*t dan sudah pada bugil semuanya, maka Kak Hanny membolehkannya.
“Iyah deh kamu berdua sudah telanjur bugil dan lihat kakak lagi dientot vaginanya sama penis Dewa?”
“Sini jangan ribut..” kata Kakaknya lagi, “Tunggu kakak keluar, yah.. entar kamu juga bakal kebagian adikku manis” Tanya kakaknya.
“Dewa cepetan kocokannya yang lebih keras lagi.. Kasihan vagina kedua adikku ini sudah pada basah.. tuhh..”
Akhirnya aku dan Mbak Hanny pun mempercepat ngent*tnya kayak dikejar-kejar hantu. Dan akhirnya orgasme secara bersamaan.
“Aaarrgh.. Oohh.. Mmhh.. Aarrgghh.. Enak.. Sekalii.. cintaa? Aku sudah keluar Dewa..?” erangan Mbak Hanny.
“Aku juga sama Mbakk.. Rasanya penisku hangat sekali”
Setelah berhenti beberapa menit, lalu kedua anak abg ini mulai membangkitkan lagi gairahku, Shelly kakaknya lagi asyik mengocok penisku dalam mulut dan bibirnya yang sexy sedangkan Poppy mencium bibirku habis-habisan sampai kedua lidah kami saling bertautan dan aku pun tak tinggal diam, aku mulai meremas-remas toketnya yang sedang seger-segernya seperti buah yang baru matang.
Akhirnya kembali lagi aku ngent*tin vagina adiknya yang masih perawan. Yang pertama kuentot vaginanya sherly yang kelas 1 SMU. Aku sangat kesulitan memasukan penisku karena vaginanya masih sempit dan perawan lagi.
“Benar nih, vagina kamu mau aku masukin?” tanyaku dengan penuh kelembutan, perhatian dan kasih sayang.
“Mau sekali Kak..?” jawabnya.
“Aku dari tadi sudah kepengen banget, ingin ngerasain gimana sih kalau vagina aku dimasukin penis Mas dewa? Kelihatannya Kak Hanny enak dan nikmat banget, waktu Kakak lagi ngent*tin dia?” jawab polosnya.
Lalu aku suruh dia diatas aku dibawah dan akhirnya dia memasukan juga. Bles.. Bless.. Bbleess..
“Aw.. Aahh.. Ohh.. Kak.. sudah.. Masuk belumm..?” sambil dia mengedangah ke atas, bibir bawahnya digigit lalu kedua payudaranya dia remas-remas sendiri sambil dia menekan pantatnya kebawah.
“Tekan lagi cinta masih kepalanya yang masuk?”
Akhirnya dengan dibantu aku memegang pantatnya kebawah, akhirnya masuklah semuanya.
“Aahh.. oohh.. yeeahh.. masuk semuanya yah kak?” katanya.
“Iyah Shelly sayang, gimana enak kan?” tanyaku sambil aku mencoba menggenjotnya.
“Enak.. sekali.. Kak Dewa..”
“Ini belum seberapa Selly. Ntar kamu akan lebih nikmat lagi?” lalu aku kocok vaginanya dan akhirnya dia orgasme duluan. Creett.. Creett.. Ccroott..
“Aakk.. saayyaanngg.. aa.. kuu.. mau.. keluar nihh..” eranganya.
Sambil memelukku erat-erat dan pantatnya ditahan ke belakang karena dia ada diatas, lalu aku pun sama menghentakkan pantatku ke depan, arah yang berlawanan supaya dia benar-benar menikmatinya, penisku tertekan lebih dalam lagi ke lubang vaginanya. Dia langsung lemes sementara aku belum orgasme dan kulihat Poppy sedang dioral vaginanya sama kakaknya, Mbak Hanny.
“Sudah dong kak..?” kataku pada Mbak Hanny.
“Kasihan tuhh.. vagina Poppy sudah ingin banget ngerasain di tusuk sama penisku ini?” kataku lagi
“Iyah Kak Hanny, sudah dong kak?” kata Poppy.
“Aku sudah enggak tahan sekali dari tadi lihat Kak Shelly dientot sama penisnya Dewa, sepertinya nikmat dan enak sekali?” katanya memohon agar Kak Hanny melepaskan oralnya di dalam vaginanya.
Akhirnya kami berempat mulai perang lagi, aku mau masukin penisku ke vaginanya Poppy sambil nungging (doggy style) kemudian Poppy menjilat vaginanya Mbak Hanny dan Mbak Hanny menjilat vaginanya Shelly yang sudah seger lagi.
“Wah.. seretnya bukan main nih vaginanya Poppy, dia masih kelas 1 SMP jadi lebih sempit dibanding kakak-kakaknya dan cengkramannya pun sangat kuat sekali.”
“Bleess.. Bless.. Bleess..”
“Awww.. Awww.. Ooohh.. Ooohh..” Poppy menjerit lagi setiap aku mau memasukkan lagi penisku.
“Sakit yah?” tanyaku sambil aku meremas-remas payudaranya.
“Ii.. Iyah.. kak.., Tapi kok enak banget sih? terusin aja Kak Dewa.. Vagina poppy rasanya ada yang mengganjal dan rasanya hangat dan berdenyut-denyut,” katanya.
Sambil merem melek karena aku mulai menggenjot vaginanya.
“Oohh.. terruuss.. aakk.. saayyaang.. p.. vaginanya Poppy yah..” ceracaunya.
Dan rasanya dia mulai juga menggoyangkan pinggulnya.
“Tenang cinta.. aku.. akan.. berusaha.. muasin vaginanya dik.. Poppy.. Yah..”
Dan akhirnya aku ngent*t vagina keempatnya. Lalu aku dengar dia berkata,
“Aku mau keluar nih?”
“Sabar taahann.. duu.. Luu.. Yah..”
Namun baru sekali ini vaginanya dientot dia tak bisa nahan dan..
Crott.. Croott..
“Aarhhgg, eemmhh.. oohh.. yeeaass..nikmat banget aakh..?” eranganya.
“Makasih.. Yah kak..?” sambil dia tersenyum.
“Aku.. pipisnya kok.. enggak biasanya, tapi enak banget sih.”
“Aku mau keluar nih, dimana sayang?” tanyaku.
“Aakkh.. didalam vaginaku aja yah.. Aku ingin ngerasain.. Gimana di siram air mani penis..”
Ccrroott.. Crroott.. Crott..
Akhirnya aku tumpahkan ke dalam lobang vaginanya dan sebagian lagi kuberikan sama Kak Hanny dan Shelly.
Gile.. Benerr.. sekali ngent*t dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante.
Diperkosa demi hutang ayahku
Diperkosa demi hutang ayahku
Lisa, remaja SMU usia 17 th. Ayahnya
yang seorang pengusaha mengalami kebrangkutan membuat sang ayah sangat tertekan
dan hidup dalam kekurangan, ditambah dengan istri-nya yang kabur bersama pria
lain karena memang pak Hartono sudah tidak bisa mencukupi gaya mewahnya. Lisa
adalah gadis remaja yang sangat cantik, rambutnya lurus sampai dipunggung.
Postur tubuh yang sangat proporsional didukung oleh balutan kulit putih mulus membuat hati para lelaki ingin
menikmatinya.
Suatu ketika disiang hari saat sang ayah sedang dirumah sendirian kedatangan tiga orang tamu dan tampaknya satu diantaranya adalah sang bos dan dua lainya para bodyguard-nya.
"Selamat siang Hartono" terdengar suara agak berat dari arah pintu yang saat itu memang terbuka.
Betapa terkejutnya pak Hartono ketika tahu siapa orang yang telah menyapanya.
"Se..se..selamat siang pak Wijaya ¦ mari si..silahkan masuk" jawab pak Hartono dengan suara terputus-putus.
Seketika pak Wijaya sudah duduk dikursi dengan dua bodyguard-nya berdiri tegap dibelakang bos mereka.
"Tentunya kamu sudah tahu maksudku kemari Hartono ¦ ini adalah kedatanganku yang ketiga kalinya sejak 5 bulan yang lalu" kata pak Wijaya langsung memulai pembicaraan.
"Hari ini juga kamu harus membayar hutang-hutang kamu" kata pak wijaya lagi tanpa ekspresi.
"Ta..tapi pak, saya belum mempunyai uang untuk saat ini pak, tolong beri saya waktu lagi" jawab pak Hartono mulai gelisah.
"APA !!! .. SAYA TIDAK MAU TAHU, KAMU HARUS MEMBAYARNYA HARI INI JUGA"
"Asal kamu tahu, hutang-hutangmu itu sudah mencapai 40 juta dan saya tidak main-main dengan ini" jawab pak Wijaya dengan suara tinggi.
"Ta..tapi pak saya cuma meminjam 20 juta waktu itu"
Pak Wijaya tidak menghiraukan keluhan pak Hartono.
Pak Wijaya ini adalah seorang renternir besar, dia terkenal dengan tindakannya yang sering menyiksa siapa saja yang menunda-nunda pembayaran hutangnya. Pak Hartono sangat menyesal dengan keputusannya untuk meminjam uang kepada pak Wijaya waktu itu demi menyelamatkan perusahaannya dengan hasil yang sia-sia, tapi mau diapakan lagi nasi sudah menjadi bubur, kini pak Hartono terjebak dalam kondisi kehancuran.
"NEGRO !!!" terdengar pak Wijaya memanggil salah satu bodyguard-nya untuk mendekat.
"Siap BOS" lalu Si Negro mendekat.
"Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan" kata pak Wijaya dengan tenang.
Seketika Si Negro sudah berdiri disamping pak Hartono duduk. Tanpa banyak kata Si Negro langsung meremas kerah baju pak Hartono dan memaksanya untuk berdiri. Kepalan tangan pun melayang tepat di ulu hati pak Hartono yang langsung tersungkur dengan serangan mendadak tersebut. Secepatnya juga Si Negro menendang tepat di wajah pak Hartono membuat hidung pak Hartono berdarah.
"Ampun..a..ampun" rintih pak Hartono.
"HENTIKAN !!! APA-APAAN INI" tiba-tiba terdengar suara gadis dari arah pintu ketika Si Negro akan melakukan tendangan yang berikutnya.
"Li..Lisa" kata pak Hartono penuh rasa kesakitan.
Secepatnya Lisa menghampiri ayahnya tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Wo..wo..wOw" terdengar suara dari mulut pak Wijaya.
"Ternyata kamu masih mempunyai anak gadis Hartono, kupikir ikut lari juga dengan ibunya ... ha..ha..ha.." raut wajah pak Wijaya langsung berubah cerah saat itu juga, melihat kehadiran anak pak Hartono yang baru pulang dari sekolah dengan memakai seragam SMU-nya yang mempunyai potongan rok setinggi 10 cm diatas lutut.
"Apa yang kalian lakukan dengan bapak saya" tanya Lisa membentak.
"Ha..ha..ha.." pak Wijaya hanya tertawa, sambil berdiri mendekati dua orang bapak anak ini.
"Siapa namamu anak manis?" tanya pak Wijaya tetap dengan senyuman.
Namun Lisa hanya diam saja dengan air mata melihat kondisi ayahnya.
"Hhmmm ... kudengar tadi bapakmu ini memangil kamu Lisa" kata pak Wijaya mengingat ucapan pak Hartono sewaktu Lisa datang tadi. Mata pak Wijaya mulai mesum memandangi Lisa dari dada hingga paha, mengagumi kecantikan Lisa.
"Ok Hartono, kamu bisa bernafas lega sekarang" kata pak Wijaya, tanpa dimengerti oleh pak Hartono apa maksud ucapan pak Wijaya itu.
"Kamu bisa membayar hutang-hutangmu dengan anakmu Lisa ini" kata pak Wijaya serius.
Secepatnya pak Wijaya menarik tangan Lisa, membawanya ke sofa.
"Tu..tunggu, apa yang mau kamu lakukan dengan anakku" tanya pak Hartono masih tetap dalam kondisi kesakitan.
"Mau apa kalian!!!" kata si Lisa
"DUDUK" perintah pak Wijaya kepada Lisa.
Seketika juga pak Hartono mencoba bangkit berdiri namun dicegah oleh si Negro.
"Alex, coba kau bantu Negro aman kan itu Hartono" perintah pak Wijaya kepada bodyguard yang sedari tadi berdiri menunggu perintah bos-nya itu.
"Siap bos" kata Alex langsung bergerak.
"Ketahuilah anak manis, bapakmu itu punya hutang-hutang yang jumlahnya mencapai 40 juta dan harus dibayarkan saat ini juga"
"Tapi itu tidak jadi soal asal kamu mau melayaniku sekarang juga, didepan bapakmu .. he..he..he.."
"APA!!!" betapa kagetnya hati si Lisa mendengar ucapan pak Wijaya.
"Tolong pak Wijaya jangan kau lak..." buggs ... satu pukulan Alex mengenai perut pak Hartono saat dia mencoba untuk memohon kepada pak Wijaya sebelum bisa menyelesaikan ucapannya.
"Bagaimana Lisa, apa kamu tidak kasih dengan bapakmu itu..he..he.." kata pak Wijaya.
Melihat kondisi bapaknya seperti itu akhirnya dengan terpaksa Lisa menyanggupi permintaan pak Wijaya.
"Baiklah" kata Lisa
"Ha..ha..ha.." pak Wijaya tertawa gembira, karena sebentar lagi dia akan menikmati gadis muda yang memang belum belum pernah tersentuh oleh laki-laki. Lisa adalah anak yang baik berbanding terbalik dengan ibunya. Meskipun sebelumnya hidupnya tercukupi oleh harta ayahnya tapi dia tetap hidup sewajarnya dan selalu menolak baik-baik setiap lelaki yang mencoba untuk jadi pacarnya. Karena Lisa memang ingin benar-benar fokus terhadap pendidikannya.
"Ja..jangan Lisa" buggs .. satu pukulan lagi mengenai rahang pak Hartono.
"Baiklah anak manis, sekarang juga kamu coba buka seragammu itu" kata pak Wijaya yang sudah menahan nafsunya.
Dengan terpaksa dan gemetar akhirnya Lisa mencoba melepas kancing bajunya satu persatu. Lisa sangat malu sekali karena didepannya terdapat empat pasang mata yang semuanya adalah laki-laki termasuk juga ayahnya disitu.
Lisa menagis tertunduk saat semua kancing bajunya terlepas.
Dapat dilihat bahwa Lisa memakai BH warna putih dengan ukuran sekepalan tangan lelaki dewasa.
Pak Wijaya terdiam sejenak menatap pemandangan didepanya itu, dia merasakan sesak tiba-tiba celana yang dipakainya.
Satu gerakan pak Wijaya menarik paksa BH Lisa hingga terlepas, Lisa pun kaget dengan tindakan pak Wijaya itu.
Kini mencuatlah gunung kembar milik Lisa yang bergelantungan bebas.
"wOw..sempurna" kata pak Wijaya kagum.
Tanpa membuang waktu pak Wijaya langsung meremas kedua payudara milik Lisa. Bergantian kiri dan kanan pak Wijaya menghisap puting susu Lisa yang berwarna merah muda itu.
"Ahh.." Lisa pun mendesah pelan karena memang dia belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
JIlatan demi jilatan dilakukan pak Wijaya dari leher hingga telinga Lisa menjadi santapan lezatnya. Lisa merinding dibuatnya.
Begitupun dengan bibir mungil Lisa tak luput dari sasaran pak Wijaya, kecipak kecipok begitulah bunyinya sambil tangannya tak pernah lepas dari payudara
Puas dengan jilatannya pak Wijaya mulai berdiri dan meminta Lisa untuk berlutut.
"Sekarang kamu berlutut" kata pak Wijaya
"Mau diapakan saya pak" tanya si Lisa tak mengerti maksud pak Wijaya.
"Sudaaaahhh .. kamu turuti saja semua perintahku" kata pak Wijaya.
Lisa pun mengikuti kemauan pak Wijaya dan mulai berlutut.
"Buka celanaku ini ... dengan lembut" pinta pak Wijaya.
Lisa mulai melepaskan celana pak Wijaya dari melepas ikat pinggang hingga menurunkan resleting Lisa lakukan secara perlahan. Lisa takut jika tidak menuruti perintah pak Wijaya sesuatu yang buruk pasti terjadi terhadap ayahnya.
Celana pak Wijaya sudah turun hingga ke lutut tinggalah celana dalam pak Wijaya menampakan benjolan yang membesar di balik celana dalam itu. Sebenarnya penis pak Wijaya sudah tegak berdiri sedari tadi sejak Lisa melepaskan kancing-kancing bajunya.
"CD-nya juga dong sayang" kata pak Wijaya genit.
Lisa pun menurunkan CD pak Wijaya dan terpampanglah penis pak Wijaya yang besar berdiri tegak didepan wajah Lisa. Baru kali ini Lisa melihat kemaluan laki-laki secara langsung dan dia merasa takut mengkhawatirkan apa yang akan terjadi terhadap dirinya.
"Sekarang kamu kulum kon**lku ini sayang, awas ya jangan sampai kamu gigit" perintah pak Wijaya.
Lisa pun hanya diam, dia merasa jijik harus mengulum penis pak Wijaya.
Plakk .. satu tamparan pun mengenai pipi kanan Lisa.
"Auww.." jerit Lisa
"Cepat lakukan !!" kata pak Wijaya sambil menjambak rambut Lisa, mengarahkan wajah Lisa menuju senjatanya.
Akhirnya tak terelakan Lisa pun mengulum penis pak Wijaya.
"Ahhh.." pak Wijaya merasakan sensasi yang luar biasa saat bibir mungil Lisa mulai mengoralnya maju mundur perlahan. Secara bergantian pak Wijaya menyuruh Lisa untuk mengocok-kocok batang penis-nya begitupun seterusnya. Lisa merasa terhina saat ini. Kedua bodyguard pak Wijaya sangat menikmati pemandangan itu, begitupn sang ayah tidak kuasa untuk menghentikan tindakan pak Wijaya.
Setelah puas dengan dioral pak Wijaya mengangkat Lisa ke sofa dan menyingkapkan rok seragam Lisa hingga ke perut. Celana dalam Lisa terpampang jelas oleh pak Wijaya dengan gundukan yang terlihat garis tengahnya.
Pak Wijaya meraba-raba paha Lisa yang putih mulus dengan sesekali menghirup aroma vagina Lisa dari luar celana dalamnya.
"Hhmmm...harum sekali tem**kmu sayang, membuatku tidak sabar untuk mencicipinya" kata pak Wijaya mesum.
Akhirnya pak Wijaya menarik CD Lisa hingga terlepas yang membuat mata lelaki di ruangan itu melotot menelan ludah. Tak terkecuali juga ayah Lisa tidak menyangka punya anak secantik bidadari. Vagina Lisa masih ditumbuhi bulu-bulu halus dan begitu rapat belahan bibir kiri dan kanan. Sudah bisa dipastikan Lisa adalah Perawan.
Kedua tangan pak Wijaya mengangkat lebar-lebar paha Lisa. Sekarang posisi Lisa ngangkang didepan wajah pak Wijaya langsung saja pak Wijaya menjilat habis vagina milik Lisa.
"Ahhh..Lisa menggelinjang sejadi-jadinya" dan tanpa disadarinya Lisa telah mengeluarkan cairan kewanitaan miliknya.
"Ha..ha..ha..kamu menikmatinya juga ya sayang, gurih sekali tem**kmu ini" kata pak Wijaya senang dan terus melanjutkan jilatan di vagina Lisa.
"Aakkkhhh..." Lisa mengejan kuat-kuat menandakan ia telah orgasme. Pak Wijaya pun menyedot habis cairan milik Lisa.
"wOw..." kata pak Wijaya.
Pak Wijaya sudah tidak tahan dengan nafsunya dan mulai mengarahkan penis nya yang besar itu kedalam vagina kecil milik Lisa.
"Aakkhhh..." Lisa menjerit ketika merasakan benda aneh masuk menerjang vaginanya, Lisa menangis kini kehormatanya telah hilang oleh laki-laki seumuran ayahnya.
Lisa hanya pasrah menerima semua ini. Tampaklah darah perawan mengalir dari vagina Lisa yang masih tertancap penis pak Wijaya.
Perlahan namun pasti, pak Wijaya terus memompakan penisnya maju mundur sambil mulutnya mulumat bibir mungil Lisa, leher, telinga, payudara seolah dia tidak mau mensia-siakan hidangan didepanya itu. Setengah jam sudah pak Wijaya memperkosa Lisa dan dirasakan ia sudah tidak tahan untuk melepaskan spermanya.
Akhirnya dengan hentakan keras pak Wijaya mengejan kuat menyemburkan banyak sekali sperma kedalam rahim Lisa.
"Oh..oh..aakkhhh.." pak Wijaya merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Pak Wijaya jatuh diatas tubuh Lisa dengan penis yang masih mencap didalam vagina Lisa.
"Luar biasa sayang..enak sekali tem**kmu anak manis" kata pak Wijaya didekat telinga Lisa.
Lisa menangis sesenggukan, kini dia takut apa jadinya kalau sampai hamil nantinya. Pak Wijaya sudah menyemburkan banyak sekali sperma kedalam rahim Lisa. Masa depannya hancur sudah.
5 menit diatas tubuh Lisa akhirnya pak Wijaya berdiri mencabut penis yang masih tertancap di vagina Lisa, dan tersenyum puas sambil memandangi pak Hartono.
"Alex..Negro.. sekarang giliran kalian" kata pak Wijaya memberi kesempatan kepada anak buahnya untuk mencicipi tubuh Lisa.
Tanpa membuang waktu Alex dan Negro langsung mengikat pak Hartono pada kursi agar tetap bisa melihat anaknya diperkosa.
Lisa yang saat itu masih menangis segera dibalikan tubuhnya oleh kedua bodyguard pak Wijaya hingga sekarang posisi Lisa adalah menungging. Si Negro segera melepas sisa pakaian yang masih menempel pada tubuh Lisa yaitu baju dan rok SMU Lisa hingga telanjang bulat. Pantat Lisa yang memang bulat blat membuat mata lelaki disitu melotot tak terkecuali ayah Lisa. Bagaimanapun juga ayah Lisa adalah lelaki normal yang setelah ditinggal pergi oleh istrinya tidak pernah melampiaskan hasrat biologisnya.
"Lihatlah Hartono, anakmu benar-benar istimewa .. ha..ha..ha.." kata pak Wijaya begitu senangnya memperlihatkan anaknya yang telanjang bulat dihadapan sang ayah.
"Biadab kamu Wijaya" kata pak Hartono memaki pak Wijaya
Plakk .. satu tamparan keras mengenai pipi kiri pak Hartono
"Terserah apa katamu, sekarang nikmatilah pertunjukan bokep anakmu itu ha..ha.." kata pak Wijaya
Pak Hartono sangat menyesali dahulu telah meminjam uang kepada pak Wijaya yang renternir itu, sekarang anaknyalah yang menjadi korban.
Kedua bodyguard pak Wijaya segera melepas celana-nya masing-masing. Tampaklah batang-batang penis mereka yang memang sudah membesar sedari tadi ketika melihat pak Wijaya memperkosa Lisa pertama kalinya.
Alex berada didepan wajah Lisa langsung menyuruh paksa Lisa untuk mengoral batang penis Alex yang sangat besar.
"Ayo emut kont*lku, cepat" paksa Alex sambil mengarahka batang penisnya kearah mulut mungil Lisa
Sleeppp .. masuk juga batang penis Alex hingga kerongkongan Lisa membuat Lisa tersendak dan berasa ingin muntah.
"em..em..em" hanya itu suara yang terdengar dari mulut mungil Lisa yang penuh dengan batang penis Alex.
Sementara dari belakang Si Negro sibuk mengobok-obok lubang vagina milik Lisa dengan jari-jari tangannya.
"em..em..emm" Lisa tak bisa berkata-kata
Puas dengan permainan tangannya Si Negro segera mengambil posisi siap tempur. Si Negro melebarkan kaki Lisa membuat vagina sedikit terbuka memudahkan Si Negro dalam serangannya.
"aakkkhhhhhh..." jerit Lisa tertahan menerima hujaman senjata Negro masuk menembua liang rahimnya.
"Ohhh..nikmat sekali tem**kmu sayang .. diantara pelacur-pelacur yang pernah ku ent*t tem**kmu ini yang paling istimewa sayang" kata Si Negro keenakan memaju mundurkan batang penisnya dalam vagina Lisa.
Betapa sakit hasi Lisa mendengar ucapan Si Negro yang menyamakannya dengan pelacur. Tetapi itulah yang sedang terjadi terhadap Lisa. Vagina dan mulutnya tersumbat oleh batang-batang para bodyguard pak Wijaya.
"Gimana Harto, itulah akibatnya kamu selalu menunda-nunda hutangmu, nikmati saja pertunjukan ini" kata pak Wijaya
15 menit berlalu kini Si Negro dan Alex mencoba permainan lain. Alex duduk disofa, dan Negro mengangkat Lisa keatas tubuh Alex dan segera memasukan batang penis Alex kedalam vagina Lisa.
"Ohh.. betul juga katamu Negro, ini tem**k nomor satu" kata Alex merasakan kenikmatan vagina Lisa
Negro segera melangkah mengambil bodylotion yang memang sudah ada didepan meja kaca dan segera melumuri pantat Lisa tepat pada lubang anusnya.
"Hei, apa yang kamu lakukan" kata Lisa ketakutan
Namun secepatnya disumbat dengan ciuman Alex yang berada dibawah Lisa sambil tangannya meremas-remas payudara Lisa yang bergelantungan.
"Jangan takut sayang, kamu akan menikmati ini" kata Si Negro
Secara pelan Negro segera mengarahkan penisnya ke arah anus Lisa.
"Ohh.. sempit sekali ini, sampai kon**lku nggak bisa masuk"
"aakkhhhh...." Lisa menjerit sejadi-jadinya, ia merasakan sakit yang luar biasa setelah Negro berhasil menembus lubang pantat Lisa
"Ohh..ohh.." Negro keenakan. Tangannya juga tak henti-hentinya meremas pantat dan payudara Lisa dari belakang.
Setengah jam kemudian tampak mereka sudah tak tahan menahan ejakulasinya. Alex yang sedari tadi memompa vagina Lisa dari bawah langsung mengejan kuat-kuat menyemburkan spermanya kedalam rahim Lisa
"Ohh my God..oh..oh" Alex menghentak-hentakan penisnya kedalam vagina Lisa sedalam-dalamnya. Saat itu juga Lisa merasakan getaran yang hebat hingga akhirnya juga ia mengejang menandakan dia juga telah orgasme
"Ha..ha..ha..enakkan sayang" kata Alex kepada Lisa
Lisa terdiam malu karena tanpa disadarinya naluri kewanitaan telah membawanya kepuncak kenikmatan.
"Lihat .. lihat Hartono, anakmu begitu menikmatinya .. ha..ha.. dasar pelacur" ejek pak Wijaya
Sekarang giliran Negro yang sudah tidak tahan ingin berejakulasi dan segera menyemburkan spermanya kedalam anus Lisa hingga sebagian sprema Negro keluar menetes lewat anus Lisa
"Oohhh... nikmat sekaliii..." Negro menahan sejenak batang penisnya dalam lubang pantat Lisa, menikmati pijatan-pijatan kecil pantat Lisa
"Uuhhh.. kamu benar-benar istimewa Lisa" kata Negro segera mencabut penisnya dari anus Lisa
"auww.." kata Lisa merasakan nyeri saat Negro mencabut batang penisnya
Mereka menyudahi permainannya, lalu Alex melangkah mendekati bosnya sambil berbisik-bisik ditelinga pak bos
"Hhmmm.. boleh juga itu Lex" kata pak Wijaya manggut-manggut tanda ia setuju dengan apa yang dibisikkan Alex
"Negro..!!" kata pak Wijaya
"Siap bos.." jawab Negro
"Coba kau buka itu celana Hartono" perintah bosnya
Segera Negro mendekati pak Hartono dan melepas celana pak Hartono hingga menampakkan batang penis pak Hartono
"wOw..wOw..wOw.. kamu ngaceng juga ya melihat anakmu diperkosa .. ha..ha.."
"Dasar orang tua munafik" ejek pak Wijaya
"Tapi kamu tidak usah khawatir, karena kamu juga akan menikmatinya" kata pak Wijaya
"Apa..ja..jangan lakukan itu" jawab pak Hartono
"Bawa Lisa kemari !!" perintah pak Wijaya
Segera Alex mengangkat Lisa menuju tempat ayahnya diikat pada sebuah kursi
"Anak manis, sepertinya ayahmu ingin juga merasakan tem**kmu itu sayang" kata pak Wijaya halus
"Ha..ha..ha" kedua bodyguard pak Wijaya tertawa
"Okey.. sekarang kamu emut tu kon**l bapakmu"
"C E P A T" perintah pak Wijaya
Dengan terpaksa Lisa pun akhirnya mengulum penis bapaknya yang besarnya tidak kalah dengan para penagih hutang.
Sambil menangis Lisa memaju mundurkan mulutnya mengoral penis ayah sendiri
"Li..lisa..jangan lakukan itu.. akkhhhh" kata pak Hartono melarang Lisa namun ia merasakan merinding sekujur tubuh setelah sekian lama ia tidak merasakan sentuhan seorang wanita. Pak Hartono tak kuasa menikmati kelembutan bibir Lisa menggosok-gosong batang penisnya.
"Ha..ha..ha.. enakkan Hartono.. terus..teruskan saja.." kata pak Wijaya tertawa-tawa begitupun para bodyguard-nya
"Oh..oh.. hentikan Lisa.. hentikan ..." pak Hartono memohon kepada anaknya untuk segera menghentikkan tindakkannya
Namun Lisa tak memperdulikannya, Lisa merasa sudah terlambat semuanya, ia sudah kotor dan hancur.
"Sekarang kamu naiki bapakmu" perintah pak Wijaya
Lisa pun menurut tanpa dipaksakan dan segera membimbing penis ayahnya memasuki vaginanya
Tindakannya ini membuat para penagih hutang tertawa senang
"Ha..ha..ha..pelacur..pelacur"
"Ayo genjot itu kon**l bapakmu sampai muncrat .. ha..ha..ha" seru pak Wijaya
Akhirnya Lisa pun memompa penis bapaknya dengan cepat.
"Uhh ..aahh.. uh..uh..ahhhhhh" entah Lisa yang merasa ketagihan atau bagaimana membuat Lisa mencengkram bapaknya kuat-kuat dan akhirnya Lisa orgasme diikuti juga sang ayan yang tidak tahan dengan goyangan Lisa akhirnya memuntahkan spermanya bersamman dengan orgasme Lisa
Plok .. plok ..plok terdengar suara tepuk tangan pak Wijaya melihat bapak dan anak saling berhungan
"Bagus .. bagus .. kalian cocok sekali menjadi bintang porno .. ha..ha.." kata pak Wijaya
Lisa menangis memeluk ayahnya
"Maafkan Lisa ayah" bisik Lisa perlahan
"Ini salah bapak nak, bapak telah menghancurkan harapan dan masa depanmu" kata pak Hartono meneteskan air mata
"Ok, cukup"
"Sekarang kalian bawa Lisa kekamar mandi"
"Buat dia bersih" perintah pak Wijaya kepada bodyguard-nya
Akhirnya setelah Lisa dimandikan dan berpakain lengkap Lisa dibawa paksa pergi oleh pak Wijaya untuk selanjutnya dijual kepada seorang germo ternama di kota itu.
Suatu ketika disiang hari saat sang ayah sedang dirumah sendirian kedatangan tiga orang tamu dan tampaknya satu diantaranya adalah sang bos dan dua lainya para bodyguard-nya.
"Selamat siang Hartono" terdengar suara agak berat dari arah pintu yang saat itu memang terbuka.
Betapa terkejutnya pak Hartono ketika tahu siapa orang yang telah menyapanya.
"Se..se..selamat siang pak Wijaya ¦ mari si..silahkan masuk" jawab pak Hartono dengan suara terputus-putus.
Seketika pak Wijaya sudah duduk dikursi dengan dua bodyguard-nya berdiri tegap dibelakang bos mereka.
"Tentunya kamu sudah tahu maksudku kemari Hartono ¦ ini adalah kedatanganku yang ketiga kalinya sejak 5 bulan yang lalu" kata pak Wijaya langsung memulai pembicaraan.
"Hari ini juga kamu harus membayar hutang-hutang kamu" kata pak wijaya lagi tanpa ekspresi.
"Ta..tapi pak, saya belum mempunyai uang untuk saat ini pak, tolong beri saya waktu lagi" jawab pak Hartono mulai gelisah.
"APA !!! .. SAYA TIDAK MAU TAHU, KAMU HARUS MEMBAYARNYA HARI INI JUGA"
"Asal kamu tahu, hutang-hutangmu itu sudah mencapai 40 juta dan saya tidak main-main dengan ini" jawab pak Wijaya dengan suara tinggi.
"Ta..tapi pak saya cuma meminjam 20 juta waktu itu"
Pak Wijaya tidak menghiraukan keluhan pak Hartono.
Pak Wijaya ini adalah seorang renternir besar, dia terkenal dengan tindakannya yang sering menyiksa siapa saja yang menunda-nunda pembayaran hutangnya. Pak Hartono sangat menyesal dengan keputusannya untuk meminjam uang kepada pak Wijaya waktu itu demi menyelamatkan perusahaannya dengan hasil yang sia-sia, tapi mau diapakan lagi nasi sudah menjadi bubur, kini pak Hartono terjebak dalam kondisi kehancuran.
"NEGRO !!!" terdengar pak Wijaya memanggil salah satu bodyguard-nya untuk mendekat.
"Siap BOS" lalu Si Negro mendekat.
"Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan" kata pak Wijaya dengan tenang.
Seketika Si Negro sudah berdiri disamping pak Hartono duduk. Tanpa banyak kata Si Negro langsung meremas kerah baju pak Hartono dan memaksanya untuk berdiri. Kepalan tangan pun melayang tepat di ulu hati pak Hartono yang langsung tersungkur dengan serangan mendadak tersebut. Secepatnya juga Si Negro menendang tepat di wajah pak Hartono membuat hidung pak Hartono berdarah.
"Ampun..a..ampun" rintih pak Hartono.
"HENTIKAN !!! APA-APAAN INI" tiba-tiba terdengar suara gadis dari arah pintu ketika Si Negro akan melakukan tendangan yang berikutnya.
"Li..Lisa" kata pak Hartono penuh rasa kesakitan.
Secepatnya Lisa menghampiri ayahnya tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Wo..wo..wOw" terdengar suara dari mulut pak Wijaya.
"Ternyata kamu masih mempunyai anak gadis Hartono, kupikir ikut lari juga dengan ibunya ... ha..ha..ha.." raut wajah pak Wijaya langsung berubah cerah saat itu juga, melihat kehadiran anak pak Hartono yang baru pulang dari sekolah dengan memakai seragam SMU-nya yang mempunyai potongan rok setinggi 10 cm diatas lutut.
"Apa yang kalian lakukan dengan bapak saya" tanya Lisa membentak.
"Ha..ha..ha.." pak Wijaya hanya tertawa, sambil berdiri mendekati dua orang bapak anak ini.
"Siapa namamu anak manis?" tanya pak Wijaya tetap dengan senyuman.
Namun Lisa hanya diam saja dengan air mata melihat kondisi ayahnya.
"Hhmmm ... kudengar tadi bapakmu ini memangil kamu Lisa" kata pak Wijaya mengingat ucapan pak Hartono sewaktu Lisa datang tadi. Mata pak Wijaya mulai mesum memandangi Lisa dari dada hingga paha, mengagumi kecantikan Lisa.
"Ok Hartono, kamu bisa bernafas lega sekarang" kata pak Wijaya, tanpa dimengerti oleh pak Hartono apa maksud ucapan pak Wijaya itu.
"Kamu bisa membayar hutang-hutangmu dengan anakmu Lisa ini" kata pak Wijaya serius.
Secepatnya pak Wijaya menarik tangan Lisa, membawanya ke sofa.
"Tu..tunggu, apa yang mau kamu lakukan dengan anakku" tanya pak Hartono masih tetap dalam kondisi kesakitan.
"Mau apa kalian!!!" kata si Lisa
"DUDUK" perintah pak Wijaya kepada Lisa.
Seketika juga pak Hartono mencoba bangkit berdiri namun dicegah oleh si Negro.
"Alex, coba kau bantu Negro aman kan itu Hartono" perintah pak Wijaya kepada bodyguard yang sedari tadi berdiri menunggu perintah bos-nya itu.
"Siap bos" kata Alex langsung bergerak.
"Ketahuilah anak manis, bapakmu itu punya hutang-hutang yang jumlahnya mencapai 40 juta dan harus dibayarkan saat ini juga"
"Tapi itu tidak jadi soal asal kamu mau melayaniku sekarang juga, didepan bapakmu .. he..he..he.."
"APA!!!" betapa kagetnya hati si Lisa mendengar ucapan pak Wijaya.
"Tolong pak Wijaya jangan kau lak..." buggs ... satu pukulan Alex mengenai perut pak Hartono saat dia mencoba untuk memohon kepada pak Wijaya sebelum bisa menyelesaikan ucapannya.
"Bagaimana Lisa, apa kamu tidak kasih dengan bapakmu itu..he..he.." kata pak Wijaya.
Melihat kondisi bapaknya seperti itu akhirnya dengan terpaksa Lisa menyanggupi permintaan pak Wijaya.
"Baiklah" kata Lisa
"Ha..ha..ha.." pak Wijaya tertawa gembira, karena sebentar lagi dia akan menikmati gadis muda yang memang belum belum pernah tersentuh oleh laki-laki. Lisa adalah anak yang baik berbanding terbalik dengan ibunya. Meskipun sebelumnya hidupnya tercukupi oleh harta ayahnya tapi dia tetap hidup sewajarnya dan selalu menolak baik-baik setiap lelaki yang mencoba untuk jadi pacarnya. Karena Lisa memang ingin benar-benar fokus terhadap pendidikannya.
"Ja..jangan Lisa" buggs .. satu pukulan lagi mengenai rahang pak Hartono.
"Baiklah anak manis, sekarang juga kamu coba buka seragammu itu" kata pak Wijaya yang sudah menahan nafsunya.
Dengan terpaksa dan gemetar akhirnya Lisa mencoba melepas kancing bajunya satu persatu. Lisa sangat malu sekali karena didepannya terdapat empat pasang mata yang semuanya adalah laki-laki termasuk juga ayahnya disitu.
Lisa menagis tertunduk saat semua kancing bajunya terlepas.
Dapat dilihat bahwa Lisa memakai BH warna putih dengan ukuran sekepalan tangan lelaki dewasa.
Pak Wijaya terdiam sejenak menatap pemandangan didepanya itu, dia merasakan sesak tiba-tiba celana yang dipakainya.
Satu gerakan pak Wijaya menarik paksa BH Lisa hingga terlepas, Lisa pun kaget dengan tindakan pak Wijaya itu.
Kini mencuatlah gunung kembar milik Lisa yang bergelantungan bebas.
"wOw..sempurna" kata pak Wijaya kagum.
Tanpa membuang waktu pak Wijaya langsung meremas kedua payudara milik Lisa. Bergantian kiri dan kanan pak Wijaya menghisap puting susu Lisa yang berwarna merah muda itu.
"Ahh.." Lisa pun mendesah pelan karena memang dia belum pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
JIlatan demi jilatan dilakukan pak Wijaya dari leher hingga telinga Lisa menjadi santapan lezatnya. Lisa merinding dibuatnya.
Begitupun dengan bibir mungil Lisa tak luput dari sasaran pak Wijaya, kecipak kecipok begitulah bunyinya sambil tangannya tak pernah lepas dari payudara
Puas dengan jilatannya pak Wijaya mulai berdiri dan meminta Lisa untuk berlutut.
"Sekarang kamu berlutut" kata pak Wijaya
"Mau diapakan saya pak" tanya si Lisa tak mengerti maksud pak Wijaya.
"Sudaaaahhh .. kamu turuti saja semua perintahku" kata pak Wijaya.
Lisa pun mengikuti kemauan pak Wijaya dan mulai berlutut.
"Buka celanaku ini ... dengan lembut" pinta pak Wijaya.
Lisa mulai melepaskan celana pak Wijaya dari melepas ikat pinggang hingga menurunkan resleting Lisa lakukan secara perlahan. Lisa takut jika tidak menuruti perintah pak Wijaya sesuatu yang buruk pasti terjadi terhadap ayahnya.
Celana pak Wijaya sudah turun hingga ke lutut tinggalah celana dalam pak Wijaya menampakan benjolan yang membesar di balik celana dalam itu. Sebenarnya penis pak Wijaya sudah tegak berdiri sedari tadi sejak Lisa melepaskan kancing-kancing bajunya.
"CD-nya juga dong sayang" kata pak Wijaya genit.
Lisa pun menurunkan CD pak Wijaya dan terpampanglah penis pak Wijaya yang besar berdiri tegak didepan wajah Lisa. Baru kali ini Lisa melihat kemaluan laki-laki secara langsung dan dia merasa takut mengkhawatirkan apa yang akan terjadi terhadap dirinya.
"Sekarang kamu kulum kon**lku ini sayang, awas ya jangan sampai kamu gigit" perintah pak Wijaya.
Lisa pun hanya diam, dia merasa jijik harus mengulum penis pak Wijaya.
Plakk .. satu tamparan pun mengenai pipi kanan Lisa.
"Auww.." jerit Lisa
"Cepat lakukan !!" kata pak Wijaya sambil menjambak rambut Lisa, mengarahkan wajah Lisa menuju senjatanya.
Akhirnya tak terelakan Lisa pun mengulum penis pak Wijaya.
"Ahhh.." pak Wijaya merasakan sensasi yang luar biasa saat bibir mungil Lisa mulai mengoralnya maju mundur perlahan. Secara bergantian pak Wijaya menyuruh Lisa untuk mengocok-kocok batang penis-nya begitupun seterusnya. Lisa merasa terhina saat ini. Kedua bodyguard pak Wijaya sangat menikmati pemandangan itu, begitupn sang ayah tidak kuasa untuk menghentikan tindakan pak Wijaya.
Setelah puas dengan dioral pak Wijaya mengangkat Lisa ke sofa dan menyingkapkan rok seragam Lisa hingga ke perut. Celana dalam Lisa terpampang jelas oleh pak Wijaya dengan gundukan yang terlihat garis tengahnya.
Pak Wijaya meraba-raba paha Lisa yang putih mulus dengan sesekali menghirup aroma vagina Lisa dari luar celana dalamnya.
"Hhmmm...harum sekali tem**kmu sayang, membuatku tidak sabar untuk mencicipinya" kata pak Wijaya mesum.
Akhirnya pak Wijaya menarik CD Lisa hingga terlepas yang membuat mata lelaki di ruangan itu melotot menelan ludah. Tak terkecuali juga ayah Lisa tidak menyangka punya anak secantik bidadari. Vagina Lisa masih ditumbuhi bulu-bulu halus dan begitu rapat belahan bibir kiri dan kanan. Sudah bisa dipastikan Lisa adalah Perawan.
Kedua tangan pak Wijaya mengangkat lebar-lebar paha Lisa. Sekarang posisi Lisa ngangkang didepan wajah pak Wijaya langsung saja pak Wijaya menjilat habis vagina milik Lisa.
"Ahhh..Lisa menggelinjang sejadi-jadinya" dan tanpa disadarinya Lisa telah mengeluarkan cairan kewanitaan miliknya.
"Ha..ha..ha..kamu menikmatinya juga ya sayang, gurih sekali tem**kmu ini" kata pak Wijaya senang dan terus melanjutkan jilatan di vagina Lisa.
"Aakkkhhh..." Lisa mengejan kuat-kuat menandakan ia telah orgasme. Pak Wijaya pun menyedot habis cairan milik Lisa.
"wOw..." kata pak Wijaya.
Pak Wijaya sudah tidak tahan dengan nafsunya dan mulai mengarahkan penis nya yang besar itu kedalam vagina kecil milik Lisa.
"Aakkhhh..." Lisa menjerit ketika merasakan benda aneh masuk menerjang vaginanya, Lisa menangis kini kehormatanya telah hilang oleh laki-laki seumuran ayahnya.
Lisa hanya pasrah menerima semua ini. Tampaklah darah perawan mengalir dari vagina Lisa yang masih tertancap penis pak Wijaya.
Perlahan namun pasti, pak Wijaya terus memompakan penisnya maju mundur sambil mulutnya mulumat bibir mungil Lisa, leher, telinga, payudara seolah dia tidak mau mensia-siakan hidangan didepanya itu. Setengah jam sudah pak Wijaya memperkosa Lisa dan dirasakan ia sudah tidak tahan untuk melepaskan spermanya.
Akhirnya dengan hentakan keras pak Wijaya mengejan kuat menyemburkan banyak sekali sperma kedalam rahim Lisa.
"Oh..oh..aakkhhh.." pak Wijaya merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Pak Wijaya jatuh diatas tubuh Lisa dengan penis yang masih mencap didalam vagina Lisa.
"Luar biasa sayang..enak sekali tem**kmu anak manis" kata pak Wijaya didekat telinga Lisa.
Lisa menangis sesenggukan, kini dia takut apa jadinya kalau sampai hamil nantinya. Pak Wijaya sudah menyemburkan banyak sekali sperma kedalam rahim Lisa. Masa depannya hancur sudah.
5 menit diatas tubuh Lisa akhirnya pak Wijaya berdiri mencabut penis yang masih tertancap di vagina Lisa, dan tersenyum puas sambil memandangi pak Hartono.
"Alex..Negro.. sekarang giliran kalian" kata pak Wijaya memberi kesempatan kepada anak buahnya untuk mencicipi tubuh Lisa.
Tanpa membuang waktu Alex dan Negro langsung mengikat pak Hartono pada kursi agar tetap bisa melihat anaknya diperkosa.
Lisa yang saat itu masih menangis segera dibalikan tubuhnya oleh kedua bodyguard pak Wijaya hingga sekarang posisi Lisa adalah menungging. Si Negro segera melepas sisa pakaian yang masih menempel pada tubuh Lisa yaitu baju dan rok SMU Lisa hingga telanjang bulat. Pantat Lisa yang memang bulat blat membuat mata lelaki disitu melotot tak terkecuali ayah Lisa. Bagaimanapun juga ayah Lisa adalah lelaki normal yang setelah ditinggal pergi oleh istrinya tidak pernah melampiaskan hasrat biologisnya.
"Lihatlah Hartono, anakmu benar-benar istimewa .. ha..ha..ha.." kata pak Wijaya begitu senangnya memperlihatkan anaknya yang telanjang bulat dihadapan sang ayah.
"Biadab kamu Wijaya" kata pak Hartono memaki pak Wijaya
Plakk .. satu tamparan keras mengenai pipi kiri pak Hartono
"Terserah apa katamu, sekarang nikmatilah pertunjukan bokep anakmu itu ha..ha.." kata pak Wijaya
Pak Hartono sangat menyesali dahulu telah meminjam uang kepada pak Wijaya yang renternir itu, sekarang anaknyalah yang menjadi korban.
Kedua bodyguard pak Wijaya segera melepas celana-nya masing-masing. Tampaklah batang-batang penis mereka yang memang sudah membesar sedari tadi ketika melihat pak Wijaya memperkosa Lisa pertama kalinya.
Alex berada didepan wajah Lisa langsung menyuruh paksa Lisa untuk mengoral batang penis Alex yang sangat besar.
"Ayo emut kont*lku, cepat" paksa Alex sambil mengarahka batang penisnya kearah mulut mungil Lisa
Sleeppp .. masuk juga batang penis Alex hingga kerongkongan Lisa membuat Lisa tersendak dan berasa ingin muntah.
"em..em..em" hanya itu suara yang terdengar dari mulut mungil Lisa yang penuh dengan batang penis Alex.
Sementara dari belakang Si Negro sibuk mengobok-obok lubang vagina milik Lisa dengan jari-jari tangannya.
"em..em..emm" Lisa tak bisa berkata-kata
Puas dengan permainan tangannya Si Negro segera mengambil posisi siap tempur. Si Negro melebarkan kaki Lisa membuat vagina sedikit terbuka memudahkan Si Negro dalam serangannya.
"aakkkhhhhhh..." jerit Lisa tertahan menerima hujaman senjata Negro masuk menembua liang rahimnya.
"Ohhh..nikmat sekali tem**kmu sayang .. diantara pelacur-pelacur yang pernah ku ent*t tem**kmu ini yang paling istimewa sayang" kata Si Negro keenakan memaju mundurkan batang penisnya dalam vagina Lisa.
Betapa sakit hasi Lisa mendengar ucapan Si Negro yang menyamakannya dengan pelacur. Tetapi itulah yang sedang terjadi terhadap Lisa. Vagina dan mulutnya tersumbat oleh batang-batang para bodyguard pak Wijaya.
"Gimana Harto, itulah akibatnya kamu selalu menunda-nunda hutangmu, nikmati saja pertunjukan ini" kata pak Wijaya
15 menit berlalu kini Si Negro dan Alex mencoba permainan lain. Alex duduk disofa, dan Negro mengangkat Lisa keatas tubuh Alex dan segera memasukan batang penis Alex kedalam vagina Lisa.
"Ohh.. betul juga katamu Negro, ini tem**k nomor satu" kata Alex merasakan kenikmatan vagina Lisa
Negro segera melangkah mengambil bodylotion yang memang sudah ada didepan meja kaca dan segera melumuri pantat Lisa tepat pada lubang anusnya.
"Hei, apa yang kamu lakukan" kata Lisa ketakutan
Namun secepatnya disumbat dengan ciuman Alex yang berada dibawah Lisa sambil tangannya meremas-remas payudara Lisa yang bergelantungan.
"Jangan takut sayang, kamu akan menikmati ini" kata Si Negro
Secara pelan Negro segera mengarahkan penisnya ke arah anus Lisa.
"Ohh.. sempit sekali ini, sampai kon**lku nggak bisa masuk"
"aakkhhhh...." Lisa menjerit sejadi-jadinya, ia merasakan sakit yang luar biasa setelah Negro berhasil menembus lubang pantat Lisa
"Ohh..ohh.." Negro keenakan. Tangannya juga tak henti-hentinya meremas pantat dan payudara Lisa dari belakang.
Setengah jam kemudian tampak mereka sudah tak tahan menahan ejakulasinya. Alex yang sedari tadi memompa vagina Lisa dari bawah langsung mengejan kuat-kuat menyemburkan spermanya kedalam rahim Lisa
"Ohh my God..oh..oh" Alex menghentak-hentakan penisnya kedalam vagina Lisa sedalam-dalamnya. Saat itu juga Lisa merasakan getaran yang hebat hingga akhirnya juga ia mengejang menandakan dia juga telah orgasme
"Ha..ha..ha..enakkan sayang" kata Alex kepada Lisa
Lisa terdiam malu karena tanpa disadarinya naluri kewanitaan telah membawanya kepuncak kenikmatan.
"Lihat .. lihat Hartono, anakmu begitu menikmatinya .. ha..ha.. dasar pelacur" ejek pak Wijaya
Sekarang giliran Negro yang sudah tidak tahan ingin berejakulasi dan segera menyemburkan spermanya kedalam anus Lisa hingga sebagian sprema Negro keluar menetes lewat anus Lisa
"Oohhh... nikmat sekaliii..." Negro menahan sejenak batang penisnya dalam lubang pantat Lisa, menikmati pijatan-pijatan kecil pantat Lisa
"Uuhhh.. kamu benar-benar istimewa Lisa" kata Negro segera mencabut penisnya dari anus Lisa
"auww.." kata Lisa merasakan nyeri saat Negro mencabut batang penisnya
Mereka menyudahi permainannya, lalu Alex melangkah mendekati bosnya sambil berbisik-bisik ditelinga pak bos
"Hhmmm.. boleh juga itu Lex" kata pak Wijaya manggut-manggut tanda ia setuju dengan apa yang dibisikkan Alex
"Negro..!!" kata pak Wijaya
"Siap bos.." jawab Negro
"Coba kau buka itu celana Hartono" perintah bosnya
Segera Negro mendekati pak Hartono dan melepas celana pak Hartono hingga menampakkan batang penis pak Hartono
"wOw..wOw..wOw.. kamu ngaceng juga ya melihat anakmu diperkosa .. ha..ha.."
"Dasar orang tua munafik" ejek pak Wijaya
"Tapi kamu tidak usah khawatir, karena kamu juga akan menikmatinya" kata pak Wijaya
"Apa..ja..jangan lakukan itu" jawab pak Hartono
"Bawa Lisa kemari !!" perintah pak Wijaya
Segera Alex mengangkat Lisa menuju tempat ayahnya diikat pada sebuah kursi
"Anak manis, sepertinya ayahmu ingin juga merasakan tem**kmu itu sayang" kata pak Wijaya halus
"Ha..ha..ha" kedua bodyguard pak Wijaya tertawa
"Okey.. sekarang kamu emut tu kon**l bapakmu"
"C E P A T" perintah pak Wijaya
Dengan terpaksa Lisa pun akhirnya mengulum penis bapaknya yang besarnya tidak kalah dengan para penagih hutang.
Sambil menangis Lisa memaju mundurkan mulutnya mengoral penis ayah sendiri
"Li..lisa..jangan lakukan itu.. akkhhhh" kata pak Hartono melarang Lisa namun ia merasakan merinding sekujur tubuh setelah sekian lama ia tidak merasakan sentuhan seorang wanita. Pak Hartono tak kuasa menikmati kelembutan bibir Lisa menggosok-gosong batang penisnya.
"Ha..ha..ha.. enakkan Hartono.. terus..teruskan saja.." kata pak Wijaya tertawa-tawa begitupun para bodyguard-nya
"Oh..oh.. hentikan Lisa.. hentikan ..." pak Hartono memohon kepada anaknya untuk segera menghentikkan tindakkannya
Namun Lisa tak memperdulikannya, Lisa merasa sudah terlambat semuanya, ia sudah kotor dan hancur.
"Sekarang kamu naiki bapakmu" perintah pak Wijaya
Lisa pun menurut tanpa dipaksakan dan segera membimbing penis ayahnya memasuki vaginanya
Tindakannya ini membuat para penagih hutang tertawa senang
"Ha..ha..ha..pelacur..pelacur"
"Ayo genjot itu kon**l bapakmu sampai muncrat .. ha..ha..ha" seru pak Wijaya
Akhirnya Lisa pun memompa penis bapaknya dengan cepat.
"Uhh ..aahh.. uh..uh..ahhhhhh" entah Lisa yang merasa ketagihan atau bagaimana membuat Lisa mencengkram bapaknya kuat-kuat dan akhirnya Lisa orgasme diikuti juga sang ayan yang tidak tahan dengan goyangan Lisa akhirnya memuntahkan spermanya bersamman dengan orgasme Lisa
Plok .. plok ..plok terdengar suara tepuk tangan pak Wijaya melihat bapak dan anak saling berhungan
"Bagus .. bagus .. kalian cocok sekali menjadi bintang porno .. ha..ha.." kata pak Wijaya
Lisa menangis memeluk ayahnya
"Maafkan Lisa ayah" bisik Lisa perlahan
"Ini salah bapak nak, bapak telah menghancurkan harapan dan masa depanmu" kata pak Hartono meneteskan air mata
"Ok, cukup"
"Sekarang kalian bawa Lisa kekamar mandi"
"Buat dia bersih" perintah pak Wijaya kepada bodyguard-nya
Akhirnya setelah Lisa dimandikan dan berpakain lengkap Lisa dibawa paksa pergi oleh pak Wijaya untuk selanjutnya dijual kepada seorang germo ternama di kota itu.
Langganan:
Komentar (Atom)






.jpg)












































