Minggu, 23 Desember 2012

Jeng Yati, Si Istri Gatal




Jeng Yati hanya menurut saat Bu Asih, ibunya  memaksa dan mengancamnya untuk tidak masuk sekolah selama 7 hari dan Bu Asih, ibunya  mengancam tidak mau membiayai sekolahnya kalau ia tidak menurut ibunya. Yati hanya menurut saat ibunya mengajak rumah ke Mbah Bejo tua ompong berumur 70an yang jauh dari rumah penduduk di dekat hutan. Ia hanya diam dan menangis mendengar ibunya menangis meraung-raung, entah apa yang membuatnya Bu Asih, ibunya  menangis. Yang diketahui Jeng Yati yang saat itu berumur 18 tahun, perut ibunya yang tadinya menggelembung sudah mengempis saat keluar dari kamar depan rumah Mbah Bejo.
“Ayo minum ini, Asih ..” kata Mbah Bejo menyodorkan minuman keruh kepada ibunya yang berumur 38 tahun yang tampak loyo dan baru kali ini di dengar Jeng Yati seseorang memanggil ibunya tanpa sebutan Bu, Jeng, atau Nyonya.

Kemudian selama 3 hari Mbah Bejo selalu menyodorkan minuman keruh kepada ibunya. Selama itu Bu Asih hanya tidur sehingga Jeng Yati merasakan ngeri oleh pandangan Mbah Bejo kepadanya. Bahkan, entah kenapa selangkangan Jeng Yati tiba tiba basah bahkan pada hari ke dua ia merasakan celana dalamnya basah dan perasaan aneh seolah bibir vaginanya terasa gatal dan juga liang vaginanya seperti digelitik sehingga ia mengatupkan kedua pahanya dan menekan selangkangannya agar mengurangi rasa gatal di  bibir vagina dan di liang vagina saat Mbah Bejo menatap tajam kedua matanya. Pada hari ke 4, kembali Bu Asih, ibunya  yang sudah bugar kembali meraung-raung di kamar praktek Mbah Bejo. Siangnya, Mbah Bejo memberikan minuman bening kepada ibunya. Jeng Yati kini melihat ibunya lebih bugar dan bersemangat, bahkan malam itu ibunya hanya memakai daster tanpa mengenakan celana dalam dan BH nya saat diajak Mbah Bejo makan malam. Puncaknya, malam hari ke 4, kamar yang ditempati ibunya yang biasanya disinari lampu tempel minyak kini diterangi lampu tekan, lampu strong king sehingga kamar Mbah Bejo terang benderang. Tengah malam, Jeng Yati merasa pusing karena ranjang yang ditiduri bersama ibunya bergoyang hebat. Jeng Yati hanya terbelalak melihat posisi tidurnya berbalikan dengan Bu Asih, ibunya. Ia merasa lemas tak bertenaga melihat ibunya tidur tertelentang dengan kedua kaki terkangkang. Jeng Yati menelan ludah berkali-kali melihat penis berbintil-intil Mbah Bejo tengah menyeruak, menyodok-nyodok liang vagina ibunya, liang vagina dimana ia dilahirkan itu tengah merasakan besarnya penis berbintil Mbah Bejo. Untuk pertama kali dalam hidupnya Jeng Yati melihat jelas penis orang dewasa yang membuat selangkangannya terasa lembab. Lagipula, penis yang dilihatnya jauh lebih eksotik dari buku putih yang dipinjami oleh  Mas Parno, bukan saja keras, panjang, besar dan hitam, tapi urat-urat yang melingkar-lingkar di permukaan penis yang jelas jelas berbintil bintil. Bahkan, Jeng Yati begitu jelas melihat bibir vagina ibunya  keluar masuk mengikuti genjotan penis berbintil Mbah Bejo yang keluar masuk dengan gagahnya di liang vaginanya
 
“Aaaggghhhhh Mbaaaaaah….Beeeejooooooo…akuu keluaaaar…akuu metuuuuuuu…akkkuuuuu keluaaaaar teruussssshhhhhzzzzz……”terdengar ibunya melolong dan begitu jelas dilihat Jeng Yati penis Mbah Bejo menghujam dalam dalam di liang vagina ibunya  dan melelehlah lendir putih dari liang vagina ibunya dimana pantat ibunya terus menyentak-nyentak, dan Jeng Yati teringat akan buku putih yang dipinjami mas Parno. Ibunya mengalami multiple orgasme, menurut buku putih mas Parno, seorang wanita bisa merasakan multiple orgasme bila sang laki-laki pandai dalam persetubuhan. Jeng Yati dengan jelas bagaimana lendir vagina kental ibunya terus keluar membasahi sprei saat Mbah Bejo terus menghujam dalam dalam penis berbintilnya dengan keras di liang vagina ibunya.
“Mbaaaah Bejooo…. Pejuuukuuu metuuuu teruuuusszzzz mbaaahhhhhgggggzzz…..” ibunya terus menerus merintih rintih keenakkan.
Liang vagina Bu Asih terus mengeluarkan lendir maninya sehingga ia seolah seperti anak kecil mengompol, hanya mengompol bukan air kencing tapi lendir hasil persetubuhan yang bening dan hangat
“Ampuuuun Mbaaaaah Bejoooooo….. sudaaaaaaah jaaaangaaannn anaakkuuuuuu…” ibunya  merintih
Jeng Yati hanya merasakan selangkangannya dingin.
“Looh …. Anakmu mewarisi sifatmu, Asih …” kata Mbah Bejo
Jeng Yati hanya merasakan jilatan-jilatan di selangkangannya, pada klitorisnya. Di bibir vaginanya yang mana ia sering menggosok-ngosoknya ke guling.
“Jaaaangaaaaaan Mbaaaah Bejoooo ….. akuuuu sajaaaaaa…….” rintih Bu Asih
“Loh, kan kamu pengennya gak bisa hamil lagi… torokmu suka sekali sama kontol. aku jamin…. Mbah Bejo jamin nanti macam-macam kontol bisa merasakan torokmu ... kamu akan merasakan macam-macam bentuk kontol hehe …Kamu juga gak mau tetap hamil, kan? Tapi kamu minta air susumu keluar walau gak hamil….Atau sekalian tak hamili kamu, Asih ….. biar geger sekalian …. Perempuan seperti kamu… nggak ada suami tapi hamil he he he …”terdengar ancaman Mbah Bejo terkekeh-kekeh.
“Jaaaaangaaan … Mbaaah Bejoooooo……….” Bu Asih yang terus orgasme sambil menyentak-nyentakkan pantatnya
“Makanya….. aku hanya pengen jilati tempik dan itil anak gadismu ……” kata Mbah Bejo
Jeng Yati baru kali ini seseorang, laki-laki yang dengan enaknya mengatakan kata-kata yang selama ini tabu diucapkan maupun didengar olehnya..Kontol ... torok ... tempik .... itil yang keluar dari mulut Mbah Bejo yang tengah menyetubuhi ibunya. Jeng Yati yang tak pernah tahu kapan celana dalamnya terlepas hanya menahan nafas saat kegatalan merasakan kegelian yang amat sangat di bibir vaginanya yang dilumat dan disedot sedot Mbah Bejo.Jeng Yati tak kuat menahan rasa geli itu dan ia merasakan lendir vaginanya menyemprot dan srrooooop,….. sroooppp …. Terdengar oleh Jeng Yati lendir vaginanya disedot sedot Mbah Bejo dan pinggulnya tersentak sentak merasakan orgasme bersamaan dengan ibunya yang vaginanya kegatalan tengah dijejali penis berbintil Mbah Bejo. Sampai  hampir pagi, Mbah Bejo terus menyetubuhi Bu Asih dan Jeng Yati pun merasakan tiga kali tempik dan itilnya dijilati Mbah Bejo dan 3 kali pula Jeng Yati merasakan orgasme malam itu yang membuatnya lemas dan tertidur.

Pagi harinya, Jeng Yati merasa lemas dan celana dalamnya tetap tak ada di selangkangannya. Bibir vagina dan kelentitnya terasa gatal-gatal geli. Begitu Jeng Yati keluar kamar, dan terdengar suara ibunya mendesah merintih dan bahkan mengerang di kamar sebelah. Jeng Yati pun mendekat pintu kamar berselambu yang tidak tertutup rapat dan tengkuknya pun berdiri dan tubuhnya yang ranum bergetar, betapa tidak…Bu Asih, ibunya saat itu tertelentang di ranjang kecil tengah dikerubuti 3 pria tua. Pria pertama berkulit hitam telanjang kedua tangannya memegang kepala ibunya tengah menyodok-nyodokkan penisnya yang besar pendek ke mulut ibunya.
“Oraaal…”desis Jeng Yati
Matanya nanar kembali melihat pria tua kedua tengah meremas remas payudara Bu Asih, ibunya yang begitu montok, tidak seperti kemarin-kemarin dan kedua puting susunya yang besar mencuat, juga tidak seperti biasanya dan yang paling gila kedua puting susu ibunya meneteskan dan menyemburkan air susu, seperti yang dikatakan Mbah Bejo tadi malam sehingga dengan ganasnya pria tua itu menyedot nyedot kedua payudara montok Bu Asih, ibunya tanpa henti seperti bayi raksasa yang kehausan mengempot kedua payudara montok ibunya seolah takut direbut orang, bukan saja menyedot-nyedot puting susu ibunya tapi juga memagut kedua payudara ibunya yang semakin montok meninggalkan bekas pagutan-pagutan merah hampir di semua permukaan payudara montok. Pria ketiga tak lain Mbah Bejo begitu ganas dan liarnya menyodok-nyodokan penis besar panjang berbintil ke vagina ibunya. Jeng Yati pening dan pingsan melihat ibunya dikerjain 3 pria tua. Akhirnya, begitu ia sadar, ibunya tengah menunggunya dan saat itu pula ibunya mengajak pulang Jeng Yati yang merasakan lendir vaginanya terus meleleh dari liang vaginanya. Hampir lebih dari setahun berlalu, Jeng Yati berusaha melupakan apa yang pernah dilihatnya dan dirasakannya, walaupun sulit karena Jeng Yati akhirnya menyukai untuk mengelus-elus vaginanya sendiri, baik dengan jari-jari kecilnya atau menggesek-ngesekan gulingnya sampai Jeng Yati orgasme. Hampir dua hari sekali ia masturbasi.

##########################
Praktek Kedua

Jeng Yati terhenyak dan tubuhnya bergetaran seakan akan pingsan saat malam itu, di rumah yang sedang sepi, membuka selambu kamar kakak laki-laki ibunya, Pak De Sur untuk meminta uang saku yang biasa Jeng Yati minta. Di usia ke 18, secara nyata kedua kalinya melihat seperti Jeng Yati pernah membaca di buku putih yang dipinjami teman-temannya. Pak De Sur yang bujang lapuk, berumur sekitar 46 tahun, begitu sayang padanya bahkan Jeng Yati seringkali tidur bersama Pak de Sur yang suka memakai sarung dan kaos singlet saat tidur. Akhir-akhir ini memang, Jeng Yati sering kali terjaga dan tertidur kembali karena Pak De Sur tiba-tiba memeluk erat tubuhnya dan yang selama ini dirasakan Jeng Yati benda keras yang menekan punggungnya atau pantatnya tengah dilihatnya.
“wwhh kontool…...kontol Pak De Sur ”desis Jeng Yati. “kontol laki-laki dewasa lagi..”
Tanpa terasa selangkangannya lembab dan basah saat melihat bagaimana Pak De Sur sedang mengocok penisnya yang besarnya kurang lebih sebesar pegangan raket tenis dan dilihatnya Pak De Sur memejamkan kedua matanya dan…
“Yaaaaatiiiiiiiiiii…………” desisnya dan dilihatnya penis Pak De Sur memuncratkan air mani yang tercecer di kasurnya, dimana hampir tiap malam ditiduri Jeng Yati bersama Pak De Sur.
Jeng Yati begitu basah di selangkangannya, lendir dari liang vaginanya dan membasahi celana dalamnya. Sedikit berkunang-kunang karena melihat Pak De Sur mengocok penisnya, kemudian penisnya memuncratkan air mani dan Pak De Sur mendesiskan namanya saat Pak De Sur menyemburkan air maninya. Setelah itu, Jeng Yati sering kali menemui Pak De Sur mengocok penisnya baik di kamar atau saat Pak De Sur berlama lama di kamar mandi. Sedangkan Jeng Yati cepat-cepat ke kamarnya dan memeluk gulingnya yang selama ini teronggok di pojok kamarnya dan mulailah ia menggesek-gesek sang guling ke selangkangannya yang basah kuyup sampai hanya merasakan basah dan pantatnya tersentak sentak saat orgasme
“Pak De Suuuuur …………..” desisnya.
Tak lama dari kejadian pertama, mungkin karena senangnya mendapat nilai baik, seperti biasanya Jeng Yati langsung masuk kamar Pak De Sur karena seperti biasanya Pak De Sur akan memberi permen dan uang yang cukup banyak. Siang itu, Jeng Yati langsung masuk kamar Pak De Sur tanpa mengetuk pintunya, karena memang rumah sepi dan memang Jeng Yati ingin membuat kejutan dengan masuk pintu pelan-pelan dan membuka nilai-nilai ujiannya. Dua mata Jeng Yati melotot dan menatap tajam saat pagi itu, Pak De Sur tengah mengocok penisnya dan menciumi foto dirinya.
“Yatiiiiii…….. ooocchhggggghhhhh …….” Jeng Yati melihat bagaimana Pak De Sur menciumi foto dirinya bersanggul sebesar 10R yang biasa di gantung di sebelah meja rias Jeng Yati......
“Ooohccfhh kamu Yatiiii ….. “ Pak De Sur merintih saat melihat Jeng Yati tengah terbengong-bengong
“Siniiii Yatiiiii …..”Pak De Sur merintih.
Jeng Yati pun dengan kebingungannya mendekat ke Pak De Sur dan tanpa terasa menjatuhkan buku raportnya. Jeng Yati begitu panggilan Pak De Sur menggema dan tanpa terasa selangkangannya menjadi lembab

“Pak De Sur tadi pijat dan punya Pak De Sur yang ini belum dipijat…” kata Pak De Sur sambil menyorongkan batang kemaluannya yang pendek gemuk sebesar kaleng Axe.
“Pijat ini Yatiii…” pinta Pak De Sur dan Jeng Yati pun dengan perasaan tak karuan Jeng Yati memegang penis Pak De Sur yang selama ini dirasakannya mengeras saat ditekan di punggungnya atau di pantatnya saat Jeng Yati tidur bersamanya.
“Yatiiii…” Pak De Sur mendesis saat kemenakannya, Jeng Yati memegang penisnya yang sudah ngaceng berat.
“Kocok Yatii…..” Pak De Sur memerintah Jeng Yati.
“Pakai Minyak Yatiiiii….”perintahnya sambil menyodorkan botol baby oil ke Jeng Yati yang langsung menerimanya dan melumuri penis Pak De Sur dengan baby oil dan dengan kesadarannya Jeng Yati mengocok penis Pak De Sur tanpa dikomando karena celana dalam Jeng Yati sudah basah merasakan lendir dari liang vagina Jeng Yati mulai meleleh.
Antara kesadaran dan kebingungannya Jeng Yati terus mengocok penis gemuk sebesar kaleng Axe Pak De Sur yang blingsatan merasakan elusan jari-jari tangan Jeng Yati
“Paaak Deeee ……”Jeng Yati mendesah saat Pak De Sur meremas kedua payudara ranum Jeng Yati yang masih terbungkus BH tipisnya.
Jeng Yati pun merasakan celana dalamnya basah saat dengan ganasnya kedua tangan Pak De Sur semakin liar meremas-remas kedua payudara ranum Jeng Yati.
“Ayooo cepaaat Yatiiiii …. Paak Deee enaaaak …. Koocookk cepaaat …” Pak De Sur semakin blingsatan dan merasakan penis Pak De Sur membesar dan berdenyut-denyut cepat…..
“Yaaaaatiiiiiii…..” dan muncratlah air mani Pak De Sur menyembur menyemprot nyemprot sehingga membasahi seragam SMA Jeng Yati.
“Paak Deeeee……..” desis Jeng Yati mengetahui pertama kalinya melihat muncratnya air mani laki-laki dewasa yang keluar karena kocokan jari tangannya.
Jeng Yati segera keluar kamar saat mendengar kunci ruang depan berputar dan dengan sedikit berlari ke kamar mandi karena ibunya yang sudah lebih dari 11 tahun minggat dari  bapak Jeng Yati sehingga Bapak Jeng Yati tak mau menceraikan Bu Asih sehingga ibunya bukan juga janda. Bu Asih sedang membuka pintu depan pulang dari kerjanya sebagai guru. Ya, seorang ibu guru, ibu guru SD yang selalu gatal minta disetubuhi.

Jeng Yati sempat menyambar handuk saat masuk kamar mandi. Ia pun tak kuasa mengontrol dirinya yang sudah kepalang basah merasakan basahnya celana dalamnya. ’ Karena nafsunya sudah membubung dimana kelentitnya dan bibir vaginanya dan vagina Jeng Yati begitu gatal, begitu masuk kamar mandi ia langsung melepas celana dalamnya bersama dengan rok seragamnya yang basah oleh air mani Pak De Sur. Jeng Yati pun duduk di closet dan mengkangkangan kedua kakinya dan jari-jarinya mulai menari nari menggosok ngosok kelentit nya dan bibir vaginanya yang sudah kegatalan. Hampir 5 menit ia mempermainkan kelentit dan bibir vaginanya dan mendekati klimaks orgasmenya….tapi
“Yati ngapain kamu? Sini Pak De bantu…. Buka pintunya”
Jeng Yati yang sudah amat sangat kegatalan membuka kunci dan pintu kamar mandi didorong oleh Pak De Sur dan mengunci pintu itu kembali dan langsung nyosor ke selangkangan keponakannya.
“Aduuuuhhh Pak De Sur eeennnaaaagghhhhh iiitiiiiiilkuuuuu …. Tempiiiikkuuuuu ……” tak ada lagi kata tabu dan perasaan malu, Jeng Yati yang selama ini santun sudah mengatakan kata-kata itil ... tempik ....
“Ampuuuun Pak De Suuuuuur..” Jeng Yati mendesah keras saat Pak De Sur menyedot-nyedot bibir vaginanya..
“Oooooggghhhhhh…..lidaaaahmuuuu Pak De Suuuuur….ampuuuun  ngngngngngngn’ Jeng Yati mengerang saat lidah Pak De Sur menerobos masuk ke liang vaginanya yang masih perawan dan pantatnya yang mulai padat itupun tersentak-sentak hebat saat orgasmenya meledak pertama kali oleh tusukan lidah Pak De Sur.
Sorenya Pak De Sur mengajak Jeng Yati untuk membeli hadiah atas hasil rapornya dan Pak De Sur membelikan alat-alat kecantikan dan sebuah kimono dan sebuah celana dalam aneh buat Jeng Yati sebuah celana dalam yang hanya bisa menutup bibir vaginanya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu, yang Jeng Yati tahu setelah beberapa tahun, saat bersuami, bahwa nama celana dalam itu disebut G string, dan BH yang berlubang dimana hanya menutup payudara sekalnya yang ranum sedang membiarkan puting susunya yang kecil mencuat. Dengan senang hati, Jeng Yati menerima hadiah itu dan Pak De Sur tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang saat Jeng Yati akan memberikan kejutan pada ibunya.
“Sssst nanti saja.. kan lebih baik kamu pakai dulu dan tunjukkan kamu dah bisa bersolek …”kata Pak De Sur .

Jeng Yati pun menurut dan dengan keterbatasan pengetahuannya, ia bersolek memakai kaos  dan memoles bibirnya dengan lipstik merah merekah.
“Pakai ini Yati…” Pak De Sur menyuruh Jeng Yati melepas kaosnya dan ia menyerahkan bungkusan berisi G-String, BH bolong dan kimono.
Jeng Yati pun menuruti permintaan Pak De Sur yang kemudian keluar kamar. Ia keluar kamar dan dilihatnya Pak De Sur sedang mengintip kamar Bu Asih, ibunya. Pak De Sur melihat Jeng Yati dan meletakkan jari telunjuknya di tengah-tengah bibirnya sambil mendekatinya. Jeng Yati hanya menurut saat Pak De Sur menyeretnya mendekati kamar Bu Asih, ibunya, sambil terus memberikan isyarat untuk diam. Jeng Yati pun terkesiap saat mengintip di dalam kamar ibunya. Dilihatnya Pak Lik Ali, yang biasa dipanggil Lik Ali, yang menyewa toko kecil di samping rumah Jeng Yati, tengah menggumuli ibunya  yang setahu Jeng Yati tidak pernah lagi dikunjungi ayahnya lebih dari 11 tahun dan Jeng Yati begitu ingat saat berumur 5 tahun saat ibunya mengajak pergi dirinya ke tempat yang jauh dari bapaknya yang sekarang mereka tempati atas saran Pak De Sur, tersungkur. Jeng Yati dan bahkan ibunya sekalipun tak tahu dalam hati kecil Pak De Sur, yang awalnya ingin meniduri adiknya, Bu Asih. Tapi malah anak alias keponakannya Pak De Sur, Jeng Yati, menjadi incarannya. Pak De Sur akhir-akhir ini tak lagi kuat menahan nafsu birahinya, saat tidur bersama Jeng Yati, apalagi Pak De Sur jarang sekali pakai cawat saat tidur, sehingga tanpa sengaja penisnya menggesek paha ranum Jeng Yati. Jeng Yati hanya terperangah melihat ibunya, bukan saja digumuli Lik Ali, tapi Lik ALi sudah membuka resleting daster ibunya  dan Lik Ali mengual kedua payudara montok ibunya dan dengan ganasnya Lik ALi meremas remas bahkan mulut berbibir tebal hitamnya tengah menyedot nyedot kedua puting susu ibunya dan Jeng Yati begitu serasa kedua matanya lepas saat dilihatnya kedua puting susu ibunya  menyemburkan air susu. Jeng Yati teringat kata-kata Mbah Bejo, ibunya tidak akan hamil tapi kedua payudara montoknya akan mengeluarkan air susu apabila ada laki-laki yang menjilati kedua puting susu ibunya. Mulut hitam tebal Lik Ali terus menyedot-nyedot payudara kiri Bu Asih, ibunya dan payudara kanan Bu Asih, ibunya diremas-remas secara ganas oleh Lik Ali dan tangan kanan Lik Ali tengah memelorotkan celana dekil baunya dan mengeluarkan penis hitam panjang dan penis itu jauh lebih besar dari penis Pak De Sur yang hanya sebesar kaleng Axe. Penis hitam besar panjang Lik Ali yang sudah ngaceng pun berdenyut-denyut dan kepala jamurnya yang besar digesek-gesekkan ke vagina ibunya
“Wwwwaaaaaduuuuuuugggggggghhhhzzzz.” ibunya mendesah berat dan mengelenggelengkan kepalanya…
“Kenapa Bu Asih?” tanya Lik Ali
“Koooontoooolmuuuu Lik Aliiiiiii…. Gedeeeee bangeeeetttzzzz….”
Jeng Yati yang terangsang berat tak lagi kuasa menolak saat Pak De Sur menggelandangnya ke kamar Pak De Sur. Pak De Sur mengunci pintu kamar sambil memelorotkan sarungnya dan menubruk Jeng Yati sampai tertelentang di ranjang, Pak De Sur pun menciumi wajah Jeng Yati dan untuk pertama kali Jeng Yati merasakan bibir laki-laki yang Pak De Sur, pak denya sendiri melumat habis bibirnya

Sementara kedua tangan Pak De Sur tengah meremas remas kedua payudara ranumnya yang tak lagi terbungkus BH. Tangan Pak De Sur pun terus menyusuri perutnya dan turun terus dan selangkangan Jeng Yati yang basah itupun langsung digosok-gosok jari-jarinya
“Kamu dah teles, Nduk…. Torokmu dah basah, Yatiiii” Pak De Sur mendesah dengan kedua mata nanar, menggosok-ngosok vagina Jeng Yati
Beberapa saat kemudian, Jeng Yati sudah tak dapat lagi mengontrol dirinya tersentak saat jari Pak De Sur menerobos masuk ke liang vaginanya.
“Jangan Pak De Sur …”sergahnya.
“Oohhh maaf kamu masih perawan,…..”kata Pak De Sur menyadari.
Kalau begitu mulutmu aja” kata Pak De Sur langsung mengkangkangi Jeng Yati yang tidur tertelentang di ranjang kamarnya.
Jeng Yati pun gelagapan saat penis Pak De Sur yang gemuk sebesar kaleng Axe menyeruak dan menembus bibir dan mulutnya, pertama kali dalam hidupnya, Jeng Yati melakukan oral dengan laki-laki yang tak lain Pak De Sur nya sendiri, kakak Bu Asih, ibunya
Pak De Sur begitu bersemangat karena merasakan kelembutan mulut Jeng Yati yang terus gelagapan dan karena kesulitan nafas secara tak sengaja menekan penis Pak De Sur yang sudah berdenyut-denyut dan
“Yaaaatiiiiiiiii…. Telan pejuuuuukuuuuuu, nddduuuukkkk……”rintih Pak De Sur saat penisnya berdenyut-denyut cepat dan creeet creeet creeet, air mani Pak De Sur memenuhi mulut Jeng Yati yang langsung tersedak dan terbatuk-batuk sehingga cairan putih itu pun keluar dari mulut Jeng Yati.
Entah kenapa tiba-tiba Pak De Sur yang lemah lembut menempeleng wajah Jeng Yati yang wajahnya berlepotan air mani Pak De Sur
“Maaf….”hanya itu keluar dari mulut Pak De Sur dan Jeng Yati pun menangis.
Pak De Sur kebingungan sambil membersihkan air maninya di wajah Jeng Yati.
“Maaaf … ssst diaam Yatiii …..Pak De gak kontrol karena saking enaknya sama kuluman mulutmu….”
“Pak Deeee…” Jeng Yati mendesah saat Pak De Sur yang merasa bersalah menempelengnya menyusupkan kepalanya di antara selangkangannya.
Terbayanglah wajah Mbah Bejo yang pernah mengoral vagina Jeng Yati tapi Pak De Sur ini begitu lembut dan tak kurang dari 2 menit Jeng Yati langsung merasakan orgasme oleh oral Pak De Sur. Pak De Sur langsung paham, atas kelemahan Jeng Yati dan Pak De Sur menelentangkan kedua kaki Jeng Yati terjuntai ke lantai dan kembali Pak De Sur menjilati vagina Jeng Yati dan dalam satu jam Jeng Yati telah merasakan 6 kali orgasme dan akhirnya Pak De Sur pun menyodorkan penisnya ke mulut Jeng Yati dan kedua insan berbeda usia jauh itupun saling jilat dan sedot dengan posisi 69.

Pak De Sur sangat tahu Jeng Yati sangat liar saat selangkangannya, vaginanya dijilati bahkan Jeng Yati seperti gila dan ganas kalau wilayah sensitinya itu disedot-sedot. Pak De Sur mengerti kalau kemenakkannya semakin beringas saat tempik Jeng Yati ditarik dan dipelintir oleh jari-jari besar dan keriput sementara vaginanya dijilati dan dijejali oleh lidah Pak De Sur. Maka setiap malam tiba, Pak De Sur menghampiri Jeng Yati setelah Jeng Yati selesai belajar dan Jeng Yati hanya mengkangkangkan kedua kakinya, baik saat Jeng Yati masih duduk di kursi belajarnya atau saat Jeng Yati tengah berdiri  menyiapkan buku-buku pelajarannya karena kepala Pak De Sur sudah menyusup ke roknya mengendus-endus selangkangannya yang masih memakai celana dalam.
“Mmmaaaaaa’ aaaaaffffffzzzz Paaaak Deeeeee …….”Jeng Yati mendesah tak tertahankan dan kedua tangannya meremas-remas rambut Pak De Sur begitu Pak De Sur menyibak celana dalamnya dan lidah nakal Pak De Sur menyapu itil dan bibir vagina Jeng Yati yang langsung berkelejot.
Pak De Sur sudah menguasai Jeng Yati menjadi seperti gila dan ganas dan tubuh Jeng Yati meliuk-liuk saat bibir vaginanya mulai di tarik dan dipelintir oleh jari-jari besar dan kasar namun Jeng Yati hanya pasrah saat Pak De Sur sudah menyedot-nyedot bibir vaginanya dan kurang dari 4 menit Jeng Yati pun menyambak rambut Pak De Sur dan menekan mulut dan bibir Pak De Sur ke selangkangannya, ke vaginanya saat orgasme Jeng Yati meledak dan disertai geraman dan lenguhan panjang Jeng Yati menyentak-nyentakkan pantatnya oleh ledakan orgasmenya. Selanjutnya mereka memposisikan diri dalam posisi 69, dimana dengan keahlian yang bertambah Jeng Yati mengoral penis Pak De Sur yang gemuk sebesar kaleng Axe sampai akhirnya Pak De Sur menyemburkan air maninya diwajah keponakannya sendiri, Jeng Yati. Pak De Sur begitu  puas atas pelayanan keponakannya, Jeng Yati yang kini tergolek lemas. Kini Pak De Sur tak perlu lagi mencari pelacur atau teman-teman wanitanya hanya untuk mengoral penisnya. Memang Pak De Sur belum pernah merasakan vagina perempuan sampai suatu malam

###############################
Di bawah kesadaran di atas kenikmatan

Sudah 2 minggu ini Pak De Sur tak bisa merasakan mulut dan sepongan keponakannya, Jeng Yati yang ikut Jambore pramuka, yang akan dilaksanakan selama 3 minggu. Malam itu, Pak De Sur benar-benar kecewa dan menenggak beberapa botol minuman keras bersama-sama teman-temannya hingga Pak De Sur benar-benar teler berat. Pak De Sur, kecewa saat kamarnya tak ada Jeng Yati dan memang untuk kedua kalinya Pak De Sur teler berat, cuman malam ini sepi sekali dan Pak De Sur mengingat-ingat kejadian beberapa tahun silam saat dia teler berat juga Saat itu, jauh sebelum dia suka menekan-nekankan penisnya ke punggung Jeng Yati, tak biasanya Pak De Sur sampai diantar oleh teman-temannya pulang, sampai-sampai dia dibonceng ditengah-tengah kedua temannya menaikki motor. Begitu sampai depan rumah, teman-teman Pak De Sur cepat-cepat menyingkir saat mereka tahu ada lampu mobil patroli dari jauh. Pak De Sur pun agak terkejut dalam mabuk karena pintu depan tidak terkunci dan Pak De Sur semakin bingung dalam mabuknya tak ditemui adiknya Bu Asih, yang dilihatnya semakin hari semakin menggairahkan dimana payudara montok adiknya, Bu Asih, semakin montok dengan kedua payudaranya dan pantatnya bertambah dan bahenol, tapi Pak De Sur juga agak curiga, jangan-jangan adiknya, yang minggat dari suaminya hampir 8 tahun, waktu itu hamil, karena ada perubahan di tubuh sintalnya dimana perut adiknya, Bu asih, sedikit membuncit. Dengan terseok-seok, Pak De Sur sampai ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya dan tubuhnya sedikit merasa nyaman walaupun tetap berkunang-kunang, lemas dan kepalanya tetap berdenyut-denyut dan sangat pusing. Saat Pak De Sur keluar kamar mandi dilihatnya pintu tembusan ke toko kecil Lik Ali terbuka dan tubuhnya terseok-seok dan sempoyongan menuju pintu tembusan toko kecil Lik Ali. Pak De Sur  mencium bau kemenyan dari arah jendela kaca ventilasi toko kecil  Lik Ali dan Pak De Sur dengan berdebar-debar mendekati jendela kaca ventilasi yang terlihat sedikit terbuka karena sinar lampu neon Lik Ali menyebar.
“Aaaaaampuuuun mbbbbaaaaaahhhbbhhhzzzzzz!!” terdengar rintihan Asih, adiknya.
Sore harinya, sebelum berangkat minum-minum ke temannya, Pak De Sur sempat ngaceng penis sebesar kaleng Axe-nya saat adiknya berangkat menghadiri di sekolahannya yang malam itu memakai kebaya yang menonjolkan belahan payudara montok nya dan kain panjang ketat melilit di pantat bahenol Bu Asih. Mata Pak De Sur nanar dan kepalanya seperti tertimpa benda keras saat melihat adiknya Bu Asih yang terlihat cantik bersanggul sasak memakai kebaya dan kain panjang yang sudah awut awutan dimana kedua payudara montok berputing hitam terkual dan pantat bahenolnya terbuka tengah dikerubuti 3 pria tua.
Asih


Kedua mata adiknya melotot karena mulutnya disumpal penis hitam besar panjang Lik Ali yang dengan pelan tapi pasti terus melesak ke mulut adiknya sehingga terdengar suara “Hhhhhooooooocghh…..”keluar dari mulut Asih.
Kedua mata Bu Asih, adiknya yang melotot mulai basah dan mengeluarkan air mata oleh tekanan penis hitam besar panjang Lik Ali di tenggorokan Asih. Tangan Asih menggapai ngapai dan Lik Ali menarik penis hitam besar panjangnya dan Asih mengelepar dan mendengus dengus
“Mmmmmbaaaaaahhhhhhhhhghghghghghgh…….” Asih melotot lagi dan mulutnya tersumpal lagi oleh penis hitam besar panjang Lik Ali dan penis Pak De Sur pun mulai bergerak-gerak melihat liang vagina adiknya terbuka maksimal oleh sodokan penis berbintil-intil Mbah Bejo dalam posisi miring menghadapnya dengan kaki kiri diangkat Mbah Bejo dan kedua payudara montok berputing hitam diremas remas kuat laki-laki tua lainnya yang dikenal dengan Lik Mun yang juga tak kalah sangar, karena penisnya yang sebesar mentimun sudah ngaceng, mulut tebal hitamnya dengan rakus nya menyedot-nyedot payudara montok berputing hitam Bu Asih
“Kkkkkoooooookkckckkckggghhhhhh……”terdengar suara aneh keluar dari mulut Bu Asih, adiknya seperti kerbau disembelih saat penis hitam besar panjang Lik Ali menekan tenggorokan Asih. Suara aneh seperti kerbau disembelih selalu terdengar Pak De Sur saat penis hitam besar panjang Lik Ali menembus tenggorokan Asih yang mengeluarkan air mata karena perlakuan Lik Ali menekan penis hitam besar panjang Lik Ali di tenggorokkan Bu Asih, adiknya. Penis Pak De Sur semakin ngaceng saat dilihatnya Mbah Bejo tengah menggenjot penis berbintil-bintil Mbah Bejo di dalam liang vagina Asih yang tak berdaya tengah dikeroyok oleh 3 pria tua yang berpengalaman memuaskan hasrat seksual wanita jablai seusianya yang selalu gatal. Pak De Sur semakin ngaceng penisnya melihat pemandangan adiknya yang hanya bisa menggapai-ngapai dengan suara seperti orang mendengkur dan disembelih oleh jejalan dua penis sekaligus di mulut dan liang vaginanya. Pak De Sur membayangkan Jeng Yati saat tubuhnya bahenol dan sexy sehabis nantinya melahirkan anaknya setelah bersuami dimana Pak De Sur ingin menyetubuhi keponakannya, Jeng Yati sambil menyedot-nyedot kedua payudara montok berputing hitam Jeng Yati yang pasti akan mengeluarkan air susunya…… dan tangan Pak De Sur mengocok penisnya.
Entah berapa lama, yang jelas Pak De Sur setengah sadar adiknya bukan saja dikeroyok tapi juga benar-benar digilir oleh 3 pria tua itu. Mereka menyetubuhi adiknya bergantian, setelah Mbah Bejo menjejalkan penis berbintil-intil Mbah Bejo ke liang vagina Asih kemudian Lik Ali dengan penis hitam besar panjang  dan terakhir Lik Mun dengan kecepatan penuh mengeluar masukan penisnya yang sebesar mentimun  ke liang vagina Asih. Asih merasakan orgasme ke 6 nya saat Lik Mun menghujam dalam dalam penisnya yang sebesar mentimun disertai sentakan-sentakan pantat bahenol Asih dan kembali Mbah Bejo yang penis berbintil-intilnya sudah ngaceng lagi dalam ronde ke 2 menyetubuhi Asih. ak De Sur pun menyemburkan air maninya untuk ketiga kali melihat adiknya bukan saja digilir sekali tapi digilir terus menerus sampai 2 ronde oleh ketiga pria tua itu.

Pak De Sur pun masuk ke rumah dan tersungkur di kamar  karena mabuk berat tanpa menutup pintunya dan tak lama kemudian terdengar Asih merintih, mengerang, mengejan dan bahkan histeris begitu dekat. Pak De Sur hanya bisa melihat adiknya tengah disetubuhi gaya anjing oleh ketiga pria itu bergiliran di ruang tengah.Mereka memperlakukan adiknya seperti seekor anjing betina beneran yang tengah disetubuhi beberapa jantannya. Asih yang sanggul sasaknya masih rapi tetapi kebaya adiknya tampak robek dan basah oleh air mani ke 3 pria tua itu dan kain panjang adiknya tampak awut-awutan dan stagen adiknya sudah tak kencang lagi. Ke 3 pria tua itu benar-benar gila memperlakukan Asih adiknya yang berumur 38 tahun, saat itu, dan kelihatanya Asih juga tergila-gila, tampak sekali kalau ia adalah wanita gatal yang tak pernah puas oleh penis laki-laki. Betapa tidak, Mbah Bejo mengenjot dan menjejali liang vaginanya dengan penis berbintilnya beberapa kali genjot dikeluarkan dari liang vaginanya  dan digantikan Lik Ali di belakang Mbah Bejo yang mencabut penisnya dari liang vagina Asih yang ternganga dan Lik Ali langsung menjejali liang vagina Bu Asih dengan penis hitam besar panjang Lik Ali dan beberapa genjotan Lik Ali mencabut penisnya dan Lik Mun menghujamkan penisnya yang sebesar mentimun ke liang vagina Asih. Pak De Sur mengocok kembali penisnya yang setengah ngaceng saat tiba-tiba ketiga pria tua itu membiarkan Asih yang tersungkur dan pemandangan aneh terjadi dimana Asih menggelepar, meringkuk, tertelentang dan menggoyangkan pantat bahenolnya sambil memegang pahanya, meremas-remas pantat bahenolnya sendiri dan kemudian tersentak sentak tengah mengalami orgasme gilanya. Ketiga pria tua itu menggilir berulang-ulang dan membiarkan Bu Asih adiknya mengalami orgasme gilanya sendiri. Entah mengapa, pikiran Pak De Sur membayangkan seandainya keponakannya, Jeng Yati, diperlakukan seperti ibunya dipermainkan dengan beberapa teman laki-lakinya yang kebetulan bujang lapuk seperti dia yang suka mengocok penisnya daripada menyetubuhi wanita. Pak De Sur membayangkan yang berguling guling merasakan orgasme itu adalah Jeng Yati bukan adiknya dan Pak De Sur mengeluarkan air maninya bersamaan dengan ketiga pria tua itu menyemburkan air mani  ke seluruh tubuh adiknya. Pak De Sur melihat ketiga laki-laki tua itu memandikan Asih dengan air mani mereka. Ketiga pria tua itupun rupanya masih belum puas untuk menggagahi Asih. Mereka menyeret adiknya yang sudah lunglai dengan tubuh penuh air mani ketiga pria tua ke dalam kamar adiknya. Terdengar kembali oleh Pak De Sur suara seperti orang mendengkur dan disembelih dimana jelas adiknya tengah dijejali dua penis sekaligus di mulut dan liang vaginanya. Kembali Pak De Sur mengocok penis gemuk sebesar kaleng Axe Pak De Sur saat adiknya, Bu Asih mengerang dan menggeram mencapai orgasmenya dan ia tertidur malam itu. Pak De Sur gembira hari ini Jeng Yati akan pulang dan pagi ini ia terbangun saat terdengar pintu depan terbuka dan Pak De Sur langsung duduk saat keponakannya Jeng Yati telah pulang dan masuk kamarnya dengan memakai seragam pramukanya. Kedua insan itupun tanpa saling pandang langsung mendekat dan Pak De Sur menelentangkan keponakannya ke ranjangnya dan mengkangkangkan kedua kaki Jeng Yati dan menyusupkan kepalanya ke rok rampel tipis pramuka Jeng Yati.

“Paaaaak Deeeee …. Yatiiii kangeeeeeen……”rintih Jeng Yati saat lidah Pak De Sur mulai menjilati vaginanya, rupanya Jeng Yati sudah melepas celana dalamnya.
“Kangen apanya Yatii…”desis Pak De Sur
“Jilatan lidah Pak De Sur enaaaaaggghhhh bangeetzzzzzz….Enaaaaghhh bangeetzzzz Pak Deeee Suuuuuur ….”keponakannya semakin merintih merasakan vaginanya dijilati Pak De Sur.
Pak De Sur semakin beringas dan tak menyadari dan memahami maksud kata-kata keponakannya, Jeng Yati … karena dalam 2 malam terakhir Jeng Yati yang ditempel terus oleh Mas Parno, yang suka sekali meminjami buku putih, dan kini sebagai guru dan instruktur pamukanya. Sempat tadi malam, mas Parno menyeretnya ke sebuah gubuk saat diadakan jalan malam dan memelorotkan celana dalamnya yang tak lagi pernah dipakai Jeng Yati karena dibuang mas Parno. Mas Parno dengan kasar menjilati vaginanya dan untuk mempercepat proses maka Jeng Yati membayangkan bahwa yang menjilati adalah Pak De Sur sehingga Jeng Yati sempat orgasme sekali di gubuk itu dan Jeng Yati menolak untuk mengoral penis gemuk Mas Parno yang pernah didengarnya sering menjejali vagina ibunya. Jeng Yati hanya mengocok penis gemuk Mas Parno sampai ejakulasi menyemburkan air maninya di balai-balai gubuk itu. Dalam perjalanan pulang ke base camp, Mas Parno sempat beberapa kali meraba-raba dan mencolek-colek vagina Jeng Yati. Pulangnya Jeng Yati tak menemukan satu celana dalampun di ranselnya. Jeng Yati hanya pasrah saat dia harus duduk di jok belakang oplet yang dicarter pulang bersanding dengan Mas Parno yang tahu kalau Jeng Yati tidak memakai celana dalam. Tak ampun lagi di dalam oplet dengan seenaknya, Mas Parno menggosok-gosok selangkangan Jeng Yati yang tak bercelana dalam dibalik rok rample pramukanya. Karena keterlaluan maka dengan kemarahannya Jeng Yati meludahi Mas Parno dan
“Hooo … kamu ludahi aku Yati … awas kamu …. Nanti kamu rasakan …” Mas Parno geram dan membersihkan ludah Jeng Yati di saputangannya, tanpa tahu maksud Mas Parno.
“Paaaak Deeeeee….. aqqquuuuuuuu….. meeetuuuuuuu…….”rintih Jeng Yati saat orgasmenya meledak dan pantat ranum Jeng Yati tersentak-sentak.
Pak De Sur naik ke ranjang sambil memelorotkan sarungnya dan penis gemuk sebesar kaleng Axenya yang sudah ngaceng itupun dijejalkan ke mulut Jeng Yati. Pagi sampai siang hari mereka berdua saling jilat dan saling sedot dalam posisi 69 dan Jeng Yati pasrah saat air mani Pak De Sur disemburkan ke wajahnya

Ketika istri sedang tidur

Sebuah insiden baru terjadi beberapa malam yang lalu. Insiden yang tidak disengaja yang membangunkan sesuatu yang tanpa kusadari telah ada di dalam diriku. Kamis malam kemarin temanku yang bernama Lilo mampir untuk mengobrol, minum dan nonton TV di rumahku. Lilo bekerja di kantor yang sama denganku. Hari Jumat keesokannya adalah hari libur untuk kantor kami jadi kami mendaptkan 3 hari libur di akhir minggu tersebut. Karena itulah kami tidak terburu-buru menghabiskan malam itu. Berbeda dengan istriku, Sandra; ia harus bekerja esok harinya. Dan karena termasuk orang yang tidak suka tidur larut malam, ia pergi tidur sekitar pukul 10:30. Sandra adalah salah satu orang yang paling lelap saat tertidur. Beberapa kali aku pernah mencoba mengguncang-guncangkan bahunya untuk membangunkannya, namun selalu gagal. Ia terus tertidur. Setelah Sandra pergi tidur, Lilo dan aku duduk di ruang tamu dan menonton DVD porno yang sengaja kami beli. Lagipula Sandra juga tidak pernah suka menonton film-film seperti itu. Setelah beberapa adegan, Lilo berkata, “Wah, pasti enak yah kalo punya cewe untuk diajak ngeseks! Udah lama banget nih, gue kagak begituan!” Aku sedikit kaget mendengar komentarnya. Lilo bukanlah pria yang buruk rupa. Dengan tinggi 175 cm dan berat sekitar 70 kg, aku malah menduga ia mempunyai banyak teman wanita. “Emangnya elu lagi ga jalan sama siapa-siapa, Lo?” tanyaku. “Kagak. Sejak Bunga putus sama gue 2 taon yang lalu, gue agak-agak malu untuk ajak cewe jalan,” jawabnya. Kami mengobrol tentang Bunga yang ternyata tidak serius dengan Lilo. Setelah beberapa botol bir dan beberapa adegan dari film porno yang kami tonton, Lilo bangkit berdiri untuk pergi kencing.
 Aku tetap duduk sambil menonton film itu untuk beberapa saat dan akhirnya baru menyadari bahwa Lilo belum kembali setelah cukup lama pergi kencing. Aku berdiri dan menghampirinya untuk memeriksa apakah ia baik-baik saja. Saat aku berada pada jarak yang cukup dekat dengan WC, aku melihat pintu itu terbuka. Aku masuk ke WC dan mendapati Lilo berdiri di pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Ia terlompat melihat aku masuk.

“Wah, sorry banget nih,” katanya. “Waktu gue masuk, pintu ini memang udah terbuka. Dan waktu gue mau keluar, gue liat dia terbaring seperti itu.” Aku berjalan mendekati tempat Lilo berdiri dan melihat ke arah kamar tidurku. Sandra terbaring menyamping sehingga punggungnya menghadap ke arah kami dengan kaki yang sedikit tertekuk. Sandra tidur dengan mengenakan daster panjang namun bagian bawahnya tersingkap sampai ke pinggul sehingga menampakkan bulatan pantat yang halus, mulus dan terlihat tidak mengenakan celana dalam. Pundaknya sedikit tertarik ke belakang sehingga memperlihatkan kami sisi bukit dadanya dan tonjolan puting susunya dari balik daster yang sedikit tembus pandang. Ia terlihat sangat seksi terbaring seperti itu dengan remang-remang cahaya dari WC. Bibirnya sedikit terbuka dan rambutnya yang panjang terhampar di atas bantal. Boleh dibilang posisi Sandra saat itu seperti sedang berpose untuk pemotretan majalah dewasa.
“Gila! Cakep banget!” kata Lilo sambil menahan nafas. “Gue mau disuruh apa aja untuk mendapatkan cewe seperti dia, Kris.” Pada awalnya aku sedikit kesal mendengar perkataan Lilo. Namun pada saat yang bersamaan, melihat Lilo memandang istriku seperti itu tanpa sepengetahuan Sandra justru membuat diriku terangsang. “Aduh, sorry nih, Kris. Gue rasa udah waktunya buat gue untuk pulang,” kata Lilo berbalik badan untuk keluar. “Eh, tunggu, Lo,” kataku. “Ayo masuk ke sini sebentar aja. Tapi jalannya pelan-pelan, oke?” “Ha?! Elu mau gue masuk ke kamar elu?” “Kalo cuma lihat doang mah ga ada yang dirugikan, kan? Tapi kita engga boleh buat dia terbangun, oke?”
Bahkan aku sendiri tidak percaya apa yang baru saja aku katakan. Aku mengijinkan pria lain masuk ke kamar tidurku sehingga ia dapat melihat istriku yang dalam keadaan ‘setengah’ telanjang. Aku pun masih tidak yakin apa dan sejauh apa yang akan aku lakukan berikutnya.
 Saat kami berjingkat memasuki kamarku, aku mendorong Lilo untuk mendekat ke samping ranjang. Bahkan Lilo sendiri terlihat tidak yakin. Pandangannya berpindah-pindah antara aku dan Sandra. Semakin mendekat ke ranjang, pandangannya lebih terarah ke Sandra. Sandra berbaring di pinggir ranjang di sisi tempat kami berdiri dan semakin kami mendekat, kedua bukit payudaranya semakin jelas terlihat.

Puting susunya dapat terlihat dari balik dasternya yang tipis. Walau bagian bawah dasternya sudah tersingkap namun kami masih belum dapat melihat bibir vaginanya karena tertutup oleh kakinya.

Aku hanya berdiri di sana dengan cengiran lebar memandangi Lilo dan istriku bergantian. Dengan mulut ternganga, Lilo juga hanya memandangi istriku dengan takjub dan kagum. “Gila, Kris. Seksi banget sih! Gue ga percaya elu kasih gue liat bini elu dalam kondisi begini!”

Dengan hati-hati aku meraih tali daster Sandra dan menariknya turun melewati pundaknya turun ke lengan sehingga bagian atas dasternya tersingkap dan memperlihatkan lebih banyak lagi bagian payudaranya. Gerakanku terhenti saat kain bagian atas daster itu tertahan oleh puting Sandra.“Mau lihat lebih banyak?” aku berbisik.

“I-iyah!” Lilo berbisik balik. Dengan sangat lembut aku mencoba untuk menurunkan tali daster itu lagi namun puting susunya tetap menahan kain itu sehingga tidak dapat terbuka lebih jauh. Aku menyelipkan jari-jariku ke bawah daster tersebut lalu dengan hati-hati mengangkatnya sedikit melewati puting Sandra. Lilo menahan nafasnya tanpa bersuara. Sekarang payudara kirinya sudah terbuka. Putingnya yang sangat halus dan berwarna merah muda itu berdiri tegang karena mendapat rangsangan dari gesekan kain dasternya tadi. Lalu aku meraih ke tali dasternya yang lain dan meloloskannya dari pundak kanan Sandra. Dengan lembut aku menarik kain daster itu melewati puting sebelah kanannya. Kini kami dapat melihat kedua payudara Sandra tanpa ditutupi benang sehelaipun. Aku membiarkan kedua tali dasternya menggelantung di lengan dekat sikunya karena aku tidak mau mengambil resiko kalau-kalau istriku terbangun. Lilo masih berdiri di sampingku dan dengan mulut yang masih ternganga ia menatapi payudara dan pantat Sandra yang kencang. Sesekali Lilo mengusap-usap tonjolan di selakangannya walau ia berusaha agar aku tidak melihatnya. Penisku sendiri sudah membesar dan berusaha memberontak keluar dari jahitan celana jeans yang kupakai. Aku terangsang bukan hanya karena melihat tubuh istriku namun juga karena apa yang sedang kuperbuat. “Jadi, bagaimana menurut elu?” aku berbisik lagi. “Gila, man! Gue ga percaya semua ini! Dia cantik banget! Gue sih cuma berharap…,” jawabnya sambil mengusap tonjolan penisnya sendiri. Aku berpikir sejenak, “Kalau sampai ia terbangun…, tapi lagipula aku memang akan mencobanya.”

Aku menarik Lilo semakin mendekat ke ranjang lalu aku menunjuk ke payudara istriku. “Ayo, pegang susunya. Tapi harus dengan lembut, oke? Gue nggak mau ambil resiko nih.” Mata Lilo terbuka lebar sekali lalu mendekatkan dirinya ke tepi ranjang. Ia membungkuk sedikit dan menjulurkan tangan kirinya untuk meraih bulatan payudara istriku. Tangannya sedikit bergetar dan tangan kanannya ditekankan di selangkangannya seakan digunakannya sebagai penopang. Tapi aku tahu apa yang sebenarnya ia kerjakan. Jari-jari itu dijulurkan makin lama semakin mendekat sampai akhirnya ujung jarinya menyentuh kulit payudara Sandra tepat di bawah areola. Dengan hati-hati Lilo meletakkan ibu jarinya di bagian bawah payudara Sandra sebelum akhirnya ia geser perlahan-lahan naik ke puting susu tersebut. Sandra tidak bergerak. Saat ibu jarinya mencapai bagian areola, Lilo menggerakkan telunjuknya melingkari puting Sandra dengan lembut.

Aku kenal Sandra sejak jaman masih bersekolah. Kami berpacaran sejak saat itu dan akhirnya kami menikah. Dan dalam sepengetahuanku, tidak pernah ada pria lain yang pernah melihat tubuh Sandra sampai sejauh ini apalagi menyentuhnya. Lalu Lilo mulai meraba payudara itu dengan sangat lembut dari yang satu berpindah ke payudara yang lain. Sandra masih tak bergerak dalam tidurnya walaupun sepertinya terlihat nafas Sandra menjadi lebih cepat. Lilo mulai menjadi lebih berani dan dengan menambahkan sedikit tenaga, ia meremas kedua buah dada Sandra. Lilo sudah tidak menutup-nutupi usahanya untuk mengusap-usap penisnya dan kelihatannya ia berniat untuk menyemprotkan spermanya dari balik celananya. Aku masih belum puas untuk membiarkan semua ini berakhir saat itu, jadi aku menyuruhnya mundur sejenak sementara aku melepaskan tali-tali daster itu dari lengan Sandra. Aku menarik turun daster itu sejauh yang aku bisa tanpa harus menarik secara paksa kain daster. Aku berhasil membuka tubuh bagian atasnya sampai pada bagian bawah tulang rusuknya sebelah kiri. Lalu aku bergerak ke bagian pinggulnya. Dengan hati-hati aku menarik kain yang menutupi bagian bawah pantatnya lalu melepaskan kain itu dari kakinya yang menekuk. Hal ini memperlihatkan seluruh pantatnya dan sebagian dari bibir vaginanya. Lilo masih belum dapat melihatnya dari tempat ia berdiri saat ini. Aku mendengar ia sedang melakukan sesuatu di belakangku. Dan begitu berbalik badan, aku mendapatinya sedang memelorotkan celana jeansnya sebatas testisnya sehingga ia dapat leluasa mengocok penisnya. Aku kembali berbalik ke Sandra lalu meluruskan kaki kirinya. Hal ini membuat bulu-bulu halus kemaluannya dapat terlihat bahkan sampai hampir ke bibir vaginanya. Saat melihat aku melakukan hal ini, Lilo melongokkan badannya melewati badanku untuk melihat tubuh Sandra lebih jelas sementara ia bermasturbasi. Aku menarik kaki kiri Sandra dengan lembut sehingga membuat tubuhnya berbaring terlentang menghadap ke atas dan memperlihatkan seluruh tubuhnya secara frontal.

“Wahhhh, gila, man!” Lilo berbisik dan mulai mengocok penisnya lebih cepat.
“Jangan cepet-cepet, brur,” aku memperingatkan dia. “Elu mau pegang memeknya sebelum elu klimaks, kan?” Langsung Lilo berhenti mengocok dan menatapku dengan pandangan seperti anak kecil yang dihadiahi sepeda baru. “Mantap, man! Elu kasih gue…, ahhh, mantap, man!" Ia mengganti tangan kanan dengan tangan kirinya untuk memegang penisnya, tapi tidak mengocoknya. Lalu dengan tangan kanannya, yang sedari tadi digunakan untuk mengocok penisnya, ia menyentuh bulu-bulu kemaluan Sandra dengan perlahan. Lilo mulai membelai Sandra melalui bulu-bulu itu dengan jemarinya. Namun tidak sampai ke bibir vaginanya. Sandra masih terlelap namun nafasnya semakin bertambah cepat setelah Lilo mengusap-usap kemaluannya. Setelah itu dengan menggunakan jari tengah dan telunjuknya, Lilo mengusap turun ke sepanjang bibir vagina Sandra lalu mengusap naik lagi sambil menaruh jari tengahnya di antara bibir kemaluan tersebut. Begitu ia menarik tangannya ke atas, jari tengahnya membuka bibir vagina itu dan wangi harum vagina Sandra mulai memenuhi kamar.“Gilaaaaa, man!” desah Lilo sambil menarik ke atas jari-jarinya yang sudah masuk sedikit ke dalam liang kewanitaan istriku.Saat jari Lilo menyentuh klitorisnya, tubuh Sandra seakan tersentak sedikit lalu ia mendesah dengan suara yang nyaris tak terdengar. Melihat hal ini Lilo segera menarik tangannya.
Aku melihat bahwa istriku masih terlelap namun aku tidak yakin apakah perbuatan ini dapat membangunkannya atau tidak. Lilo menatap aku dan aku menganggukkan kepalaku memberi isyarat bahwa ia dapat melanjutkan. Lalu dengan menggunakan tangan kirinya, Lilo mengocok penisnya sampai cairan pelumas keluar dari ujung penisnya. Lilo menyapu cairan yang keluar cukup banyak membasahi kepala penisnya kemudian dengan tangan yang sama ia mulai mengusap-usap bibir kemaluan Sandra. Kadang ia membuka bibir vagina tersebut dengan jari tengahnya. Sesekali pinggul Sandra bergerak maju dan mundur sedikit dan ditambah dengan desahan lembut yang keluar dari mulutnya. Lilo sudah mengocok penisnya lagi. Lalu tiba-tiba sebuah ide timbul dalam otakku.

Dengan hati-hati aku menarik kaki kiri Sandra keluar dari ranjang sampai vaginanya berada tak jauh dari ujung ranjang namun masih cukup jauh bagi Lilo untuk menyetubuhi istriku. Penis Lilo tidak sepanjang itu dan lagipula aku tidak yakin apakah persetubuhan dapat membangunkannya. Dan juga aku tidak yakin apakah aku ingin Lilo menyetubuhi istriku karena hal ini masih baru buatku.

“Lo, ke sini deh,” aku berbisik sambil menarik lengannya. “Berdiri di antara pahanya. Dari sini elu bisa lebih leluasa mengusap-usap memeknya sambil ngocok. Tapi jangan ngentotin dia, ya? Elu denger, engga?” Lilo mengangguk dan segera pindah ke antara kedua paha Sandra. Lilo mengusap-usap vagina Sandra dengan jari-jari tangan kirinya dan mengocok penisnya dengan tangan kanan. Penis Lilo hampir sejajar tingginya dengan vagina Sandra dan berjarak sekitar 10 cm sementara ia mengocok penisnya dengan penuh nafsu. Lalu Lilo menggunakan ibu jarinya untuk mengusap-usap vagina Sandra sehingga ia dapat lebih mendekat lagi sampai pada akhirnya jarak antara penis dan vagina Sandra kurang dari 1½ cm.
Pinggul Sandra masih sedikit bergoyang-goyang sesekali dan pada satu saat, pinggul Santi bergerak ke bawah dan kepala penis Lilo bersentuhan dengan bibir vagina Sandra. Penis Lilo menggesek sepanjang bibir kemaluan istriku. Hal ini membuat Lilo meledak dan berejakulasi. Spermanya muncrat ke mana-mana dan sebagian besar tersemprot ke bibir vagina Sandra. Pada setiap semprotan, Lilo melenguh dan beberapa kali dengan ‘tanpa disengaja” ia menorehkan kepala penisnya ke bagian atas dari bibir vagina istriku. Lilo pasti sudah lama tidak berejakulasi karena sperma yang dikeluarkannya begitu banyak. Saat selesai klimaks, Lilo mengurut penisnya untuk mengeluarkan lelehan sperma yang masih tersisa di saluran penisnya. Ia membiarkan lelehan itu jatuh ke bibir vagina Sandra yang sedikit terbuka. Dan saat mengalir ke bawah di sepanjang bibir vagina tersebut, terlihat lelehan itu masuk lalu menghilang begitu saja seperti tertelan bumi.

Lilo memandangku dan berbisik, “Gilaaaa, man! Gue ga tau cara berterima kasih sama elu, Kris!”

Aku tersenyum kepadanya dan memapahnya mundur secara ia telah selesai dengan urusannya.Sekarang saatnya giliranku. Aku berdiri di antara kakinya lalu melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku. “Lilo, elu keluar sebentar deh. Gue mau coba tarik badannya lebih ke pinggir supaya gue bisa ngentotin dia,” aku berbisik dengan lebih kencang. Lilo menurut dan berjalan menuju pintu kamar kalau-kalau istriku terbangun. Aku menarik tubuhnya sampai pantat sebelah kirinya menggantung di pinggir ranjang. Selama itu Sandra tidak bangun sama sekali namun nafasnya masih berat dan dari vaginanya keluar cairan pelumas dari tubuhnya bercampur dengan sperma Lilo. Lalu aku menyuruh Lilo masuk ke kamar lagi untuk membantuku dengan menyangga kaki dan pantat kiri Sandra sehingga tanganku dapat kugunakan dengan bebas. Lilo meraih kaki kiri Sandra dengan tangan kirinya lalu dengan tangan kanannya ia menopang pantat Sandra. Aku melihat ia meremas pantat istriku saat ia mencoba menopangnya. Dan aku mulai menggesek-gesekkan penisku naik dan turun ke bibir vaginanya yang sudah basah. Vaginanya sangat amat basah. Cairan vagina Sandra yang bercampur dengan sperma Lilo, membuat liang kewanitaan Sandra menjadi sangaaaat licin. Bahkan aku sudah hampir klimaks jadi aku dengan perlahan memasukkan batang penisku ke dalam liang kemaluan Sandra yang panas.
Walau sudah sangat basah namun liang vagina Sandra masih sangat sempit secara Lilo tidak sempat melakukan penetrasi. Akan tetapi penisku dapat menembus dengan mudah. Segera aku memompa vagina Sandra dan setelah sekitar 10 pompaan maju mundur, Sandra mengalami orgasme dalam tidurnya!!!Hal ini sudah cukup membuatku melambung mencapai klimaks. Aku mulai menyemprotkan cairanku masuk ke dalam vaginanya dan tiap muncratan seakan tersembur langsung dari buah zakarku. Sandra mengerang-erang dalam tiap desahannya dan begitu pula aku.

Lilo berkata, “Gilaaaa, man!” namun kali ini ia tidak berbisik. Hal ini tidak jadi masalah karena Sandra tak bangun sedikitpun selama kami menggarap tubuhnya. Ketika aku menarik penisku, Lilo menaruh pantat dan kaki Sandra kembali ke ranjang. Lalu ia menunduk menjilati dan mengecup puting susu Sandra dan menyedotnya saat ia kembali menegakkan badannya. Aku sudah terlalu lemas untuk berkomentar dan akhirnya aku hanya menarik tangannya untuk keluar kamar. Saat aku berjalan mengantarnya ke luar rumah, Lilo tak habis-habisnya berterima kasih kepadaku. Aku melambaikan tangan lalu mengunci pintu. Aku masuk ke kamar, berbaring di atas ranjang di samping Sandra dan langsung terlelap begitu saja.

Keesokan harinya, Sandra membangunkanku dengan mencium telingaku. “Elu ga bakalan percaya apa yang gue mimpiin kemarin malam!” katanya membuka pembicaraan. “Gue bermimpi ada banyak tangan yang meraba-raba badan gue. Ngomong-ngomong, kemarin malam kita ngapa-ngapain ga, yah?” Aku teringat kalau aku tidak sempat membersihkan sperma yang tercecer di tubuhnya dan di ranjang sebelum pergi tidur kemarin. “Eeehhh…, iya lah. Memangnya elu engga ingat apa-apa?”
“Yaah…, gue ga tau yah. Semuanya kaya dalam mimpi gitu. Mungkin gue setengah tidur kali. Tapi yang pasti asyik deh. Bagaimana? Apa elu berniat untuk melakukannya sekali lagi sekarang selagi gue ga ketiduran?” Pikiranku melayang ke kejadian kemarin malam…, “Hmmmm, bagaimana yah? Menurut elu bagaimana?” aku tersenyum.

Pada minggu berikutnya di kantor aku terus memikirkan malam itu dimana Lilo hampir menyetubuhi istriku, Sandra. Aku dan Lilo tidak pernah menyinggung hal itu walau beberapa kali kami saling melepas senyum. Lilo melemparkan senyum penuh rasa terima kasih kepadaku.
Harus kuakui, aku sudah menjadi terobsesi dengan ide melihat istriku disetubuhi pria lain. Namun masih ada perasasan yang mengganjal. Melihat Lilo bermasturbasi di depan Sandra malam itu benar-benar tidak menjadi masalah bagiku. Tetapi dapatkah aku menerima melihat pria lain benar-benar berhubungan seks dengan istriku? Menjelang akhir minggu aku dapat melihat pandangan penuh harap dari wajah Lilo. Aku tahu apa yang ia pikirkan: “Apakah Kris bakal ngundang gue datang ke rumahnya lagi?”, “Apakah gue bisa dapat kesempatan dengan istrinya?”
Hari Jumat akhirnya tiba dan sebelum jam pulang kantor aku mengajak Lilo untuk berkunjung lagi ke rumahku. Kegembiraan yang besar meluap dari diri Lilo.
“Yeahhhhh! MANTAP!!! Gue bakal bawa bir dan beberapa film untuk kita tonton!” katanya dengan penuh semangat. “Oke. Datang jam 9-an deh,” jawabku. Aku tahu pada saat itu Sandra pasti sudah mulai mengantuk dan keberadaan Lilo akan mendorongnya untuk pergi tidur lebih cepat secara ia tidak begitu suka bergaul dengan Lilo. Aku merasa geli sesaat membayangkan hal itu. Jika saja Sandra tahu apa maksud kedatangan Lilo, ia pasti tidak akan tidur sepanjang malam, setidaknya sampai Lilo pulang.

Lalu aku melakukan sesuatu yang mengangetkan diriku sendiri. “Hey, Jo! Apa yang elu kerjakan malam ini?” aku bertanya. Josua adalah pribumi berkulit gelap. Tinggi badannya mencapai 190 cm dengan berat badan bisa mencapai 90 kg. Josua bukan seorang yang gemuk namun ia memiliki tubuh yang besar dan kekar. “Ah, ga banyak. Kenapa? Elu ada acara apa?” ia balik bertanya. “Sekitar jam 9 malam nanti Lilo bakal datang ke rumah gue untuk main-main. Minum, ngobrol, apa aja deh. Kalo engga salah denger dia bilang dia bakal bawa film-film BF. Gimana, berminat?” “Boleh, tapi mungkin gue bakal telat. Gue musti kerjain sesuatu untuk bokap, tapi ga lama deh,” jawabnya. “Engga masalah. Oke sampai ketemu nanti,” aku berkata sambil berpikir mungkin memang ada baiknya Josua datang setelah Sandra tertidur.

Aku menoleh dan melihat wajah Lilo yang terkejut, namun terkejut dalam nuansa yang menggembirakan. Aku tersenyum dan sambil mengedipkan mataku aku berjalan melewatinya, “Sampai nanti, Lo!” Malam itu saat makan malam, aku terus memikirkan rencana malam nanti. Aku membeli sebotol anggur dan meminumnya bersama Sandra dengan harapan ia dapat tertidur pulas malam itu. Seperti yang aku harapkan, tidak memerlukan waktu yang lama sampai Sandra mulai cekikikan karena pengaruh anggur yang ia minum. Suatu keuntungan yang tidak terduga anggur tersebut juga memberikan efek yang menstimulasi tubuhnya.

Dari bawah meja, Sandra mulai menggesek-gesekkan kakinya yang terbalut stoking ke pahaku. Kemudian setelah beberapa gelas anggur lagi, sambil menonton TV Sandra duduk menghadapku dengan satu kaki diletakkan di lantai dan kaki lainnya ditekuk sehingga ia mendudukinya. Hal ini menyebabkan roknya yang pendek tertarik ke atas sehingga memperlihatkan pahanya dan ujung stokingnya.
Ia membuka kakinya sedikit untuk memperlihatkan kepadaku celana dalamnya saat bel pintu rumahku berbunyi. “Aaaah!” ia memprotes. Aku bangkit berdiri untuk membukakan pintu. “Siapa yah yang datang malam-malam begini?” aku bertanya seakan tidak tahu bahwa yang datang adalah Lilo.
Setelah aku membuka pintu, Lilo masuk dengan kantong plastik di tangannya. Ia berdiri di samping pintu setelah aku menutup pintu itu. Lilo memandang Sandra dan mulai berbasa-basi dengannya. Saat kembali ke tempat dudukku, aku menyadari bahwa Sandra masih dalam posisi yang sama. Sandra duduk menghadap kami sambil memain-mainkan rambutnya. Ia benar-benar tidak sadar sedang memperlihatkan terlalu banyak bagian tubuhnya kepada Lilo saat ia duduk di sana dengan wajah yang terlihat kecewa. Lilo hanya berdiri mematung di sana sementara mereka saling berpandangan. Sandra memandangnya dengan pandangan kosong sedangkan Lilo memandangnya dengan pandangan tidak percaya. Tiba-tiba Sandra tersadar akan posisi duduknya dan cepat-cepat berbalik lalu menurunkan roknya. “Ayo duduk, Lo. Sini…, gue taruh di kulkas dulu,” kataku sambil mengambil kantong plastik yang berisi bir lalu berjalan ke dapur. Saat sedang memasukkan bir-bir itu ke dalam kulkas, terdengar olehku Lilo berkata kepada Sandra bahwa ia berharap kedatangannya tidak mengganggu acara aku dan Sandra. “Oh enggak,… nggak apa-apa kok,” terdengar jawaban Sandra. Aku tahu benar untuk bersikap sopan, Sandra membohongi Lilo. “Kita cuma duduk-duduk sambil nonton TV doang kok,… dan sudah berniat untuk tidur.”
Aku tahu Sandra mencoba untuk memberi isyarat kepada Lilo bahwa kedatangannya sudah mengganggu kami. Sandra memang tidak tahu apa-apa tentang rencana kami malam ini. “Apa rencana elu malam ini, Lo?” sambil memberi bir, aku bertanya kepada Lilo setelah kembali dari dapur. “Ah, nggak banyak lah. Cuma mampir untuk minum-minum sedikit.” “Boleh-boleh aja. Gimana menurut elu, San?” aku bertanya sambil memandangnya. Wajah Sandra menunjukkan kalau ia sudah pasrah bahwa Lilo akan tetap tinggal sampai larut malam. “Ya sudah, kalau begitu gue permisi dulu deh. Gue tidur duluan yah,” jawabnya dan bangkit dari sofa. “Bagus!” pikirku, semua sesuai dengan rencana. “Oke, San. Gue nyusul nanti,” kataku sambil tersenyum kepada Lilo. Dengan mulutnya, Lilo melafalkan tanpa suara, “Gue juga!” setelah Sandra berjalan melewatinya menuju kamar tidur. Setelah Sandra masuk ke kamar, Lilo dan aku duduk menatap TV dengan pandangan kosong. Tidak satupun dari kami yang membuka suara. Suasana saat itu menjadi tegang penuh harap apa yang akan terjadi nanti.

Sekitar pukul 10 malam, aku mendengar Josua memarkirkan mobilnya di depan rumah. Aku berdiri dan membuka pintu sebelum ia membunyikan bel. Sebenarnya aku tidak berpikir suara bel rumah kami akan membangunkan Sandra, namun aku tidak mau ambil resiko. Pada awalnya kami bertiga mengobrol sana-sini setelah Lilo memutar film yang dibawanya. Josua masih tidak tahu menahu tentang rahasia kecil kami. Aku sendiri masih belum yakin benar untuk mengikutsertakan Josua ke dalam rencana malam ini. Setelah 15-20 menit, aku melihat Lilo mulai gelisah. Berulang kali Lilo terlihat beringsut dari tempat duduknya dan memandangku seakan berharap mendapat kode persetujuan untuk memulai acara malam itu. “Gue permisi sebentar yah,” kataku sambil berdiri menuju kamar dan memberi isyarat kepada Lilo untuk tetap duduk di tempatnya. Aku mau memastikan semuanya sudah pada tempatnya sebelum acara dimulai. Dengan hati-hati aku berjalan masuk ke kamar. Sandra tidur terlentang di ranjang dengan memakai daster imut yang semi transparan. Aku rasa anggur yang diminumnya tadi sudah bereaksi dalam tubuhnya secara Sandra tidur dengan kaki yang agak mengangkang dan kedua lengannya tergeletak di atas kepalanya. Sandra terlihat sangat cantik terbaring di sana dengan mulut yang sedikit terbuka (seperti biasanya) dan rambut yang tergerai di atas bantal. Buah dadanya sudah dapat terlihat dari balik kain dasternya yang tipis, menjulang seperti dua gunung kembar.

Nampaknya semua sudah siap tanpa aku harus berbuat apa-apa. Aku bergerak menuju pintu WC dengan perlahan lalu membukanya sedikit sehingga kamar itu sedikit lebih terang oleh cahaya lampu dari WC. Lalu aku keluar bergabung dengan Lilo dan Josua yang masih menonton film porno yang sedang diputar. “Jo, elu mau bir lagi?” tanyaku berharap supaya ia segera pergi kencing. “Boleh, thanks!” jawabnya. Lilo mengikutiku berjalan ke dapur dan segera menghamburkan pertanyaannya, “Elu mau gimana kerjainnya?” “Ya, gue rasa kita musti tunggu Josua pergi ke WC dulu untuk kencing. Trus, barulah kita berdua masuk ke kamar dan melihat apa yang bakal dia perbuat.”
Lilo tersenyum dan kembali ke ruang tamu. Kami masih menonton beberapa menit setelah itu dan mengomentari adegan-adegan di film tersebut. Tak lama setelah itu Josua berkata, “Eh, Kris,… WC elu dimana?” “Tuh di sana,” kataku sambil menunjuk ke arah WC. Aku berusaha agar suaraku tidak terdengar terlalu antusias. Josua berjalan menuju WC. Setelah aku mendengar pintu WC dikunci, aku dan Lilo bergegas menuju kamar. Setelah berada di dalam kamar, pandangan Lilo melekat ke tubuh Sandra yang terbaring di atas ranjang. Josua tidak menutup pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Mungkin ia tidak menduga akan ada orang lain di sana.

Saat ia selesai, aku dapat mendengar ia menarik resletingnya dan bersiap keluar WC. Tiba-tiba aku mendengar Josua berhenti. Pasti ia telah melihat Sandra. Ia seakan berdiri berjam-jam di sana sambil memandang istriku terbaring di ranjang dengan payudaranya yang terlihat jelas dari balik daster transparan yang dipakainya, naik turun mengikuti irama nafasnya

“Bang****t!” aku mendengar Josua berbisik. Aku tidak dapat menahan geli dan tergelak. Josua mendengar suaraku dan melongokkan kepala masuk ke kamar dan mendapati kami sedang berdiri di sana. Segera aku menempelkan telunjuk ke bibirku dan menyuruhnya untuk tidak bersuara. Aku mengajaknya masuk. “Itu bini elo, Kris?” ia berbisik lagi. Aku mengangguk lalu menuntunnya menuju sisi ranjang. Lilo mengikut dari belakang dan berdiri di sebelah kiriku saat kami bertiga memandangi tubuh istriku dari jarak dekat. “Gimana menurut elu?” tanyaku kepada Josua sambil tersenyum. Ia menatap Sandra beberapa detik lagi lalu menoleh ke aku dan menatapku sambil menduga-duga ada apa di balik semua ini. “Cantik banget, Kris!” ia menjawab sambil setengah tersenyum. Perlahan-lahan aku meraih kain selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya lalu menarik kain itu sehingga memperlihatkan bagian perut Sandra. Aku terus menarik selimut itu sampai ke bagian antara pusar dan bulu-bulu kemaluannya. Kini kami dapat melihat ujung daster yang dipakainya. Dengan hati-hati aku meraihnya dan mengangkat daster itu melewati tubuh Sandra yang putih mulus, melewati payudaranya yang ranum. Puting susunya yang kemerahan mulai mengeras karena angin dingin tertiup yang diakibatkan oleh pergerakan tanganku dan dasternya. Aku bergeser ke sebelah kiri untuk memberi ruang bagi Josua untuk berdiri tepat di depan payudara Sandra. Sedangkan Lilo bergerak ke sebelah kanan Josua berdiri tepat di depan wajah Sandra. Tanpa membuang waktu, Lilo membuka celananya dan mulai mengocok penisnya sementara aku menuntun tangan Josua untuk meraba buah dada istriku dengan lembut.
Melihat perbedaan kontras antara tangannya yang besar dan hitam dengan kulit Sandra yang putih saat Josua meraba-raba payudara Sandra membuatku sangat terangsang! Tangannya sangat besar, hampir-hampir menutupi seluruh payudara Sandra yang berukuran sedang. Dengan lembut Josua menjepit puting susu Sandra dengan ibu jari dan telunjuknya sehingga terdengar desahan lembut keluar dari mulut Sandra. Sementara itu, Lilo sudah melepaskan celananya dan dengan mantap mengocok penisnya yang diarahkan tepat ke wajah Sandra yang hanya terpaut beberapa senti dari mulutnya yang sedikit terbuka. Lilo menoleh ke aku saat ia meremas penisnya yang mengeluarkan cairan pelumas. Cairan itu dibiarkannya meleleh dari kepala penisnya dan menetes tepat di bibir Sandra. Pada awalnya Sandra tidak bergerak sama sekali sementara cairan itu menggenangi bibir bawahnya. Namun sensasi yang dibuat cairan itu pada bibirnya membuat Sandra menyapu cairan itu dengan lidahnya dan menelannya.

Melihat hal ini, Josua ikut melepaskan celananya. Setelah melepaskan celana jeans dan celana dalamnya, aku melihat penis yang paling gelap dan terbesar yang pernah aku lihat. Mungkin setidaknya panjangnya lebih dari 25 cm dan tebalnya lebih dari 6 cm. Membayangkan penis sebesar itu menerobos masuk ke dalam vagina Sandra yang basah membuat diriku bersemangat namun ada perasaan khawatir juga. Aku sadar kalau sampai Josua memasukkan penisnya ke dalam vagina istriku, pasti penis Josua akan memaksa mulut vaginanya meregang sampai melebihi batas normal. Dan tidak ada keraguan dalam diriku bahwa hal ini pasti akan membangunkan Sandra walau seberapa lelapnya ia tertidur saat itu.

Josua memandangku sejenak sebelum ia menunduk dan mengulum puting susu sebelah kanan Sandra sambil mengocok penisnya. Lalu ia membungkukkan badannya sehingga pinggangnya maju ke depan dan mulai menggesek-gesekkan penisnya ke payudara sebelah kiri. Setelah mengocok penisnya beberapa saat, lendir pelumas mulai keluar dari ujung penisnya. Josua mengolesi cairan itu ke seluruh bulatan payudara dan puting susu Sandra dengan cara menggesek-gesekkan kepala penis itu ke payudara kirinya. Setelah menyuruh Lilo bergeser sedikit, aku menarik turun kain selimut sampai melewati ujung kakinya. Kini kami dapat melihat bulu-bulu halus kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalam semi transparan itu. Lilo menjamah kaki Sandra lalu mengelus-elusnya dari bawah bergerak ke atas semakin mendekat ke selangkangan Sandra sambil terus mengocok penisnya.
Hal ini merebut perhatian Josua. Ia kini menonton aksi Lilo sambil terus mengolesi payudara Sandra dengan cairan pelumas yang terus keluar dari penisnya. Rabaan Lilo akhirnya mencapai bagian atas paha Sandra. Ia membelai jari-jarinya ke bibir vagina istriku yang masih dilapisi kain celana dalamnya. Setelah Lilo membelai naik dan turun ke sepanjang bibir vaginanya, pinggul Sandra mulai bergoyang maju mundur walau hanya sedikit. Dan itu merupakan pergerakan Sandra yang pertama sejak semua ini dimulai (selain gerakan menjilat bibirnya tadi). Aku semakin bersemangat. Dengan lembut aku mengangkat tubuh Sandra sehingga aku dapat melepaskan celana dalamnya, pertama ke sebelah kiri lalu ke sebelah kanan. Setelah dapat menarik celana dalamnya sampai ke setengah pahanya, segera aku menarik celana itu sampai lepas dari kakinya. Sandra kini telanjang bulat di hadapan dua pria yang sudah dikuasai nafsu birahi. Melihat istriku yang cantik terbaring tanpa mengenakan busana di hadapan Lilo dan Josua sementara mereka meraba, menggesek dan menjelajahi setiap jenjang tubuh istriku, membuatku hampir meledak. Lilo menggeser kaki kiri Sandra sehingga keluar dari sisi ranjang lalu menyelinap ke antara pahanya dan dengan jari-jarinya mulai menjelajahi vagina Sandra yang rapat. Awalnya masih dengan hati-hati, dengan menggunakan ibu jarinya, Lilo mengusap-usap bibir vagina istriku dengan wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari liang kewanitaannya.
Kemudian Lilo memegang klitoris Sandra dengan ibu jari dan telunjuknya lalu memilinnya dengan lembut. Hal ini membuat Sandra mendesah dan menggeliat-geliat sehingga membawa kakinya ke pundak Lilo. Josua sambil menggesek-gesekkan batang penisnya ke kedua payudara Sandra juga meremas-remas payudara itu, menonton aksi Lilo di antara paha Sandra. Ketika perhatianku kembali kepada Lilo, ia sudah menggantikan jari-jarinya dengan lidahnya! Dengan lembut Lilo meletakkan salah satu jarinya ke liang kewanitaannya. Ia menahannya di sana beberapa saat sampai cairan vagina Sandra membasahi jari itu. Baru setelah itu ia menusukkan jari itu dengan perlahan masuk ke dalam vagina istriku. Sandra tersengal dan kedua kakinya dikaitkan di sekeliling kepala Lilo. Tanpa putus semangat, Lilo meneruskan serangannya dengan menggunakan lidah dan jarinya pada vagina istriku.

Tidak ada pria lain mana pun yang pernah melakukan hal ini terhadap Sandra selain dari diriku. Berdiri di antara Lilo dan Josua, aku langsung melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku sementara mereka menggarap istriku. Tiba-tiba Josua berpindah posisi dan dengan perlahan menarik bahu Lilo. Lilo memandang wajah Josua sejenak lalu pandangannya turun ke penis besarnya yang terarah tepat langsung ke mulut bibir kewanitaan Sandra. Lilo mundur mengijinkan Josua mengambil tempatnya yang langsung mengolesi kepala penisnya ke sepanjang bibir vagina istriku. Aku dapat melihat cairan pelumas yang keluar dari penisnya membasahi vagina dan bulu-bulu kemaluannya.

Aku terpekur dan tidak bisa bergerak sama sekali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu bahwa Josua hendak menyetubuhi istriku dengan penis raksasanya, namun bukan hal itu yang meresahkan aku. Jauh dalam lubuk hatiku sebenarnya inilah yang aku inginkan dan yang sudah aku rencanakan. Akan tetapi aku tahu pasti bahwa Sandra akan terbangun begitu penis itu memasuki tubuhnya. Terlebih lagi aku baru menyadari bahwa diafragma (alat KB) Sandra tergeletak di atas meja. Biasanya, ia memakai diafragmanya ketika ia tahu kami berniat untuk melakukan ‘sesuatu’, bahkan jika ia pergi tidur sebelum aku tidur. Namun malam itu, aku rasa ia sudah mabuk sehingga lupa memakainya. Gambaran adegan pria berkulit gelap ini menyemprotkan air maninya ke dalam liang vagina istriku yang tidak dilindungi alat KB, memicu sesuatu dalam diriku walau sebenarnya aku INGIN melihat Josua menumpahkan spermanya ke dalam vagina Sandra. Aku sudah tidak dapat mengontrol keinginanku untuk melihat hal ini. Boleh dibilang aku memang sudah kehilangan kontrol atas situasi ini. Setelah membalur kepala penisnya dengan cairan yang keluar dari vagina Sandra, Josua menaruh kepala penis itu di depan mulut bibir vagina istriku lalu… menekannya masuk.

Dengan perlahan kepala penis itu mulai menghilang dari balik bibir vagina itu. Bibir vagina istriku meregang dengan ketat sehingga mencegah kepala penis itu masuk lebih dalam. Masih dalam keadaan terlelap, Sandra membuka mulutnya saat ia tersengal begitu merasakan sedikit rasa perih pada selangkangannya. Aku berpikir: Jika hanya kepala penisnya yang baru masuk saja sudah membuat istriku kesakitan, apa jadinya saat Josua mencoba untuk menghujamkan seluruh batang penis itu ke dalam tubuhnya? Tapi untunglah Josua bersikap lembut dalam serangan awal pada vagina Sandra. Dengan selembut mungkin dan dalam kondisinya yang sudah sangat terangsang, Josua menggoyangkan pantatnya dalam gerakan maju mundur yang pendek-pendek sehingga membuat bibir vagina istriku lebih meregang sedikit demi sedikit seiring dengan semakin mendalamnya tusukan penis itu.

Lilo kembali pindah ke depan kepala Sandra. Ia bermain-main dengan payudaranya sedang tangannya yang lain mengocok penisnya di atas wajah Sandra. Sesekali Lilo membungkuk dan dengan lembut mencium bibir istriku yang sedikit terbuka itu, menjulurkan lidahnya sedikit masuk ke dalam mulutnya sementara terus meremas-remas payudaranya sambil mengocok penisnya. Saat lidah Lilo menyentuh lidahnya, dengan gerak refleks Sandra menutup bibirnya sedikit sehingga bibirnya membungkus lidah Lilo. Dengan segera Lilo menarik wajahnya ke belakang lalu menyodorkan kepala penisnya masuk sedikit ke dalam bibir Sandra yang agak terbuka. Seperti sedang bermimpi erotis, Sandra mulai mengecup ujung kepala penis Lilo. Aku mendengar Lilo mengerang saat aku mendengar suara menyedot keluar dari bibir sandra

Perhatianku kembali kepada usaha penerobosan Josua terhadap tubuh istriku. Saat ini sudah sekitar 5 cm dari penisnya masuk ke dalam vagina Sandra dan bagian yang paling tebal dari penisnya hampir masuk ke dalamnya.
Tiba-tiba, seakan pembatas yang menghalangi penis itu masuk lebih dalam lenyap dalam sekejap, bagian penis yang paling tebal itu langsung masuk ke liang kewanitaan Sandra. Josua mulai menggenjot panggulnya dengan serius. Ia baru saja memasukkan 2/3 dari penisnya saat tiba-tiba…… SANDRA TERBANGUN!

Mula-mula kedua mata istriku melotot lalu ia tersengal dan mengeluarkan penis Lilo dari mulutnya sementara ia merasakan vaginanya meregang sampai batas maksimal. Kami bertiga diam membeku saat orientasi Sandra yang baru terbangun sedikit demi sedikit terkumpul dan pada akhirnya Sandra tersadar sepenuhnya akan apa yang sedang terjadi. Pandangannya berpindah dari penis Lilo yang menggantung di depan bibirnya lalu ke Josua yang penisnya sudah masuk ke dalam vaginanya. Tiba-tiba, yang benar-benar membuatku terkejut, Sandra melingkarkan kedua kakinya ke pantat Josua lalu menekankan tubuh Josua agar penisnya terbenam semakin dalam pada vaginanya. Sandra mengerang saat penis itu masuk 4 cm lebih dalam. Sudah sebagian besar dari batang penis itu masuk ke dalam tubuhnya dan dalam tiap hentakan, penis itu menerobos semakin dalam. Lilo menaruh kepala penisnya di bibir Sandra dan sekali lagi Sandra mulai menghisapi kepala penis itu. Namun konsentrasinya jatuh pada penis Josua yang meregang bibir vaginanya sampai batas yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap kali Sandra hendak menghisap kepala penis Lilo, Josua menancapkan penisnya lebih dalam yang membuatnya terhenti sejenak dengan desahan yang keluar dari mulutnya. Aku mulai mengocok penisku dengan lebih cepat ketika aku melihat Josua menghujamkan seluruh batang penisnya ke dalam Sandra. Bibir vaginanya ikut tertarik ke dalam seiring dengan masuknya penis itu. Dan saat Josua menarik penisnya keluar, cairan cinta Sandra terlihat membasahi batang penis itu dan bagian dalam vaginanya terlihat ikut tertarik keluar seperti saat kita menarik keluar jari-jari kita dari dalam sarung tangan. Dalam waktu singkat Sandra berorgasme dengan KUAT! Penis Lilo terlepas bebas dari mulutnya saat ia melenguh dengan kuat, “OOOOHHHHHHhhhh…..!” Seluruh tubuhnya mengejang sementara gelombang demi gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhnya dan tiap kali teriakannya semakin kencang secara orgasmenya berlanjut dan semakin menguat. Getararan-getaran dalam vagina istriku yang membungkus rapat penisnya akhirnya membuat Josua mencapai klimaksnya. Suara erangannya terdengar keluar dari dalam mulut Josua sementara ia menghujamkan penisnya dengan keras sekali lagi lalu memuntahkan cairan sperma jauh di dalam vagina Sandra. Erangan dan desahan mereka bercampur seiring dengan klimaks mereka yang akhirnya mereda juga. Cairan sperma yang terlihat seperti gumpalan besar meleleh saat Josua menarik penisnya dari dalam vagina istriku.

Dengan Sandra masih tergeletak lemas di atas ranjang, Lilo segera melompat ke antara kaki Sandra. Ia mengoles-oleskan penisnya ke vagina istriku yang basah oleh sperma Josua dan cairannya sendiri. Lalu dengan mudah Lilo memasukkan penisnya ke dalam vagina Sandra yang sudah meregang melebihi batas itu. Setelah beberapa genjotan, Lilo menarik penisnya dan mengarahkan ke lubang anus istriku. Bahkan aku pun belum pernah memasukkan penisku lewat pintu belakang. Aku menduga-duga apakah istriku akan menghentikan perbuatan Lilo.

Ternyata Sandra tidak memberikan perlawanan sedikitpun, namun demikian saat penis Lilo masuk setengahnya ke dalam liang duburnya, Sandra meringis kesakitan. Tak lama setelah itu, otot-otot duburnya mulai rileks dan Sandra mulai menggenjot pantatnya sehingga penis Lilo masuk sepenuhnya ke dalam anusnya. Josua berpindah ke dekat wajah Sandra. Ia memegang penisnya yang penuh dengan cairan sperma bercampur cairan cinta dari vaginanya di atas mulutnya. Dengan lembut Sandra membersihkan cairan itu dengan mulutnya dan sesekali memasukkan penis yang sudah melemas itu sejauh yang ia bisa ke dalam mulutnya. Walau sudah melembek, penis Josua tak kurang dari 18 cm panjangnya dan Sandra mampu menelan sampai sekitar 15 cm sementara Lilo memompa anusnya yang masih perawan. Suara erangan Lilo semakin membesar saat aku mengangkangi dada istriku dan menekan kedua payudaranya ke penisku yang sudah berdenyut-denyut. Dan aku mulai menggoyang-goyangkan pinggangku. Sandra mengeluarkan penis Josua dari mulutnya dan mulai menjilati kepala penis itu sambil memain-mainkan penis dan buah zakarnya yang licin. Baru saja aku hendak memuntahkan spermaku ke atas dada dan wajah Sandra, aku mendengar Lilo mengerang untuk yang terakhir kalinya saat ia mengosongkan muatannya ke dalam pantat istriku. Hal ini membuatku mencapai klimaks dan menyemburkan cairanku ke dada Sandra. Secepat kilat aku meyodorkan penisku masuk ke dalam mulut istriku dan ia mulai menyedot seluruh semburan sperma yang masih tersisa. Sandra terus mengulum penisku yang melembek sementara aku terkulai lemas. Aku menoleh ke belakang melihat Lilo menarik penisnya dari dalam anus istriku dengan suara yang basah, “Thllrrrpp!” Lilo yang pertama kali mengeluarkan suara, “Gilaaaaa, man! Enak beneerrrr!” Aku hanya dapat menghela nafas begitu aku terkulai di samping Sandra. Sandra tersenyum kepadaku dengan wajah nakal dan imutnya. Sambil masih bermain-main dengan penis Josua yang besar itu,

Sandra berkata dengan pelan, “Elu bener-bener penuh kejutan, yah!”
“Bukan cuma gue, tuh,” jawabku, “Kelihatannya elu juga penuh kejutan!”



Welcome In Blogging Is My Life

Contoh Sliding Login Dengan JQuery

Disamping ini adalah contoh Sliding Login menggunakan JQuery. Login Form Disamping hanya Contoh dan tidak dapat digunakan layaknya Login Form FB, Karena Blog ini terbuka untuk umum tanpa perlu mendaftar menjadi Member

Tutorial Blog

Untuk membuatnya Silahkan : Klik Disini

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!