Minggu, 06 Januari 2013

aku jadi pemuas nafsu bosku



Pemuas Nafsu Bossku Saat itu aku dalam posisi berdiri
membungkuk sambil berpegangan pada
meja kerja pak Yanto di ruangannya. Pakaian atasku masih lengkap terpakai,
sedangkan celana panjang dan celana
dalamku sudah melorot sampai ke mata
kaki. Pak Yanto sendiri sedang
menyetubuhiku dari arah belakang dengan
hanya mengeluarkan penisnya melalui resleting celananya saja. CREK…CREK…CREK …CREK…CREK … terdengar
bunyi suara becek dari kemaluanku yang
sudah sangat basah “Uuuuhhh…uhhh….­Ake sudah mau dapet
paaaa…ohhhhhh” Aku mulai merintih
nikmat saat orgasmeku terasa akan datang. Pak Yanto mempercepat gerakan pinggulnya
supaya beliau juga bisa mendapat ejakulasi
bersamaan dengan orgasmeku. “A…A…HHHH…HH..”­ Aku mendengan
beliau berteriak tertahan dengan tubuh
bergetar, penisnya ditancapkannya dalam-
dalam pada liang senggamaku. “Ake…ss..saya…k­eluar …” bisiknya
tertahan “AHHHHMMMMMMMMM­MMMMMMMMMMMM
MMMMMMMPPPHHHHH­HHHHH…” Aku sendiri
sedang sibuk menahan jeritan nikmatku
sampai mukaku berubah menjadi merah
padam. SROOOTT …SROT … SROT …srot …srot …
semprotan air mani pak Yanto yang hangat
terasa memancar ke dalam rahimku yang
saat itu sudah berisi janin berumur tiga
bulan yang juga berasal dari benih beliau. Setelah menenangkan diri sampai nafas
kami tidak memburu lagi, pak Yanto
kemudian mengambil tissue untuk
membersihkan kemaluanku dan
kemaluannya untuk kemudian membantuku
memakai celanaku lagi. Tanpa berciuman dulu karena akan
membuat lipstikku berantakan, aku
melangkah ke luar dari ruangan beliau
karena di luar sana sudah menunggu
manajer penjualan yang akan menghadap
beliau. Aku memang sering diminta melayani
Quickly Sex di ruang kerja beliau terutama
di pagi hari, kami hanya membutuhkan 5 -
15 menit saja untuk mencapai orgasme dan
ejakulasi. Salah satu hal yang mengurangi
kenyamananku adalah aku harus menahan
suara erangan nikmatku agar tidak
kedengaran sampai keluar ruang kerja
beliau. Aku bukanlah satu-satunya
karyawan wanita yang beliau tiduri, tapi hanya aku yang beliau minta untuk
melayani Quickly Sex di kantor. Namaku Ake, umurku saat kejadian ini
adalah 34 tahun, statusku sudah menikah
dengan satu orang anak. Aku bekerja di sebuah perusahaan IT dan
Telekomunikasi di Bandung sebagai staf
purchasing merangkap sekretaris untuk pak
Yanto. Sebelumnya aku adalah staf administrasi
biasa, tapi atas permintaan pak Yanto aku
kemudian dipromosikan menjadi staf
purchasing sekaligus melakukan fungsi-
fungsi kesekretariatan­ terbatas. Pak Yanto merupakan direktur pengelola
perusahaan yang juga merupakan pemilik
perusahaan. Beliau merupakan orang yang
sangat simpatik, penyabar dan telaten
dalam mengajari anak buahnya agar bisa
membantunya. Pada waktu pertama kali aku ditempatkan
di bawah beliau untuk menggantikan
sekretarisnya yang mengundurkan diri
karena menikah, aku merasa sangat takut
sehingga sering sekali berbuat salah. Tetapi beliau tetap mempercayaiku malah
pada tahun awal tahun ini beliau
mempromosikan aku sehingga gajiku naik
hampir dua kali lipat. Walaupun aku sekarang sudah lebih kenal
dengan pak Yanto, tapi tetap saja aku sering
merasa tidak terlalu nyaman kalau harus
menghadap beliau. Salah satu yang membuatku kurang nyaman
adalah tatapan mata beliau yang sangat
tajam dan kadang-kadang aku merasa
seperti sedang ditelanjangi. Ada satu perubahan yang aku alami sejak
mendapat promosi yaitu aku berusaha
tampil lebih menarik setiap hari untuk pak
Yanto, aku tak tahu apa alasan pastinya dari
keputusanku ini. Pada suatu hari pak Yanto menugaskanku
untuk mengikuti seminar dan workshop
yang diadakan di sebuah hotel di daerah
Jatinangor, tentu saja materinya sangat
sesuai dengan pekerjaan dan bidang usaha
perusahaan kami. Selain seminar dan workshop yang aku
ikuti, di hotel yang sama ternyata ada acara
lainnya diselenggarakan­ oleh salah satu
pelanggan terbesar kami. Pak Yanto memutuskan untuk ikut acara ini
untuk sekalian bertemu dengan para
pengambil keputusan dari perusahaan
pelanggan kami tersebut. Oleh karena lokasi penyelenggaraan­ yang
sama, otomatis kami mejadi sering bertemu
terutama pada saat makan siang atau coffee
break. Tentu saja sebagai staf biasa aku hanya
berani menyapa beliau saja, tidak lebih dari
itu. Tapi ternyata pak Yanto malah yang mulai
mengajakku mengobrol, awalnya obrolan
biasa seputar pekerjaan di kantor dan
materi seminar, tapi akhirnya topiknya
meluas ke hal-hal yang lebih bersifat
pribadi. Hari ini seminar dan workshop memasuki
hari terakhir tetapi materinya sudah tidak
ada yang baru sama sekali karena acaranya
berupa presentasi dari perusahaan-
perusahaan yang menjadi sponsor
penyelenggaraan­ seminar ini. Pada saat coffee break pagi pak Yanto
mengajakku untuk jalan-jalan saja
meninggalkan acara seminar lebih awal
karena beliaupun sudah tidak ada acara lagi. “Tapi suami Ake nanti sore akan jemput
pa, rencananya kami akan sama-sama dari
sini menengok saudara di Sumedang”
Kataku yang kebingungan dengan ajakannya
antara tidak berani menolak dengan takut
dicurigai suamiku yang lumayan cemburuan kalau nanti tidak jadi ikut ke Sumedang. “Habis jalan-jalan saya bisa anterin Ake
balik lagi ke sini, jadi tetap bisa ikut ke
Sumedang dengan suami kamu” Beliau
coba menjelaskan “Memangnya kita mau ke mana pa ?”
Aku kembali bertanya “Saya ingin ngajak Ake ke Cipanas Garut
untuk berendam di sana, sambil refresing
sebentar biar besok segar lagi waktu mulai
ngantor” “Hmmmm…asyik juga, tapi Ake ga bawa
baju renang” Aku jadi tertarik dengan
tawaran beliau. “Saya juga tidak bawa celana renang kok
… kita berendam air panasnya tidak di
kolam renang, tapi di kolam rendam yang
kita sewa sendiri sehingga kita bisa bebas
berendam pake baju dalam atau telanjang
sekalian” Katanya sambil tertawa “Boleh juga tuh … Ake mau deh ikut, tapi
bapa nanti bener-bener balikin Ake ke sini
lagi ya ?” Aku akhirnya setuju dengan ajakan beliau
dan tidak terlalu memikirkan pakai apa
nanti berendamnya. Aku mau mengikuti ajakan beliau karena
kesempatan ini jarang sekali bisa didapat
oleh staff biasa seperti aku, sebagai boss
dan pemilik perusahaan beliau lebih banyak
berinteraksi dengan level manajer atau
sedikitnya supervisor. Hanya saja posisiku sebagai staff purchasing
sehari-hari sering ditempatkan juga sebagai
sekretarisnya untuk beberapa urusan
administrasi. Aku berharap dengan banyak kesempatan
berbicara dengan bossku ini, aku bisa lebih
mengenal keinginan beliau yang mudah-
mudahan bisa memperlancar pekerjaan dan
karirku di perusahaan. Walaupun begitu aku juga punya sedikit rasa
khawatir, apakah bossku ini punya agenda
lain dengan mengajakku jalan-jalan ke
tempat wisata dengan hanya berdua saja. Kemungkinannya bisa saja memang karena
hanya ingin bersenang-senan­g dengan
mengajak aku, tapi bukan tidak mungkin
juga aku akan diajak menemaninya tidur. Kemungkinan kedua lebih mungkin terjadi
karena pak Yanto mengajakku untuk
menyewa kamar kolam sendiri yang
katanya berendam sambil telanjangpun bisa.
Apakah itu bukan berarti beliau secara halus
mengajak aku “ngamar” ? Sekejap ada perasaan bangga seandainya
beliau memang ingin mengajakku
“ngamar” berarti aku yang staf biasa ini
cukup menarik bagi beliau apalagi aku sudah
tidak muda lagi dan bukan gadis perawan. Kalaupun benar aku akan diajaknya
berhubungan badan saat di Garut nanti, apa
yang harus kulakukan ? Kalau aku menolaknya pasti akan membuat
beliau marah besar, sedangkan kalau
menurutinya ajakannya apakah aku
sanggup memenuhinya harapannya ? Apakah beliau juga akan tetap marah
karena tidak puas dengan pelayananku
walaupun sudah aku turuti keinginannya
untuk bersetubuh ? Apakah setelah melihat bentuk tubuhku
dalam keadaan telanjang bulat, apakah
beliau masih “berselera” terhadapku ? Begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa
aku jawab sehingga akhirnya kuputuskan
akan pasrah saja kalau ternyata pak Yanto
mengajakku berhubungan badan karena
sekarang sudah terlanjur pergi bersamanya. Anehnya saat itu aku sama sekali tidak
mempertimbangka­n statusku sebagai
seorang istri atau bossku yang juga sudah
berkeluarga. Aku hanya masih menyimpan harapan
semoga pak Yanto tidak mengajakku
bersetubuh dan benar- benar hanya ingin
ditemani berjalan-jalan dan berendam di air
panas. Akhirnya kami sampai di Garut, kami tidak
langsung pergi ke areal pemandian air
panas, tetapi mampir dulu ke sebuah rumah
makan untuk makan siang walaupun saat itu
masih kepagian. Di sana kami memilih tempat makan lesehan
di atas kolam yang lumayan romantis untuk
orang yang datangnya berpasangan. Sebagai
bawahannya akupun melayani beliau untuk
lebih nyaman menyantap pesanan kami. Banyak hal yang kami obrolkan, terutama
keingin tahuan beliau mengenai keluargaku
dan juga pengalamanku sebelum bekerja di
tempat yang sekarang. Aku tidak banyak berani bertanya banyak
kalau mengenai latar belakang beliau
kecuali beliau memang sedang
menceritakannny­a. Obrolan ini terus
berlanjut walaupun makanan telah habis,
sehingga aku mulai merasa lebih akrab dengan beliau. Setelah sholat dhuhur
besama, kami kembali melanjutkan
perjalanan menuju areal pemandian air
panas di Cipanas Garut. Hatiku berdebar dengan kencang ketika pak
Yanto membelokkan mobilnya memasuki
halaman salah satu motel di sana yang
mempunyai halaman cukup luas. Dari jendela mobil beliau kemudian
melakukan booking kamar pada beberapa
room boy yang sepertinya memang
menunggu tamu di gerbang pintu motel. Aku mulai merasa gelisah karena dari
pendengaranku, beliau hanya memesan satu
kamar saja yang artinya apakah aku akan
satu kamar dengan dia berendamnya ? Room boy yang diajak bicara oleh pak Yanto
masuk ke dalam front office untuk
mengambil kunci kamar yang dipesan,
kemudian memberikan isyarat agar kami
mengikutinya. Pak Yanto memesan kamar yang paling
besar di sana, jadi aku mulai berharap
mungkin di dalamnya ada lebih dari satu
kamar rendam yang terpisah. Setelah memarkirkan mobilnya di car port
depan kamar, pak Yanto mengajakku turun
dan masuk ke dalam kamar sambil
membereskan pembayaran kamarnya. Ya ampun …. Kamar itu memang besar dan
luas tetapi tetap saja hanya mempunyai satu
kamar rendam dan juga ada tempat
tidurnya. Aku mulai gemetar karena kekhawatiranku
mulai mendekati kenyataan yaitu aku hanya
berdua dengan pak Yanto di sebuah kamar
motel yang jauh dari rumah. “Mau langsung berendam atau istirahat
dulu ?” Tiba-tiba bossku bertanya “I…i..istirahat­ aja dulu, Ake mau istirahat
dulu” Jawabku agak tersendat, aku pikir
dengan meminta istirahat dulu aku bisa
menunda untuk berendam air panas. Siapa tahu kalau pak Yanto mau berendam
duluan sehingga kalaupun aku dipaksa
berendam bisa setelah pak Yanto selesai. Lagi pula kamar ini mempunyai dua ranjang
besar, sehingga aku bisa menghindar untuk
tidak satu tempat tidur dengan beliau. “Kalau begitu kita istirahat barengan aja
dulu, baru nanti berendam bareng juga”
Kata pak Yanto sambil mulai melepas sepatu
lalu membuka bajunya satu persatu sampai
bertelanjang bulat di depanku begitu saja. “Lho … kamu juga buka baju dong, biar
nanti tinggal langsung berendam dan baju
kita tidak kusut” “Ake ti..ti..dak berani pak …” Jawabku
sambil tertunduk dengan badan yang sudah
menggigil. Aku sekarang benar-benar yakin bahwa
pak Yanto memang berniat meniduriku di
sini, bukan hanya sekedar ingin mengajak
berendam di air panas saja. “Kalau begitu saya bantuin ya …” Kata
bossku sambil mendekat dan mulai
membuka kancing kemeja atasku satu
persatu. “Ja..ja..ngan pa…” aku merintih pelan
karena mulai merasa tidak berdaya “Jangan kenapa ?” Tanya bossku lagi,
walaupun dengan suara biasa tapi terasa
sangat mengintimidasi “Ma…maksudnya …e..ehh … Biar Ake aja
yang buka sendiri …” Akhirnya aku
merasa harus menyerah dan pasrah pada
situasi di mana pak Yanto kelihatannya
sudah tidak ingin dibantah lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka
bajuku satu persatu sampai akhirnya tinggal
memakai BH dan celana dalam lalu berdiri
mematung dengan kepala tertunduk di
depan pak Yanto yang dari tadi melihatku
membuka baju. Kemaluanku walaupun masih tertutup celana
dalam kucoba ditutup dengan tangan
kananku, sedangkan tangan kiriku aku
silangkan untuk menutupi dadaku. “Buka juga dong BH dan celana dalamnya” “Ake malu sama bapa …” “Malu kenapa ? Hanya ada kita berdua kok
di dalam sini dan saya kan udah telanjang
juga” Akhirnya aku menuruti juga kemauan beliau
dengan melepaskan “pertahanan
terakhirku” yang membuat kami sama-
sama telanjang bulat sekarang. Walaupun sepanjang jalan tadi aku sudah
mempersiapkan diri untuk terjadinya
peristiwa ini, tapi tetap saja aku sangat
ketakutan saat mengalaminya langsung. Tanpa terasa air mata mulai menggenang di
mataku, tapi aku tidak berani sama sekali
bersuara takut akan membuat suasana
makin runyam. Tanganku aku silangkan di depan tubuh
dengan kedua telapak tangan menutup
kemaluanku sedangkan lengan bagian
atasku dipakai menutupi dadaku setidaknya
putting susuku. Pak Yanto sekarang berdiri tepat di depanku
dengan tubuh tinggi besarnya hampir
menempel padaku. Penisnya yang hitam kemerahan sudah
berdiri tegak dan menempel diperutku.
Kedua tangannya kemudian meraih
tanganku dan melingkarkannya­ ke belakang
tubuhnya sehingga aku jadi memeluk beliau
di bagian pinggang. Daguku lalu diangkatnya dengan tanggannya
sampai wajah kami berdekatan lalu beliau
mencium bibirku dengan lembut sambil
diberi sedikit hisapan-hisapan­ dan kecupan. Aku belum bisa bereaksi sama sekali saat
itu selain mencoba memejamkan mata
dengan air mata yang terus berlinang. Dengan sabar pak Yanto menciumku berkali
kali sampai akhirnya tanpa terasa aku mulai
membuka bibirku yang tipis dan langsung
dimanfaatkan oleh beliau untuk
memasukkan lidahnya ke dalam rongga
mulutku. “Mmmmpphhhhh
….hhheehhhh….mm­mmppphhhh …” Aku
mulai berdesah sebagai reaksi atas ciuman
pak Yanto yang semakin gencar dengan
permainan lidahnya dan mulai mencairkan
keteganganku. Tangan kirinya digunakan untuk memeluk
tubuhku sedangkan tangan kanannya
memegang tengkukku. Tanpa kusadari tanganku yang melingkari
pinggangnya mulai kugunakan untuk
memeluk pak Yanto sehingga tubuh kami
sekarang saling merapat, kulit bertemu
kulit. Kurasakan kemaluanku bergesekan dengan
pahanya yang berbulu sedangkan penis pak
Yanto bergesekan dengan perut dan
payudaraku. Gesekan demi gesekan mulai
membangkitkan gairahku sekaligus juga
keberanianku untuk mulai menyambut aksi
beliau. Kemaluanku terasa mulai lembab ……………. Pak Yanto kelihatannya juga merasakan
kemaluanku yang mulai lembab dari
gesekan dengan pahanya sehingga beliau
mulai lebih intensif menggerak-gerak­an
pahanya pada kemaluanku. Aku meresponnya dengan merenggangkan
pahaku sehingga seluruh kemaluanku
sekarang bisa bergesekan dengan paha pak
Yanto. “Aahhhhhhhhhh …..geli paaa…” Desahku
saat pak Yanto mengalihkan ciumannya ke
telinga dan leher kiriku “Ohhhhh….oohhhh­ …. Ohhhh
….ohhh….paaaa….­ohhhh…” suara
desahanku makin tidak terkendali saat pak
Yanto mulai meremas-remas payudara
kecilku dengan tangan kanannya. Tiba-tiba pak Yanto berlutut di depanku dan
bibirnya langsung memangut putting susuku
untuk dihisap-hisapny­a, sedangkan tangan
kanannya sekarang mengelus-elus
kemaluanku. “Bapaaaa…oohhhh­hh…..paaa….Ake akan
diapain ….ohhhhh…..” aku terus mendesah
hampir tidak berhenti. “Ouchhhhhh…..hh­hhh….shhhh…
shhhh.shhhhhh” Hanya desisan yang bisa
kukeluarkan saat pak Yanto memasukkan
jarinya ke dalam liang senggamaku lalu
mengocoknya dengan cepat. Pelan-pelan kemaluanku mulai becek
dikarenakan menerima rangsangan-
rasangan yang pak Yanto berikan padaku. Rasa takutku sudah hilang sama sekali
demikian juga kekhawatiran akan
mengecewakan beliau karena ternyata aku
terus “digarapnya” walaupun sampai
saat ini aku masih bersikap pasif. Setelah lubang senggamaku semakin becek
dan merekah, pak Yanto lalu berdiri lagi dan
dengan perlahan-lahan menekuk kakinya
sehingga sekarang penisnya ada di depan
vaginaku. Aku mengerti maksudnya yang akan
menyetubuhiku dalam posisi berdiri, tapi
aku belum pernah melakukannya selama
aku menikah dengan suamiku. Jadi aku mencoba membantu beliau dengan
merenggangkan kakiku sambil memajukan
kemaluanku agar liang senggamanya lebih
mengarah kedepan. Ternyata upayaku yang hanya berdasakan
naluri itu cukup berhasil, kurasakan kepala
penis beliau sudah ada di depan liang
senggamaku sambil berputar-putar mencari
posisi yang tepat untuk masuk. BLESSSSSSSSSSSS­SSSSSSSSSSSS …. Penis pak Yanto akhirnya masuk dengan
mulus kedalam liang senggamaku. “UUUUUUUHHHHHHH­HHHHHHHHHHHH………­..
” Tanpa bisa ditahan lagi aku
mengeluarkan suara lenguhan keras saking
nikmatnya. Setelah seluruh batang penisnya masuk, pak
Yanto memelukku dengan kedua telapak
tangannya pada buah pantatku. Kemudian dengan perlahan-lahan dia
meluruskan kakinya sehingga secara
otomatis aku terangkat ke atas oleh
dorongan penisnya pada kemaluanku
seperti sate dengan tusuknya. “Ohhhhhhhh….Ake­ takut jatuh paa ….”
Sambil melenguh nikmat aku juga merasa
takut akan jatuh karena hanya tubuhku
diangkat hanya oleh kekuatan otot penisnya
saja. “Belitkan kedua kaki kamu ke pinggang
saya sebagai pengait supaya tidak mudah
jatuh” Perintahnya
Aku segera mengaitkan kakiku melingkari
pinggangnya dan tanganku memeluk
lehernya, sedangkan kepalaku aku sandarkan pada bahu beliau. Setelah beliau yakin aku menempel dengan
benar pada tubuhnya, dia lalu mulai
menggerak-gerak­kan pantatnya maju
mundur. “Ohhhhh….ohhhhh­….ohhhhh…
ohhhh….bapppaaa­..aaahhhh…o
hhhh….ohhhh….oh­hh…paaa…enaaak”
Pak Yanto menyetubuhiku yang digendong
dalam pangkuannya sambil berjalan keliling
ruangan. Bersetubuh seperti ini benar-benar tidak pernah terpikir olehku dan tidak
pernah terbayangkan akan aku alami
karena suamiku hanya melakukan hal-hal
yang biasa saja. Walaupun pergerakan penis pak Yanto
sangat terbatas, tapi posisi penisnya yang
tegak dan tertekan oleh berat tubuhku
sendiri membuat terasa sangat nikmat
seolah-olah menembus sampai jantungku. “Ohhhh…ohhhhh….­ohhh….ohhhh….oh­hh..”
aku terus mendesah mengikuti gerakan
bossku
Tak berapa lama kemudian pak Yanto
menyandarkanku ke dinding kamar dan
mulai menggenjot penisnya dengan lebih cepat karena beban dari berat tubuhku
sudah tertahan sebagian oleh dinding kamar. “Addduddduuuuhh­hhh…
ohhhhh….ohhhhh…­..ohhhh…
ouchhhh… ..aahhhh….ohhhh­…” desahanku
semakin menjadi-jadi. “AAAAAAAAAAAARR­RRRRRHHHHHHHHHH­H
HHH……………….” Akhirnya aku mengerang
nikmat dengan keras saat orgasmeku
datang. Pak Yanto menurunkan intensitas genjotan
penisnya untuk memberikan kesempatan
padaku menikmati orgasmeku. “Adduuuuuhhhh….­ Enak sekali paaaa”
Bisikku di telinga beliau “Kita sekarang main di ranjang ya sayang
… Saya belum keluar…bantu saya ya
sayang” Balas pak Yanto dengan lembut. Aku hanya bisa mengangguk pelan karena
seluruh tenagaku seolah-olah telah tersedot
habis oleh orgasme tadi. Pak Yanto kemudian menurunkanku sampai
kakiku bisa menapak ke lantai sebelum
kemudian melepaskan penisnya dari
kemaluanku. Penisnya kelihatan sekali masih keras dan
tegak walaupun sekarang warnanya lebih
kemerahan dibandingkan sebelumnya.
Kemudian aku dibopongnya ke ranjang. “Uhhhhhhh….” Aku kembali mendesah
saat beliau melepaskan penisnya dari
kemaluanku. Di tempat tidur aku hanya bisa tergolek
lemas, tapi aku masih ingat permohonan
beliau yang ingin dibantu untuk bisa
berejakulasi olehku. Oleh karena itu kucoba mengangkangkan
kakiku agar menjadi isyarat bahwa aku
masih siap menyambut lagi beliau supaya
mencapai ejakulasi. Aku gosok-gosokkan tanganku pada
kemaluanku supaya tetap merekah dan
basah. Pak Yanto lalu naik ke ranjang sambil
mengocok-ngocok­ penisnya sampai ke dekat
kemaluanku dan langsung memasukkannya
lagi ke dalam liang senggamaku. BLESSSSSSSSSSSS­SSSSSSSSS ……………. “AAAAAAAAAAAAAA­AAHHHHHHHHHHHHH
HHHHHHHH……” Penis pak Yanto benar-
benar bisa mendatangkan kenikmatan
bagiku walaupun aku lihat tidak terlalu
besar atau panjang ukurannya. “Euuhhhhh….euhh­hhh…euhhhh….euh­hhh…
euhhhh…” aku terus melenguh saat pak
Yanto mulai memompakan penisnya dari
atas tubuhku. “Ooooohhhh…ohhh­hh….bapppaaa….t­eruss…
paaa…auhhhhh…a aaahhh” aku meracau Pak Yanto memompa semakin kencang dan
kemaluanku semakin basah bahkan mulai
banjir mengalir keluar. CROK…CROK ….CROK ….CROK ….CROK ….
Kudengar suara penis pak Yanto yang
menembus kemaluanku yang sudah sangat
basah “Ohhhhh…ohhhh….­paaaaa….Ake mauuu
dapet lagiiii….ooohhh­h” Aku beranikan untuk melingkarkan kakiku
pada pantanya beliau untuk membantu
tekanan saat memompa penisnya. “AAAAAAARRRRRRR­RRRRRRRKKKKKKKK­KKK
KKKKHHHHHHHHHHH­H …..” Aku kembali
mengerang saat orgasme keduaku datang Aku coba menekan kakiku yang melilit
pantat beliau supaya bisa menikmati
orgasmeku tapi rupanya beliau juga sedang
menunggu ejakulasinya yang sudah dekat. “Akeeee….saya akan semprotkan di
dalam….AHHH…AHH­H…AHHH…
ahhh….ahhhh….ah­hh” Teriak beliau sedikit
tertahan SRRROOOOOT …..SROOOOOT
….SROOOOTTTT….s­rrrt ….srrrt….srrrt …
kurasakan semprotan air mani bossku yang
sedang menaburkan benihnya di rahimku. “Ahhhhhhhhhhhhh­…..” Pak Yanto
mendesah lega setelah semua air maninya
keluar Kami lalu berciuman dan berpelukan dengan
mesra seperti sepasang kekasih bukannya
boss besar dengan karyawan level
bawahnya. “Kamu bisa menikmatinya sayang ?”
Tanya pak Yanto dengan lembut membuka
percakapan dengan tetap menindihku dan
tanpa menarik penisnya dari kemaluanku. “Bisa pa, enak sekali malah… asalnya Ake
takut sekali…tapi kalau tau bakal enak
kayak ini Ake udah mau dari dulu-
dulunya” Cerocosku panjang lebar “Emangnya kamu ga apa-apa saya
setubuhi ?” Pak Yanto keheranan dengan
jawabanku “Bagi orang seperti Ake, bapa udah milih
Ake untuk disetubuhi saja rasanya udah
gimana gitu ….” Jelasku “Sebenernya waktu bapa ngajak Ake ke
Garut buat sewa kamar rendam, Ake udah
merasa pasti ujung-ujungnya bakal diajak
bersetubuh” Sambungku sambil tanganku
membersihkan noda lipstikku yang
menempel di pipi dan sekitar bibir beliau “Ake ngerti lah kalau orang yang udah
gede mandi bareng bakal ngapain …” “Jadi waktu Ake iyain, itu artinya sudah
termasuk kesediaan Ake disetubuhin
bapa” Kataku agak manja “Kalau Ake
masih perawan mungkin bisa lain ceritanya
atau mungkin juga tetep sama”. “Malah yang Ake paling takutkan bukan
disetubuhinya, tapi takut tidak bisa
memuaskan bapa atau membuat bapa
marah” Sambungku “Ake tidak tahu,
orang-orang gede seperti bapa itu maunya
apa kalau lagi bersetubuh” “Kalau orang-orang kecil seperti suaminya
Ake mah gampang sekali nebak maunya”
AKu masih nyerocos “Ake tinggal
ngangkang dia langsung tembak, selesai …
mmmmpppphhhhhh”­ Pak Yanto hanya tersenyum lalu mencium
bibirku untuk menghentikan omonganku
yang menggelontor hampir tidak berhenti. Kami kembali berciuman mesra dengan
memainkan lidah masing-masing dari cara
menciumnya aku bisa belajar ciuman yang
dalam dan membangkitkan gairah. Selama
ini aku hanya berciuman dengan suamiku
hanya mengadukan bibir saja dan paling banter seperti bertukar ludah. “mmmmmmpppphhhh­hhh….ahhhh…
mpppppphhhhhhh…­…
ohhhhhh… ..mpppphhhh” Saat berciuman aku tidak bisa menahan
desahanku karena penis pak Yanto
walaupun sudah tidak sekeras sebelumnya
kurasakan berkedut-kedut di dalam liang
senggamaku sehingga menimbulkan rasa
geli yang nikmat. Aku kemudian membalasnya dengan
menggerakkan otot kemaluanku untuk
meremas-remas penisnya dengan gemas
sambil tanganku menekan-nekan pantatnya. “Ahhhhhh….” Desahku saat pak Yanto
mencabut penisnya dari kemaluanku dan
berbaring di sampingku. Aku mencoba memberanikan diri
merebahkan kepalaku di dadanya berharap
beliau bersedia memelukku, ternyata beliau
menyambutku dengan mesra, bukan hanya
membalas pelukanku tetapi juga membelai-
belai tubuh dan rambutku. Bossku itu juga minta aku merapikan bulu
kemaluanku karena beliau lebih senang bulu
yang rapi tipis dan minta waktu nanti kami
bersetubuh lagi sudah berubah. Walaupun suamiku sebenarnya lebih suka
kemaluanku berbulu lebat, tapi aku memilih
akan menuruti kemauan pak Yanto saja dan
aku akan cari alasan untuk suamiku. Apalagi dari kata-katanya itu artinya beliau
mau mengajakku bersetubuh lagi di lain
waktu yang membuat hatiku semakin
berbunga-bunga.­ Setelah cukup beristirahat, kami lalu mandi
berendam bareng di bak air panas yang
tersedia di kamar mandi hotel. Kami berendam sambil berpelukan, pak
Yanto memelukku dari belakang sehingga
tangannya bisa memeluk sambil memainkan
kemaluanku, meremas-remas payudaraku
dan memainkan putting susunya. “Geli paaa….ohhhhh…hh­hhhh
….shhhhhhhhh” Aku mulai mendesah dan
mendesis saat pak Yanto menciumi leher dan
kupingku sedangkan jarinya mulai
dikeluarmasukka­n ke dalam liang
senggamaku yang terendam air. Tanpa sadar badanku mulai menggeliat-
geliat karena rangsangan yang dilakukan
beliau. Aku juga merasakan penis bossku itu
mulai mengeras di belakang punggungku
sehingga membuatku semakin terangsang. “Ohhhhhh….bapaa­a…Ake pengen disetubuhi
lagi…shhhhhhh” Aku memberanikan diri
meminta beliau menuntaskan berahiku yang
sudah sampai keubun-ubun. Beliau lalu mencabut jarinya dari liang
senggamaku dan mengangkat pantatku
sedikit sehingga penisnya bisa diarahkan
pada kemaluanku dari arah belakang. BLESSSSSSSSS ……….. “OOOOOOOOOHHHHH­HHHHHHHHHHHHH
………………..nikmat sekali paaa” Erangku
menyambut masuknya penis beliau ke
dalam tubuhku. “Euhhhhh….euhhh­hh…euhhhh…euhhh­hhh…
euhhhh” Aku coba berinisiatif menggerak-
gerakkan tubuhku naik turun di dalam air
sambil berpegangan pada pinggir bak. Gerakan naik turunku menimbulkan
gelombang pada air bak yang makin lama
semakin bergolak tak teratur seperti juga
gairah kenikmatanku yang terus semakin
bergelombang naik. “Heeeehhhhhh ….Heehhhhh ….Heeehhhhh
….Heeehhhhh…” aku mencoba menaikkan
tempo gerakanku tapi tetap saja hambatan
air membuat gerakanku seperti gerakan
slow motion di filem-filem. Pak Yanto mengimbangi gerakanku dengan
menaik turunkan pinggulnya sedangkan
tangan kanannya semakin gencar meremas-
remas payudaraku dari arah belakang dan
tangan kirinya memainkan kelentitku. “Oooohhhh
….ohhhh….ohhhhh­….ohhhh….ohhhh…­..ohhhhh
” Gerakanku semakin liar dengan
rangsangan dari beliau “AAAKEEEE DAPEETTTTT LAGI
…..OHHHHHHHHHHH­HHH” Aku menjerit saat
mendapat orgasme pertama di dalam air. Aku berhenti menggerakkan tubuhku untuk
menikmati gelombang orgasmeku yang luar
biasa bagiku dengan nafas agak tersenggal-
senggal. Pak Yanto masih menggerak-gerak­kan
pinggulnya sehingga penisnya tetap naik
turun di dalam liang senggamaku, tangannya
di silangkan di dadaku sambil meremas
kedua payudaraku dengan lembut. Bibirnya yang hangat kurasakan menciumi
tengkuk dan punggungku berulang ulang
melengkapi kenikmatan yang kurasakan. Pak Yanto memintaku memutarkan badan
supaya posisi kami menjadi saling
berhadapan dengan penisnya masih ada
dalam kemaluanku. Kami berciuman sambil aku memeluknya,
sedangkan tangan beliau memegang kedua
buah pantatku sambil tetap menaik turunkan
pinggulnya. Pelan-pelan gairahku timbul
kembali dan mulai mengimbangi gerakan
pinggulnya dengan menggerakkan pinggulku sendiri naik dan turun. “Ahhhh ….Mmmmmppphhhhh­hh……
oohhhhhhh…..mmp­pppphhhh…” Kami
meneruskan bersetubuh sambil terus
berciuman. Makin lama ciuman kami makin panas, bibir
kami saling melumat dan permainan lidah
yang semakin liar. Gerakan penis pak Yanto semakin kasar,
penisnya dengan keras menyodok-nyodok
ke dalam liang senggamaku sedangkan
pantatku ditekannya kebawah oleh tangan
beliau. “Ohhhhhh
….ohhhhh….ohhhh­hh….paaaa….ohhh­hh….
baapaaaa….aduuu­h hhhh…” Aku hanya bisa
mengerang nikmat tanpa berbuat apa-apa
karena pak Yanto mengambil alih kendali. “Akeeee…. Saya mau keluarrrrrr” pak
Yanto mengerang Aku rasakan tubuh pak Yanto bergetar
keras sedangkan penisnya berdenyut-
denyut dengan tidak kalah kerasnya. SROOOOOOTTT …SROOOTTT…….SRO­OOTTTT …
semprotan demi semprotan air mani bossku
kembali membanjiri rahimku “A..a..aahhhh..­a..a..aahhhh…” pak Yanto
mengerang tertahan Walaupun aku tidak mendapat orgasme lagi
yang berbarengan dengan ejakulasinya pak
Yanto, aku tetap merasa puas karena sudah
mendapat orgasmeku tadi. Aku lalu menciumi dan membelai-belai
wajah bossku yang terlihat cukup kelelahan
setelah bersetubuh denganku di air panas. Otot-otot liang senggamaku kembali aku
kontraksikan untuk memijat-mijat penis pak
Yanto yang juga sedang kelelahan di dalam
tubuhku. Bossku itu kelihatannya sangat suka dengan
apa yang aku lakukan, beliau lalu membalas
ciumanku dan memelukku dengan
mesranya. Beliau kemudian menciumi seluruh wajahku,
leherku dan payudaraku serta menghisap-
hisap putingnya sambil mengucapkan
kepuasannya bersetubuh denganku. Sebagai wanita tentu saja aku merasa
bangga bisa memuaskan beliau yang
merupakan bossku sehari-hari walaupun
sebenarnya aku juga sangat puas karena
mendapat kenikmatan yang lebih tinggi dari
yang aku biasa dapat kalau berhubungan badan dengan suamiku sendiri. Dengan posisiku tetap “menunggangi”
beliau kami mengobrolkan berbagai hal,
mulai dari pekerjaan sampai yang berkaitan
kehidupan pribadi masing-masing, tentu saja
sambil diselingi berciuman mesra. Pak Yanto sempat bertanya apakah aku
pake pengaman, waktu aku balas dengan
pertanyaan kenapa baru bertanya sekarang
padahal beliau sudah dua kali menebar
benihnya ? Beliau menjawab sambil tertawa bahwa
karena aku sudah punya suami maka dia
tidak terlalu khawatir kalau aku jadi hamil
karenanya. Aku memang sekarang memakai IUD
sebagai pengaman karena belum
merencanakan punya anak lagi. Kemudian iseng-iseng beliau aku tanya,
kalau aku lepas IUDnya apakah dia mau
menghamili aku ? Jawabannya cukup mengagetkan tapi sangat
menyenangkanku karena beliau bersedia
“menyumbang” benihnya tetapi tidak
mau menikahiku. Tetapi beliau bersedia
berkomitmen untuk membantu biaya
“anak biologisnya” itu. Setelah selesai berendam, kami lalu
membersihkan badan dan berpakaian lagi
untuk bersiap-siap pulang karena suamiku
sudah akan menjemputku di tempat seminar
tadi. Di tengah perjalanan pak Yanto memintaku
melakukan oral seks, karena aku belum
pernah melakukannya beliau lalu
membimbingku mengenai cara
melakukannya. Sesampainya di tempat parkiran tempat
seminar, pak Yanto belum juga berejakulasi
yang memaksaku untuk lebih agresif
mengemut penisnya. Akhirnya beliau bisa ejakulasi dan
memintaku meminum seluruh air maninya
sampai habis. Ternyata suamiku juga sudah ada ditempat
parkiran menjemputku sehingga
membuatku agak panik dan dengan terburu-
buru aku segera merapikan baju dan
rambutku serta memakai lipstik lagi yang
telah hilang menempel di penis pak Yanto. Setelah semuanya rapih kembali aku keluar
dari mobil pak Yanto dan ambil jalam
memutar dari parkiran yang tidak terlihat
suamiku untuk masuk ke tempat seminar. Aku kemudian menghampiri suamiku
seolah-olah baru selesai seminar dan
mengajaknya berkenalan dengan pak Yanto
… bossku di kantor




imah ku yang lugu



Malam telah larut dan jam telah menunjukan pukul 9 malam. Sedari siang tadi kakakku bersama suaminya menghadiri pertemuan sebuah Network Marketing dan diteruskan dengan pertemuan khusus para leaders.

Untuk menghilangkan suntuk, aku connect ke internet dan berbagai macam situs aku buka, seperti biasa pasti terdapat banyak situs porno yang asal nyrobot. Biasanya
aku langsung close karena aku enggak enak dengan kakakku, tetapi malam ini mereka tidak ada dirumah, hanya bersama dengan seorang baby siters keponakanku, namanya Imah baru berumur 18 Tahun dan berasal dari Wonosobo. Memang agak kolotan dan dusun sekali, tetapi kalau aku perhatikan lagi Imah memiliki body yang lumayan bagus dengan wajah yang tidak terlalu jelek.

Kami biasa mengobrolkan acara tivi atau terkadang Im-im (panggilan Imah sehari-hari) aku ajari internet meskipun hasilnya sangat buruk. Entah kenapa malam ini keinginanku untuk melihat situs porno sangat besar dan libidoku naik saat aku lihat foto-foto telanjang di internet, tanpa aku sadari Im-im keluar dari kamar dan berjalan ke arahku entah sudah berapa lamadia berdiri disampingku ikut memperhatikan foto-foto telanjang yang ada di monitor komputer.

"Apa enggak malu ya..?" tanya Im-im yang membuatku kaget dan segera aku ganti situsnya dengan yang "normal". Dengan berusaha tenang, aku minta Imah mengulangi pertanyaannya.

"Itu lho tadi, gambar cewek telanjang yang Mas buat, emangnya nggak malu kalau dilihat orang?"

Memang Imah sangat lugu dan ndusun kalau soal beginian. Dengan santai aku jawab sembari menyuruhnya duduk disebelahku.

"Begini Im, ini foto bukan aku yang buat, orang yang buat ini (sambil aku perlihatkan lagi situs yang memuat foto telanjang tadi), merekakan model yang dibayar jadi ngapain malu kalau dapat duit."

Kemudian Im-im melihat lebih seksama satu per satu foto telanjang itu dengan posisi badan agak membungkuk sehingga terlihat jelas bulatan kenyal panyudaranya, sudah sejak lama aku menikmati pemandangan ini dan aku sangat terobsesi untuk tidur dengan Im-im. Aku tersentak kaget saat Imah bertanya soal foto dimana seorang cowok sedang menjilati vagina cewek.

"Apa nggak geli ceweknya dijilati kayak gitu terus lagian mau- maunya cowok itu jilatin punya ceweknya padahalkan tempat pipis?".

Dengan otak yang sudah kotor aku mulai berfikir bagaimana aku memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.

"Gini Im, vaginanya cewek kalau dijilatin oleh cowok malah enak, memang awalnya geli tapi lama- lama ketagihan ceweknya. Kamu belum pernah coba kan?" tanyaku pada Im-im sambil tanganku membuka foto-foto yang lebih hot lagi.

"Belum pernah sama sekali, tapi kalau ciuman bibir dan susuku diremes sudah pernah, aku takut kalau nanti hamil". (memang Im-im sangat terbuka tentang pacarnya yang di Bogor dan pernah suatu hari cerita kalau pacarnya ngajak tidur di hotel tapi Im-im nggak mau).

"Kalau Cuma kayak gitu nggak bakal bikin hamil, gemana kalau kamu coba, nanti kalau kamu hamil aku mau tanggungjawab dan nggak perlu bingung soal uang, terus kalau ternyata kamu nggak hamil, kamu nanti aku ajari gaya-gaya yang ada difoto ini. Gimana?"

Dan Im-im cuma diam sambil lihatin wajahku, sebenarnya aku tahu dia naksir aku sudah lama tapi karena posisi dia hanya babysiters yang membuatnya nggak PD.

"Benar ya.., janji lho?" pintanya dengan sedikit ragu. Dan dengan wajah penuh semangat aku bersumpah untuk menepati janjiku, meskipun aku enggak ada niat untuk menepati janjiku. Aku putuskan sambungan internet dan mulai "melatih" Im- im dengan diawali teknik berciuman yang sudah pernah dia rasakan dengan pacarnya, sentuhan halus bibirnya yang lembut membuatku membalas dengan ganas hingga tanpa terasa tanganku telah meremas payudara Imah yang memang masih kencang. Desahan halus mulai muncul saat bibirku menelusuri lehernya yang agak berbulu seolah Im-im menikmati semua pelatihan yang aku berikan.

Aku merasa cumbuan ini kurang nyaman, aku dan Imah pindah ke dalam kamar Im-im, perlahan aku rebahkan tubuhnya dan bibirku bergantian menjelajah bibir dan lehernya sedangkan tanganku berusaha membuka kaos dan BH-nya dan kini separoh tubuh Imah telah bugil membuat libidoku tidak karuan. Tanpa ada keluhan apapun Imah terus mendesah nikmat dan tangannya membimbing tangan kiriku meremas teteknya yang bulat sedangkan payudara kanannya aku lumat dengan bibirku hingga terdengar jeritan kecil Im-im. Entah berapa lama aku mencumbu bagian atas tubuhnya dan sebenarnya keinginanku untuk bercinta sudah sangat besar tetapi aku tahu ini bukan saat yang tepat.

Perlahan aku turunkan celana pendek dan celana dalamnya bersama hingga Imah sepenuhnya bugil dan ini yang membuat dia malu. Untuk membuat Imah tidak merasa canggung aku mencumbunya lebih ganas lagi sehingga kini Imah mendesah lebih keras lagi dan tangan kanannya meremas kaosku untuk menyalurkan gairahnya yang mulai memuncak. Bibirku kini mulai menjalar kebawah menuju vaginanya yang tertutup kumpulan bulu hitam, perlahan aku angkat kedua pahanya hingga posisi selakangannya terlihat jelas. Samar-samar terlihat lipatan berwarna merah di vaginanya dan aku tahu baru aku yang melihat surga dunia milik Im-im. Kini bibirku mulai menjilati vaginanya yang mulai banjir dengan halus agar Im-im tidak merasa geli dan ternyata rencanaku berjalan lancar, desahan yang tadi menghiasi cumbuanku dengan Imah kini mulai diselingi lenguhan dan jeritan kecil yang menandakan kenikmatan luar biasa yang sedang dirasakan babysiters keponakanku. Semakin lama semakin banyak lendir yang keluar dari kemaluannya yang membuatku lebih bergairah lagi, tiba-tiba seluruh tubuh Imah kejang dan suara lenguhannya menjadi gagap sedangkan kedua tangannya meremas kuat kasurnya. Dengan diiringi lenguhan panjang Imah mencapai klimak, tubuhnya bergerak tidak beraturan dan aku lihat sepasang teteknya mengeras sehingga membuatku ingin meremasnya dengan kuat. Setelah kenikmatannya perlahan turun seiring tenaganya yang habis terkuras membuat tubuhnya yang bugil menjadi lunglai, dengan kepasrahannya aku menjadi sangat ingin segera menembus vaginanya dengan penisku yang sedari tadi sudah tegang. "Imah merasa sangat aneh, bingung aku jelasin rasanya" katanya dengan perlahan. "Belum pernah aku merasakan hal ini sebelumnya, aku takut kalau terjadi apa-apa," sambil memelukku erat. Sambil kukecup keningnya, aku jawab kekhawatiranya.­ "Ini yang disebut kenikmatan surga dunia dan kamu baru merasakan sebagian. Imah nggak perlu takut atau khawatir soal ini, kan aku mau tanggungjawab kalau kamu hamil," sambil kubalas pelukannya. Sekilas aku lupa libidoku dan berganti dengan perasaan ingin melindungi seorang cewek, kemudian tanpa disengaja tangan Im-im menyentuh penisku sehingga membuat penisku kembali menegang. Wajah Imah tersipu malu saat aku lihat wajahnya yang memerah, kucium bibirnya dan tanpa menunggu komandoku Im-im membalasnya dengan lebih panas lagi dan kini Imah terlihat lebih PD dalam mengimbangi cumbuanku. Teteknya aku remas dengan keras sehingga Im-im mengerang kecil. Kini bajuku dibuka oleh sepasang tangan yang sedari tadi hanya mampu meremas keras kasur yang kini sudah acak-acakan spreinya dan aku imbangi dengan melepas celana pendekku dan segera terlihat penis yang sudah tegang karena aku terbiasa tidak memakai CD saat dirumah. Melihat pemandangan itu, Imah malu dan menjadi sangat kikuk saat tangannya aku bimbing memegang penisku dan setelah terbiasa dengan pemandangan ini aku membuat gaya 69 dengan Imah berada diatas yang membuatnya lebih leluasa menelusuri penisku. Setelah beberapa lama aku bujuk untuk mengulumnya, akhirnya Im-im mau melakukan dan menjadi sangat menikmati, sedangkan aku terus menghujani vaginanya dengan jilatan lidahku yang memburunya dengan ganas.Karena tidak kuat menahan rasa nikmat yang menyerang seluruh tubuhnya, Im-im tak mampu meneruskan kulumannya dan lebih memilih menikmati jilatan lidahku di vaginanya dan aku tahu Imah menginginkan kenikmatan yang lebih lagi sehingga tubuh bugilnya aku rebahkan sedangkan kini tubuhku menindihnya sembari aku teruskan bibirku menjelajahi bibirnya yang memerah. Perlahan tanganku menuntun tangan kanan Im-im untuk memegang penisku hingga berada tepat di depan mulut vaginanya, aku gosok-gosok penisku di lipatan vaginanya dan mengakibatkan sensasi yang menyenangkan, erat sekali tangannya memelukku sambil telus mengerang nikmat tanpa memperdulikan lagi suaranya yang mulai parau. Vaginanya semakin basah dan perlahan penisku yang tidak terlalu besar mendesak masuk ke dalam vaginanya dan usahaku tidak begitu berhasil karena hanya bisa memasukkan kepala penisku. Perlahan aku mencoba lagi dan dengan inisiatif Im-im yang mengangkat kedua kakinya hingga selakangannya lebih terbuka lebar yang membuatku lebih leluasa menerobos masuk vaginanya dan ternyata usahakutidak sia-sia. Dengan sedikit menjerit Imah mengeluh, "Aduh.., sakit. Pelan-pelan dong" dengan terbata-bata dan lemah kata-kata yang keluar dari mulutnya. Saat seluruh penisku telah masuk semua, aku diam sejenak untuk merasakan hangatnya lubang vaginanya. Perlahan aku gerakkan penisku keluar-masuk liang vaginanya hingga menjadi lebih lancar lagi, semakin lama semakin kencang aku gerakkan penisku hingga memasuki liang paling dalam. Berbagai rancauan yang aku dan Imah keluarkan untuk mengekspresikan­ kenikmatan yang kami alami sudah tidak terkendali lagi, hampir 15 menit aku menggenjot vaginanya yang baru pertama kali dimasuki penis hingga aku merasa seluruh syaraf kenikmatanku tegang. Rasa nikmat yang aku rasakan saat spermaku keluar dan memasuki lubang vaginanya membuat seluruh tubuhku menegang, aku lumat habis bibirnya yang memerah hingga Im-im dan kedua tanganku meremas teteknya yang mengeras. Akhirnya aku bisa merasakan tubuh Im-im yang lama ada dianganku. Kami berdua tergolek lemah seolah tubuhku tak bertulang, kupeluk tubuh Imah dengan erat agar dia tidak galau dan setelah tenagaku pulih aku berusaha memakaikan baju padanya karena Im-im tidak mampu berdiri lagi. Saat aku hendak mengenakan CD aku lihat sedikit bercak merah dipahanya dan aku bersihkan dengan CD ku agar Im-im tidak tahu kalau perawannya sudah aku renggut tanpa dia sadari. Kami berdua melakukan hal itu berulangkali dan Imah semakin pintar memuaskanku dan selama ini dia tidak hamil yang membuatnya sangat PD. Tanpa disadari 2 tahun aku menikmati tubuhnya gratis meskipun kini Imah tidak menjadi babysiters keponakanku sebab kakakku telah pindah rumah mengikuti suaminya yang dipindah tugaskan ke daerah lain. Sekarang Im-im menjadi penjaga rumahku dan sekaligus pemuas nafsuku saat pacar-pacarku tidak mau aku ajak bercinta. Saat lebaran seperti biasa Imah pulang kampung selama 2 minggu dan yang membuatku kaget dia membawa seorang cewek sebayadengan Imah dan bernama Dina yang merupakan sepupunya. Memang lebih cantik dan lebih seksi dari Imah yang membuatku berpikir kotor saat melihat tubuh yang dimiliki Dina yang lugu seperti Imah 2 tahun lalu. Pada malam harinya, setelah kami melepas rasa kangen dengan bercinta hampir 2 jam, Imah tiba-tiba menjadi serius saat dia mengutarakan maksudnya. "Mas, aku sudah 2 tahun melayani Mas untuk membereskan urusah rumah dan juga memberikan kepuasan diranjang seperti yang aku berikan saat ini," Imah terdiam sejenak. "Aku ingin tahu, apakah ada keinginan Mas untuk menikahiku meskipun sampai saat ini aku tidak hamil. Apa Mas mau menikahiku?" Aku terhenyak dan diam saat disodori pertanyaan yang tidak pernah terlintas sedikitpun selama 2 tahun ini. Lama aku terdiam dan tidak tahu mau berkata apa dan akhirnya Imah meneruskan perkataannya. "Imah tahu kalau Mas nggak ada keinginan untuk menikahiku dan aku nggak menuntut untuk menjadi suamiku, 2 tahun ini aku merasa sangat bahagia dan sebelum itu aku telah mencintai Mas dan menjadi semakin besar saat aku tahu Mas sangat perhatian denganku." Imah terdiam lagi dan aku memeluknya erat penuh rasa sayang dan Imah pun membalas pelukanku. "Tapi.., aku ingin lebih dari ini. Akuingin bisa menikmati cinta dan kasih sayang seorang suami dan itu yang membuatku menerima pinangan seorang pria yang rumahnya tidak jauh dari desaku." Aku terhenyak dan menjadi lebih bingung lagi dan belum bisa menerima kabar yang benar-benar mengagetkanku. Kami berdua hanya bisa diam dantanpa terasa meleleh air mataku dan aku baru merasa bahwa aku ternyata benar-benar menginginkannya­, namun ternyata sudah terlambat. Keesokan harinya aku mengantar Imah ke terminal untuk kembali pulang ke desanyadan menikah dengan seorang duda tanpa anak, menurutnya calon suaminya akan menerimanya meskipun dia sudah tidak perawan. Dengan langkah gontai aku kembali ke mobilku dan melalui hari-hariku tanpa Imah.

Welcome In Blogging Is My Life

Contoh Sliding Login Dengan JQuery

Disamping ini adalah contoh Sliding Login menggunakan JQuery. Login Form Disamping hanya Contoh dan tidak dapat digunakan layaknya Login Form FB, Karena Blog ini terbuka untuk umum tanpa perlu mendaftar menjadi Member

Tutorial Blog

Untuk membuatnya Silahkan : Klik Disini

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!